Menggala (BIMAS HINDU) – Perempuan adalah tiang penyangga peradaban. Dari rahim, tutur kata, dan keteladanan seorang ibu, lahir tunas-tunas peradaban yang kelak akan menentukan arah masa depan suatu bangsa serta kelestarian ajaran agama. Mengusung kesadaran filosofis akan pentingnya peran luhur tersebut, jajaran Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tulang Bawang melaksanakan kegiatan pembinaan rohani kepada para ibu yang tergabung dalam organisasi Wanita Hindu Dharma Indonesia Fajar Dewata Kecamatan Menggala pada Minggu (26/07/2026).
Kegiatan rutin yang berlangsung dengan penuh kehangatan dan kekeluargaan mulai pukul 16.00 hingga 18.00 Waktu Indonesia Barat ini dipusatkan di kediaman Ibu Yuli Indah Wahyuni. Rangkaian acara yang sarat akan makna tersebut diawali dengan prosesi menghaturkan banten Pejati serta melantunkan kidung suci secara bersama-sama. Lantunan kidung yang menggema penuh khidmat ini menjadi ikhtiar nyata dalam merawat ingatan spiritual, sekaligus melestarikan seni budaya dan tradisi keagamaan Hindu di tengah arus modernisasi.
Agenda kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan Sewanam dan pembacaan sloka suci yang dipandu langsung oleh Ketua Wanita Hindu Dharma Indonesia Kecamatan Menggala, Nengah Kariati. Melalui untaian doa dan pembacaan kitab suci tersebut, seluruh peserta diajak untuk melakukan refleksi batin, menundukkan ego duniawi, dan mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa guna memperkuat fondasi spiritualitas keseharian.
Memasuki sesi pencerahan utama, Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tulang Bawang, Ni Nyoman Novikasari, memaparkan Pesan Dharma yang bertajuk "Peran Wanita Hindu sebagai Penjaga Dharma". Dalam penjabarannya, ia menegaskan bahwa wanita Hindu menduduki posisi yang amat mulia sebagai madrasah pertama dan utama di dalam ekosistem keluarga. Peran seorang ibu, terangnya, teramat jauh melampaui sekadar tugas pengasuhan jasmani, melainkan memikul tanggung jawab besar untuk menyemai benih-benih kebenaran (Dharma), etika, budi pekerti, kejujuran, kasih sayang, dan ketakwaan sedari anak usia dini.
Menyitir pesan suci abadi dari Bhagawad Gita Bab I Sloka 40, Ni Nyoman Novikasari memberikan kedalaman makna mengenai dampak krusial dari hilangnya pegangan spiritual seorang perempuan. Sloka tersebut mengingatkan bahwa apabila Adharma (kebatilan) menguasai suatu keluarga, maka kaum wanitanya akan mengalami kemerosotan moral, yang pada akhirnya akan melahirkan kekacauan tatanan dalam keluarga dan masyarakat (Varna-sankara).
"Sloka suci Bhagawad Gita ini adalah pengingat keras yang merobek kesadaran kita semua tentang betapa fundamentalnya posisi seorang perempuan di alam semesta ini. Kehancuran moral dan spiritual seorang wanita adalah lonceng awal bagi keruntuhan peradaban sebuah keluarga, yang lambat laun akan menghancurkan tatanan masyarakat secara luas. Namun sebaliknya, ketika kaum wanita tetap teguh dan kokoh memegang pilar-pilar Dharma, maka rumah tangga akan menjelma menjadi benteng pertahanan spiritual yang paling tangguh. Dari rahim dan didikan wanita yang ber-Dharma-lah, akan lahir generasi penerus yang berkarakter agung, beriman baja, dan mampu menjadi pilar pelestari ajaran suci agama kita di tengah kencangnya badai zaman," tegas Ni Nyoman Novikasari memberikan pencerahan yang menggugah sanubari seluruh peserta.
Di penghujung acara pembinaan yang berlangsung dengan lancar dan penuh antusiasme tersebut, Ni Nyoman Novikasari mengajak seluruh anggota Wanita Hindu Dharma Indonesia untuk terus merapatkan barisan, menjadi pelopor dalam membangun keluarga yang religius, harmonis, dan dipenuhi oleh welas asih.
Melalui konsistensi kegiatan pembinaan rohani ini, diharapkan para perempuan Hindu semakin mantap mengemban swadharmanya sebagai penjaga kebenaran, pelestari keluhuran budaya, sekaligus pendidik utama bagi generasi masa depan. Semangat kebersamaan ini juga diharapkan terus mengukuhkan peran organisasi Wanita Hindu Dharma Indonesia sebagai mitra strategis yang tak terpisahkan dalam upaya pembinaan dan pemberdayaan umat Hindu di Kabupaten Tulang Bawang.