Tulang Bawang (BIMAS HINDU) – Membangun bahtera rumah tangga dalam ajaran Hindu bukan sekadar menyatukan dua individu, melainkan sebuah ikhtiar suci untuk mewujudkan keluarga yang berlandaskan Dharma. Untuk membekali para calon pengantin dengan kesiapan mental dan spiritual, Rumah Bina Keluarga Sukinah (RBKS) Kabupaten Tulang Bawang menyelenggarakan kegiatan Pembinaan Pra Nikah pada Kamis (02/07/2026) di Bale Banjar Desa Adat Banjar Dewa.
Kegiatan ini dihadiri oleh Ketua RBKS Kabupaten Tulang Bawang I Made Mare, Sekretaris PHDI Kabupaten Tulang Bawang, Ketua Adat Desa Banjar Dewa, para penyuluh agama Hindu, serta empat pasang calon pengantin dari Kecamatan Banjar Agung.
Dalam pembukaannya, Ketua RBKS Kabupaten Tulang Bawang, I Made Mare, menegaskan bahwa langkah ini krusial dalam membentuk keluarga yang harmonis: "Pembinaan pra nikah merupakan langkah fundamental dalam mempersiapkan calon pasangan agar mampu membangun keluarga yang harmonis, sejahtera, dan senantiasa berlandaskan pada ajaran Dharma yang luhur."
Sinergi antara tokoh agama dan adat juga menjadi perhatian untuk memperkuat karakter peserta. Ketua Adat Desa Banjar Dewa menekankan pentingnya menjaga tradisi sebagai kompas hidup berkeluarga: "Kami mengajak para calon pengantin untuk tidak melepaskan jati diri. Jagalah adat, budaya, dan tradisi Hindu di dalam rumah tangga kalian, karena itulah yang akan menjaga keberlanjutan kehidupan keluarga di tengah arus zaman."
Dalam sesi pendalaman materi, Ketut Agustoni memaparkan hakikat Pawiwahan sebagai wujud pengabdian: "Perlu dipahami bahwa pawiwahan bukan sekadar ikatan lahir antara pria dan wanita, melainkan sebuah yadnya suci yang bertujuan membentuk keluarga yang berlandaskan Dharma serta melahirkan generasi penerus yang berbudi luhur."
Hal ini senada dengan penyampaian Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Tulang Bawang, Ni Nyoman Novikasari, mengenai tanggung jawab suami-istri:"Suami dan istri memiliki tanggung jawab yang saling melengkapi. Keduanya harus menjunjung tinggi kesetiaan, saling menghormati, serta bekerja sama menjalankan kewajiban spiritual dan sosial dalam keseharian berumah tangga."
Pada sesi akhir, I Made Mare kembali mengingatkan peran orang tua sebagai pendidik utama:"Orang tua adalah guru pertama bagi anak-anaknya. Oleh karena itu, penanaman nilai agama, moral, dan karakter yang kokoh harus sudah mulai dibang un di dalam lingkungan keluarga sejak dini."
Kegiatan ini diharapkan menjadi titik awal dari sebuah perjalanan panjang. Dengan bekal pengetahuan agama yang mumpuni serta kesiapan mental yang matang, setiap pasangan pengantin kini memiliki kompas untuk menavigasi bahtera rumah tangganya, memastikan bahwa cinta yang dibangun akan selalu bersemi dalam kedamaian dan restu Ida Sang Hyang Widhi Wasa.