Bantul (Bimas Hindu) – Semangat pelestarian lingkungan yang berpijak pada nilai-nilai keagamaan Hindu diwujudkan secara nyata melalui kegiatan Ekoteologi Green Dharma yang diselenggarakan pada Minggu (19/07/2028) bertempat di Pura Daksina Murti, Kretek, Bantul. Aksi ekologis ini ditandai dengan pelepasan burung ke alam bebas serta penanaman bibit pohon kenanga dan asoka oleh Pembimbing Masyarakat Hindu Daerah Istimewa Yogyakarta bersama jajaran staf, guru, dan penyuluh agama Hindu yang tergabung dalam Paguyuban ASN Hindu DIY Sahitya Dharma.
Kegiatan ini merupakan implementasi konkret dari salah satu program prioritas Kementerian Agama Republik Indonesia melalui program Asta Protas, yaitu penguatan ekoteologi. Program strategis ini menegaskan kembali bahwa ajaran agama memiliki peran vital dalam membangun kesadaran kolektif umat untuk senantiasa menjaga keseimbangan, keharmonisan, serta kelestarian lingkungan hidup di sekitarnya.
Pembimas Hindu DIY, Didik Widya Putra, menegaskan bahwa Aparatur Sipil Negara (ASN) Hindu berkewajiban moral untuk menjadi motor penggerak sekaligus teladan gerakan Green Dharma di tengah masyarakat. Menurutnya, nilai-nilai keagamaan tidak boleh berhenti pada tataran ritual dan praktik spiritual semata, melainkan harus dimanifestasikan dalam tindakan nyata merawat alam sebagai bagian yang tak terpisahkan dari sendi kehidupan manusia.
"ASN Hindu diharapkan mampu menjadi teladan dan pelopor Green Dharma di tengah masyarakat. Melestarikan lingkungan bukan sekadar tanggung jawab sosial atau tuntutan zaman, melainkan bagian utuh dari pelaksanaan dharma yang harus kita wujudkan secara konsisten dan berkelanjutan," ujar Didik Widya Putra.
Lebih lanjut, Didik memaparkan bahwa konsep Ekoteologi Green Dharma secara harmonis memadukan teologi (ajaran ketuhanan) dengan kesadaran ekologis. Melalui pendekatan ini, aktivitas pelestarian alam dipahami sebagai bentuk ibadah nyata serta penghormatan mendalam terhadap alam semesta sebagai sumber kehidupan.
"Green Dharma bukanlah gerakan ekologis biasa, melainkan sebuah kesadaran spiritual tertinggi bahwa merawat bumi adalah bentuk pengabdian langsung kepada Tuhan. Ketika nilai-nilai ekoteologi ini hidup di tengah masyarakat, maka keharmonisan sejati antara manusia, alam, dan Sang Pencipta akan terwujud," tambahnya.
Prinsip kelestarian ini sejalan dengan ajaran suci yang termuat dalam kitab suci Rg Veda X.90.12, yang menegaskan konsepsi teologis bahwa seluruh elemen kehidupan bersumber dari alam semesta, sehingga manusia memikul tanggung jawab suci untuk menjaga dan merawatnya dengan penuh ketulusan dan kesucian.
Melalui gerakan Green Dharma, tempat ibadah seperti Pura kini tidak hanya berfungsi sebagai pusat orientasi spiritual (vertikal), tetapi juga bertransformasi menjadi ruang edukasi ekologis (horizontal). Penanaman pohon kenanga dan asoka serta pelepasan satwa burung menjadi simbol komitmen kolektif umat Hindu untuk mewariskan lingkungan yang asri dan lestari bagi generasi masa depan. Aksi nyata Paguyuban ASN Hindu DIY Sahitya Dharma ini diharapkan dapat memperkuat kontribusi umat Hindu dalam membangun budaya ramah lingkungan yang berlandaskan nilai dharma demi mendukung terwujudnya tujuan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.