Menakar Peran Perempuan dan Swadharma Keluarga: Refleksi Aktual Ajaran Dharma dalam Menjawab Tantangan Zaman

Menakar Peran Perempuan dan Swadharma Keluarga: Refleksi Aktual Ajaran Dharma dalam Menjawab Tantangan Zaman

Sleman (Bimas Hindu) — Ruang literasi dan dialog keagamaan yang inklusif kembali dihadirkan sebagai wadah refleksi umat dalam menghadapi dinamika kehidupan modern. Melalui rekaman (tapping) program siaran "Pijar Hindu" yang digelar di Pura Sanatanagama Universitas Gadjah Mada (UGM), Jl. Podocarpus, Sleman, Rabu (20/5/2026), sejumlah isu krusial mulai dari ketahanan keluarga hingga emansipasi perempuan dikupas secara mendalam.

Kolaborasi ini dirancang sebagai langkah strategis untuk membumikan ajaran dharma agar tetap kontekstual. Fokus utamanya adalah membentuk karakter generasi muda yang adaptif terhadap perubahan sosial, namun tetap memiliki akar spiritualitas yang kokoh di tengah peradaban modern.

Dipandu secara komunikatif oleh AA Istri Tirta Rarasati, dialog interaktif ini menghadirkan perspektif komprehensif dari kalangan akademisi dan tokoh agama di Yogyakarta dengan membedah empat tema utama:

  • Swadharma Keluarga dalam Hindu yang diulas oleh Didik Widya Putra.
  • Masa Belajar yang dibahas oleh Sang Kompiang Wirawan.
  • Kebebasan Batin dalam Hindu yang dikupas oleh I Nyoman Warta.​​​​​​​
  • Peran Wanita Hindu di Masa Kini yang disoroti secara khusus oleh Ni Nyoman Trisnawati.

Dalam pemaparannya, Didik Widya Putra menekankan bahwa ketahanan sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kekuatan moral di tingkat keluarga. Menjalankan kewajiban hidup (swadharma) di dalam rumah tangga merupakan fondasi awal sebelum seseorang mampu memberikan kontribusi dan pengabdian yang lebih luas kepada masyarakat.

"Swadharma keluarga adalah fondasi utama dalam membangun kehidupan yang harmonis. Ketika kewajiban ini dijalankan dengan penuh tanggung jawab, maka keseimbangan dalam keluarga akan tercipta. Dari sanalah lahir masyarakat yang kuat secara moral dan spiritual," ujar Didik.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa seluruh gerak langkah umat, termasuk dalam dinamika sosial, bermuara pada implementasi prinsip Moksartham Jagadhita ca iti Dharma. Konsep ini mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kesuksesan duniawi dengan kematangan spiritual personal.

"Moksa kita maknai sebagai kebebasan rohani dan kedamaian batin. Sementara Jagadhita adalah kesejahteraan duniawi, kebahagiaan lahiriah, serta kemakmuran bersama. Keduanya tidak boleh dipisahkan dan harus berjalan seimbang sebagai wujud nyata dari pelaksanaan dharma," tegasnya.

Apresiasi terhadap ruang dialog ini juga disampaikan oleh Pengempon Pura Sanatanagama UGM, Sang Kompiang Wirawan. Pemilihan lingkungan kampus sebagai lokasi dialog dinilai sangat tepat untuk membangun atmosfer diskusi yang inklusif, sekaligus memperluas jangkauan syiar yang moderat dan relevan bagi generasi muda akademisi.

Melalui sinergi media dan tokoh agama ini, program siaran diharapkan tidak hanya menyajikan tuntunan yang bersifat ritualistis, tetapi juga edukatif dan transformatif. Langkah nyata ini ditargetkan mampu menumbuhkan kesadaran spiritual yang selaras dengan tanggung jawab sosial demi terciptanya kehidupan masyarakat yang harmonis.

 

#Bimas Hindu #Pembimas Hindu DIY


Berita Daerah LAINNYA