Menolak Menyerah pada Keterbatasan, 27 KK Lansia Pura Dharma Bhakti Bersiap Bangun Penyengker secara Swadaya

Kegiatan BERGEMBIRA (Bergerak Bersih-Bersih Pura) di Pura Dharma Bhakti

Banyuwangi (Bimas Hindu)– Di balik keterbatasan fisik dan finansial, sebuah potret keteguhan sraddha dan semangat gotong royong yang luar biasa terpancar dari Dusun Randuagung, Desa Kradenan, Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi. Pura Dharma Bhakti, tempat ibadah yang disungsung oleh sekitar 27 kepala keluarga (KK) yang mayoritas telah lanjut usia, mendadak riuh oleh semangat kebersamaan pada Jumat (29/5/2026).

Hari itu, pura satu mandala ini menjadi titik pusat pelaksanaan kegiatan BERGEMBIRA (Bergerak Bersih-Bersih Pura), sebuah aksi berkala yang diinisiasi oleh Pokjaluh Hindu Kabupaten Banyuwangi. Namun, lebih dari sekadar aksi resik-resik biasa, kegiatan kali ini merekam potret perjuangan umat yang menolak menyerah pada keadaan.

Kondisi bangunan Pura Dharma Bhakti saat ini tergolong memprihatinkan. Struktur bangunan yang mulai dimakan usia sempat memicu perhatian khusus Penyelenggara Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi. Sayangnya, akibat adanya efisiensi anggaran, rencana bantuan perbaikan yang sangat dinantikan oleh umat di Randuagung masih belum dapat direalisasikan.

Hingga saat ini, pura tersebut bahkan baru memiliki satu mandala, yaitu Utama Mandala. Sementara itu, area luar atau jaba pura masih tampak terbuka tanpa adanya dinding pembatas (penyengker) akibat keterbatasan dana.

Meski dihuni oleh umat yang sebagian besar sudah senja, ketiadaan bantuan pemerintah tidak membuat mereka berpangku tangan. Alih-alih mengeluh, 27 KK lansia ini justru membuktikan bahwa semangat pengabdian mereka tidak ikut menua. Melalui tekad yang bulat, umat telah bersepakat untuk melakukan swadaya mandiri demi memulai pembangunan tembok penyengker pada bulan Juli mendatang.

Semangat kemandirian itulah yang kemudian disambut hangat oleh Pokjaluh Hindu Kabupaten Banyuwangi, para Guru Agama Hindu wilayah Purwoharjo, PHDI Desa Kradenan, hingga jajaran staf Kantor Kemenag Banyuwangi. Usai memohon kerahayuan melalui persembahyangan bersama, seluruh peserta langsung membaur bersama umat lansia setempat.

Tangan-tangan senja yang legam berpadu dengan ketangkasan para penyuluh. Mereka saling bahu-membahu memangkas dahan pohon kamboja yang telanjur meninggi, mencabuti rumput liar, merapikan tanaman bunga yang tidak beraturan, hingga mengikis lumut tebal yang menempel pada dinding suci bangunan pura. Tidak ada sekat, yang ada hanyalah ketulusan untuk menjaga kesucian tempat ibadah.

"Kebersihan pura adalah cerminan kesucian hati umatnya. Merawat pura merupakan bagian dari pelayanan serta wujud nyata bhakti kita kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa," ujar Oksan, Penyelenggara Hindu.

Senada dengan hal tersebut, Haryono selaku Penyuluh Agama Hindu menegaskan bahwa menjaga kesucian pura melalui kebersihan adalah kewajiban yang harus dipikul bersama dengan penuh rasa tanggung jawab.

Aksi yang berlangsung hangat ini ditutup dengan penyerahan dua paket sembako dari Pokjaluh Hindu Kabupaten Banyuwangi kepada umat Pura Dharma Bhakti. Bantuan ini diserahkan sebagai bentuk Sewaka Dharma, wujud nyata kepedulian dan pelayanan kasih kepada sesama umat yang sedang berjuang merawat keyakinannya di tengah keterbatasan.

Melalui program BERGEMBIRA yang rutin bergeser dari satu kecamatan ke kecamatan lain setiap bulannya ini, Pokjaluh Hindu berharap getaran semangat gotong royong dan keteguhan umat Pura Dharma Bhakti Randuagung dapat menjadi inspirasi bagi umat Hindu di seluruh pelosok Kabupaten Banyuwangi. Usia boleh menua dan anggaran boleh terbatas, namun ketulusan bhakti akan selalu menemukan jalannya.


Berita Daerah LAINNYA