Lampung Tengah (Bimas Hindu) Di teras-teras rumah dan sudut warung Kampung Sangga Buana, Kecamatan Way Seputih, suasana hangat mulai terasa berbeda dalam beberapa hari terakhir. Kalender baru menunjukkan awal Juni, dan Hari Raya Galungan sesungguhnya masih menyisakan waktu sekitar dua pekan lagi. Namun, geliat menyambut hari suci itu sudah mulai riuh dalam obrolan sehari-hari.
Sambil menyapu halaman atau berkumpul setelah memetik hasil kebun, para ibu mulai sibuk berdiskusi. Ada yang menghitung estimasi harga janur yang biasanya merangkak naik menjelang hari raya, merencanakan menu jajanan untuk pengisi banten, hingga obrolan para bapak yang mulai menebak-nebak siapa saja tetangga yang akan diajak patungan membeli babi untuk tradisi Penampahan Galungan. Obrolan-obrolan kecil ini menjadi penanda awal yang tak terbantahkan: Galungan sudah di depan mata.
Bagi mata luar, ingatan tentang Hari Suci Galungan sering kali langsung tertuju pada kemegahan visualnya. Penjor-penjor indah yang menjulang tinggi melengkung ke jalanan, riuhnya tradisi menyembelih hewan (Penampahan), serta beragama banten yang tertata indah. Namun, apakah esensi dari hari suci ini hanya sebatas pada keriuhan logistik dan kemeriahan lahiriah yang kasat mata?
Di balik seluruh rencana persiapan yang mulai hangat dibicarakan tersebut, sesungguhnya tersembunyi sebuah panggilan spiritual yang mendalam. Galungan adalah momen kontemplasi agung, sebuah waktu yang disediakan bagi setiap jiwa untuk merayakan kemenangan Dharma (kebenaran) atas Adharma (ketidakbenaran). Perang sejati yang dirayakan dalam Galungan bukanlah pertempuran fisik di medan laga, melainkan pergulatan sunyi di dalam batin manusia sendiri melawan ego, keserakahan, dan kegelapan pikiran.
Maka, tanpa pemahaman spiritual yang mendalam, keriuhan obrolan persiapan dan seluruh ritual yang dirancang sejak berminggu-minggu sebelumnya terancam kehilangan jiwanya. Perayaan suci tersebut bisa menyusut menjadi sekadar rutinitas seremonial tahunan belaka. Umat dituntut untuk tidak hanya terampil dalam mempersiapkan sarana upakara, tetapi harus mampu merengkuh esensi terdalamnya yaitu menyucikan pikiran (Manacika), perkataan (Wacika), dan perbuatan (Kayika).
Kesadaran akan pentingnya memahami esensi di balik ritual inilah yang menggerakkan langkah kaki para penyuluh agama Hindu di Provinsi Lampung. Mereka menyadari bahwa di tengah riuhnya persiapan fisik, makna filosofis Galungan yang adiluhung harus tetap dijaga agar tidak memudar tergerus zaman.
Di sinilah peran vital kepenyuluhan mengambil tempat untuk menyeimbangkan persiapan jasmani dengan kesiapan rohani. Pada hari Selasa, 2 Juni 2026, bertepatan dengan Hari Suci Anggara Kasih Julungwangi, suasana khidmat menyelimuti Pura Penghayatan Kahyangan Jagat Luhur Batu Karu, Kampung Sangga Buana, Kecamatan Way Seputih, Lampung Tengah.
Setelah umat selesai melaksanakan persembahyangan bersama yang hening, mereka tidak langsung beranjak pulang tetapi dengan tertib mendengarkan pelita dharma yang dibawa oleh I Wayan Johni Artadi, Penyuluh Agama Hindu dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lampung Tengah.
Bagi Johni, memberikan pemahaman keagamaan, khususnya menjelang hari besar seperti Galungan, adalah tugas suci yang tidak boleh ditawar oleh urusan jarak geografis maupun jumlah kehadiran umat.
"Tidak memandang berapa banyak umat yang hadir, tidak memandang di Pura mana umat berkumpul, yang terpenting adalah umat harus tetap mendapatkan pelayanan, mendapatkan pengetahuan dan pemahaman terkait ajaran agama Hindu," tegas Johni. Prinsip itulah yang menjadi pegangan kokoh dirinya dan rekan-rekan penyuluh di Lampung Tengah. Di wilayah pelosok transmigrasi seperti Way Seputih, tantangan geografis dan keterbatasan fasilitas bukanlah hambatan, melainkan medan bakti untuk merawat sradha (keyakinan) dan bhakti umat.
Di hadapan umat yang berkumpul malam itu, Johni mengurai satu per satu esensi teologis dari tahapan-tahapan suci menjelang Galungan. Beliau mengajak umat untuk mengimbangi kesibukan menyusun rencana banten dan penjor dengan persiapan spiritual.
"Galungan mengajak kita kembali ke dalam diri," urai Johni hangat. "Kita diajak untuk menjaga keharmonisan hubungan dengan sesama manusia (Pawongan), menjaga kelestarian alam lingkungan sekitar (Palemahan), serta meningkatkan ketulusan bakti kepada Sang Pencipta (Parahyangan). Segala bentuk yadnya atau persembahan yang kita haturkan saat Galungan nanti harus didasari oleh ketulusan yang murni, bukan gengsi sosial."
Dengan bekal pemahaman yang jernih, diharapkan perayaan Galungan dan Kuningan tahun 2026 di Lampung Tengah tidak hanya melahirkan penjor-penjor baru yang indah di jalanan dua minggu lagi, melainkan juga melahirkan pribadi-pribadi baru yang penuh kasih, toleran, dan siap mengimplementasikan nilai-nilai Dharma demi kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.