Menapak Jejak Leluhur di Tanah Kutai: Cerita Kolaborasi Pasraman Kilat di Kalimantan Timur

kegiatan Pasraman Kilat kolaborasi hangat antara Pasraman Saraswati dari Kota Balikpapan dan Pasraman Teratai dari Tenggarong.

Tenggarong (Bimas Hindu) – Suasana di Wantilan Pura Payogan Agung Kutai, Tenggarong, tampak berbeda dari biasanya pada Minggu (10/5/2026). Keceriaan terpancar dari wajah puluhan anak-anak dan remaja yang berkumpul dalam balutan busana adat. Mereka bukan sekadar datang untuk bersembahyang, melainkan untuk merajut persaudaraan dalam kegiatan Pasraman Kilat, sebuah kolaborasi hangat antara Pasraman Saraswati dari Kota Balikpapan dan Pasraman Teratai dari Tenggarong.

Sebanyak 61 peserta, mulai dari tingkat SD hingga SMA, melebur dalam satu semangat yang sama yaitu mengenali jati diri dan akar sejarah mereka di tanah tertua peradaban Hindu di Indonesia.

Ketua Panitia Pelaksana, Made Yuning Nurhaeni, menjelaskan bahwa inti dari kegiatan ini adalah keakraban. "Kami ingin siswa dari Balikpapan dan Tenggarong tidak hanya saling kenal nama, tapi benar-benar merasa sebagai saudara. Melalui Dharma Yatra ke Pura Payogan Agung dan Museum Mulawarman, kami mengajak mereka menyentuh langsung sejarah leluhur mereka," ungkap Yuning Nurhaeni.

Pertemuan ini menjadi momen penting bagi 34 siswa asal Balikpapan dan 27 siswa asal Tenggarong untuk bertukar cerita dan pengalaman, melampaui batas geografis kota tempat mereka tinggal.

Pembimas Hindu Kanwil Kemenag Kaltim, Semuel, S.Ag., yang hadir langsung membuka kegiatan, memilih pendekatan sosok orang tua yang membimbing anak-anaknya. Alih-alih memberikan pidato birokratis, ia menekankan pentingnya komunikasi dan keberlanjutan masa depan umat.

"Kolaborasi ini membuat kalian lebih komunikatif. Belajarlah untuk saling terbuka dan bekerja sama," pesan Semuel di hadapan para siswa.

Ia juga menyelipkan pesan visioner bagi para siswa SMA yang akan segera lulus. Semuel mendorong mereka untuk tidak ragu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, khususnya di Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAH) yang tersebar di Indonesia. Harapannya sederhana namun mendalam: agar kelak mereka kembali ke daerah masing-masing dengan bekal ilmu yang mumpuni untuk menjaga pelita Dharma tetap menyala di Kalimantan Timur.

Kegiatan Pasraman Kilat ini ditutup dengan harapan besar agar para generasi muda Hindu tidak hanya paham sejarah di atas kertas, tetapi mampu mengimplementasikan nilai-nilai Dharma dalam perilaku sehari-hari. Di tanah Kutai yang penuh sejarah, anak-anak ini telah memulai langkah kecil mereka. Bukan sekadar belajar agama secara teori, tapi menghidupkan kembali semangat leluhur melalui kebersamaan, rasa ingin tahu, dan tekad untuk terus belajar.


Berita Daerah LAINNYA