Tumbang Tarusan (BIMAS HINDU) — Kepala Bidang Bimbingan Masyarakat Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Tengah, I Made Adnyana menekankan pentingnya peran aktif pengurus rumah ibadah Hindu dalam mendukung Penguatan Ekoteologi Kementerian Agama. Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri Perayaan Dharma Santi Nyepi Tahun Saka 1948 dan HUT Integrasi Kaharingan-Hindu ke-46 tingkat Kecamatan Banama Tingang yang berlangsung di Balai Basarah Pandehen, Desa Tumbang Tarusan, Kecamatan Banama Tingang, Kabupaten Pulang Pisau, Minggu (10/05/2026).
Kegiatan Perayaan Dharma Santi Nyepi Tahun Saka 1948 dan HUT Integrasi Kaharingan-Hindu ke-46 tersebut turut dihadiri Plt. Kadis DP3AP2KB Pulang Pisau, Camat Banama Tingang, Ketua MB-AHK Pusat Palangka Raya, Ketua WHDI Kalimantan Tengah, perwakilan Damang, serta umat Hindu di wilayah Desa Tumbang Tarusan dan sekitarnya.
Dalam sambutannya, Made Adnyana menyampaikan bahwa pengurus rumah ibadah memiliki peran strategis dalam mendukung Program Asta Protas Kementerian Agama, khususnya pada aspek Penguatan Ekoteologi. Ia mengajak seluruh komponen umat Hindu untuk bersama-sama menciptakan rumah ibadah yang bersih, asri, dan hijau sebagai bentuk implementasi nilai keagamaan sekaligus kepedulian terhadap lingkungan.
“Selain karena ini merupakan bagian dari Asta Protas Kementerian Agama, Penguatan Ekoteologi juga sejalan dengan ajaran agama kita yang mengajarkan keharmonisan hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam sebagaimana tertuang dalam ajaran Tri Hita Karana,” ujar Made.
Ia menjelaskan bahwa Penguatan Ekoteologi dapat diwujudkan melalui berbagai langkah sederhana namun berdampak besar, seperti menanam pohon, bunga, tanaman upakara, hingga pelepasliaran satwa. Menurutnya, penanaman tanaman yang berkaitan dengan sarana upacara keagamaan juga menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan kebutuhan ritual umat di masa mendatang.
“Ke depan kita tidak lagi kesulitan mencari sarana upacara apabila sejak sekarang kita mulai menanam pohon pinang, sirih, kelapa, maupun bunga yang digunakan dalam ritual keagamaan,” tambahnya.
Made juga menegaskan bahwa mewujudkan rumah ibadah yang bersih dan hijau tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri. Diperlukan kolaborasi dan dukungan seluruh elemen masyarakat agar program Penguatan Ekoteologi dapat berjalan secara berkelanjutan.
“Mari bersama-sama menjaga dan merawat Balai Basarah agar tetap bersih, hijau, dan nyaman sebagai pusat kegiatan spiritual umat,” tutupnya.
Melalui momentum Dharma Santi Nyepi dan HUT Integrasi Kaharingan-Hindu ke-46 ini, diharapkan semangat Penguatan Ekoteologi dapat terus tumbuh dan menjadi gerakan bersama di lingkungan rumah ibadah Hindu. Dengan kolaborasi seluruh elemen umat, rumah ibadah tidak hanya menjadi pusat spiritual, tetapi juga simbol kepedulian terhadap kelestarian alam dan keharmonisan kehidupan sesuai nilai-nilai Tri Hita Karana.