Tulang Bawang Barat (Bimas Hindu) – Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tulang Bawang Barat terus memperkuat pembinaan keagamaan melalui pendekatan langsung kepada masyarakat. Dengan mendatangi aktivitas keagamaan dan kehidupan sosial umat di Tiyuh Gunung Menanti, Kecamatan Tumijajar, Selasa (21/7/2026), penyuluh mengajak masyarakat merefleksikan penerapan ajaran Hindu dalam kehidupan sehari-hari.
Pembinaan yang dipandu Penyuluh Agama Hindu, Eko Sriwulan, mengedepankan metode dialog yang santai dan terbuka. Melalui kunjungan ke rumah-rumah warga maupun kelompok binaan, penyuluh membangun komunikasi yang lebih dekat untuk memahami kondisi masyarakat sekaligus memberikan pendampingan sesuai kebutuhan.
Menurut Eko Sriwulan, efektivitas pembinaan tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang dilaksanakan, tetapi juga dari perubahan sikap dan perilaku umat dalam menjalankan nilai-nilai agama di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
"Kehadiran penyuluh bukan sekadar menyampaikan materi keagamaan, tetapi juga mendengarkan, memahami, dan memberikan pendampingan terhadap berbagai persoalan yang dihadapi umat. Dengan begitu, pembinaan menjadi lebih tepat sasaran dan benar-benar dirasakan manfaatnya," ujarnya.
Dalam pembinaan tersebut, umat diajak menguatkan pemahaman tentang pentingnya berpikir, berkata, dan berbuat baik sebagai implementasi ajaran Dharma. Penyuluh juga memberikan ruang dialog agar masyarakat dapat menyampaikan persoalan yang dihadapi, baik berkaitan dengan kehidupan beragama, pembinaan keluarga, pendidikan karakter anak, maupun persoalan sosial lainnya.
Salah seorang warga, Erna Wati, mengaku memperoleh pemahaman baru mengenai makna yadnya yang tidak selalu identik dengan pelaksanaan upacara yang besar dan mahal.
"Penyuluh mengingatkan kami bahwa yadnya tidak harus mewah atau mahal. Yang terpenting adalah ketulusan hati atau Satwika Yadnya. Penjelasan itu membuat kami lebih tenang karena tidak lagi terbebani oleh anggapan bahwa beribadah harus mengeluarkan biaya besar," katanya.
Senada dengan itu, Poniyem (74), warga lainnya, mengaku pembinaan yang diterimanya memberikan ketenangan batin, terutama setelah kembali diingatkan mengenai ajaran Karma Phala.
"Bagi orang tua seperti saya, pembinaan ini seperti penyejuk hati. Dulu saya sering khawatir memikirkan masa depan anak dan cucu. Setelah diingatkan kembali tentang ajaran Karma Phala, hati saya menjadi lebih tenang. Sekarang saya ingin lebih banyak berdoa, berbakti di pura semampunya, dan menjaga pikiran tetap bersih," tuturnya.
Kunjungan langsung seperti ini juga menjadi sarana bagi penyuluh untuk memetakan kebutuhan pembinaan umat secara lebih akurat. Masukan dan persoalan yang disampaikan masyarakat akan menjadi bahan dalam menyusun program pembinaan berikutnya, sehingga materi yang diberikan semakin relevan dengan kondisi dan kebutuhan umat di tingkat akar rumput.