Tulang Bawang Barat (Bimas Hindu) — Hindu mengajarkan keluwesan dalam menjalankan tradisi melalui prinsip Desa Kala Patra, yakni menyesuaikan pelaksanaan ajaran dengan tempat, waktu, dan keadaan. Nilai itu tampak dalam rangkaian penutupan Hari Suci Galungan di Tiyuh Murnijaya, Kecamatan Tumijajar, Kabupaten Tulang Bawang Barat. Saat di Bali prosesi Pralina Penjor dilaksanakan pada Buda Kliwon Pahang (22 Juli 2026), umat Hindu di daerah ini telah lebih dahulu melaksanakannya sejak Selasa (21/7/2026) malam, tanpa mengurangi makna dan kesakralan upacara.
Prosesi tersebut dilaksanakan di Pura Dharma Putra dalam rangkaian persembahyangan rutin umat Hindu yang berlangsung khidmat. Kegiatan diawali dengan persiapan sarana upakara, dilanjutkan persembahyangan bersama, kemudian prosesi Pralina Penjor sebagai penutup rangkaian Hari Suci Galungan. Kehadiran Ketua PHDI Kecamatan bersama umat semakin menambah kekhidmatan pelaksanaan yadnya tersebut.
Pralina Penjor merupakan prosesi sakral yang mengandung makna mengembalikan unsur-unsur alam yang telah digunakan sebagai sarana persembahan kepada asalnya dengan penuh rasa hormat. Pelaksanaan yang berbeda dengan tradisi di Bali menjadi gambaran bahwa umat Hindu di berbagai daerah memiliki ruang untuk menyesuaikan tata pelaksanaan upacara sesuai prinsip Desa Kala Patra, tanpa mengubah nilai dan tujuan spiritualnya. Tradisi ini tetap mengajarkan pentingnya menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sesama manusia, dan alam semesta sebagaimana ajaran Tri Hita Karana.
Ketua PHDI Kecamatan mengatakan, Pralina Penjor menjadi momentum untuk memperkuat rasa syukur sekaligus meningkatkan kualitas sradha dan bhakti umat Hindu. Menurutnya, tradisi tersebut juga menjadi sarana mempererat kebersamaan dan menjaga warisan luhur yang telah diwariskan oleh para leluhur.
"Pralina Penjor mengajarkan kita tentang rasa syukur, ketulusan, dan kesadaran bahwa segala sesuatu berasal dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan pada akhirnya kembali kepada-Nya. Melalui persembahyangan rutin ini, kami berharap umat semakin meningkatkan sradha dan bhakti, menjaga kebersamaan, serta terus melestarikan tradisi Hindu sebagai warisan luhur yang harus dijaga oleh generasi penerus," ujar Ketua PHDI Kecamatan.
Ketua PHDI Kecamatan juga mengajak seluruh umat Hindu untuk terus aktif mengikuti kegiatan keagamaan di pura sebagai wadah memperdalam pemahaman ajaran agama, mempererat tali persaudaraan, dan membangun kehidupan bermasyarakat yang harmonis. Melalui kegiatan tersebut diharapkan nilai-nilai spiritual, kebersamaan, dan kepedulian sosial semakin tumbuh di tengah umat sehingga semangat Hari Suci Galungan terus diwujudkan dalam pengamalan Dharma di kehidupan sehari-hari.
Kegiatan diakhiri dengan doa bersama memohon keselamatan, kesehatan, kedamaian, dan kesejahteraan bagi seluruh umat Hindu, khususnya di Tiyuh Murnijaya, Kecamatan Tumijajar, Kabupaten Tulang Bawang Barat. Pelaksanaan Pralina Penjor yang lebih awal dibandingkan tradisi di Bali menjadi cerminan bahwa keragaman tata pelaksanaan dalam Hindu tetap berpijak pada tujuan yang sama, yakni memuliakan Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta menjaga kelestarian nilai-nilai Dharma sesuai dengan prinsip Desa Kala Patra.