Banyuwangi (Bimas Hindu) - Pelaksanaan Upacara Pujawali yang dirangkaikan dengan perayaan Tumpek Landep di Pura Sandya Dharma, Desa Selorejo, Kecamatan Genteng, Kabupaten Banyuwangi, berlangsung khidmat pada Sabtu (18/4/2026). Kegiatan ini tidak hanya sarat makna religius, tetapi juga menghadirkan pesan kebangsaan tentang pentingnya toleransi dan persatuan di tengah keberagaman masyarakat.
Upacara keagamaan tersebut dihadiri oleh berbagai unsur, mulai dari Penyelenggara Hindu Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, jajaran penyuluh dan staf, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Banyuwangi, Badan Penyiaran Hindu, PHDI kecamatan se-Wilayah Raung, Forum Pimpinan Desa, para guru Pendidikan Agama Hindu, hingga organisasi kepemudaan Peradah. Sinergi lintas elemen ini memperlihatkan kuatnya dukungan terhadap kehidupan beragama yang inklusif dan berkelanjutan.
Rangkaian Pujawali ini merupakan wujud bhakti umat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang dipadukan dengan peringatan Tumpek Landep, sebagai momentum penyucian diri dan penguatan ketajaman pikiran. Pelaksanaan kegiatan berjalan tertib dan penuh kekhidmatan, mencerminkan kedalaman spiritual serta kebersamaan umat Hindu di wilayah tersebut.

Sesepuh Pura Sandya Dharma, Made Kawit, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi. Ia menekankan bahwa keberhasilan kegiatan ini tidak terlepas dari dukungan lintas umat beragama, termasuk partisipasi masyarakat Muslim setempat. Bantuan yang diberikan, baik dalam bentuk doa, tenaga, maupun punia, dinilai sebagai wujud nyata toleransi yang hidup dan tumbuh secara harmonis di tengah masyarakat.
Kepala Desa Kaligondo turut menyampaikan kebanggaannya atas terselenggaranya upacara tersebut. Ia menilai, meskipun jumlah umat Hindu di wilayahnya relatif terbatas, sekitar 34 kepala keluarga, namun mampu melaksanakan upacara dengan tertib, khidmat, dan penuh makna. Kegiatan ini dinilai tidak hanya sebagai bagian dari tradisi keagamaan, tetapi juga sebagai sarana memperkuat nilai kebersamaan dan kerukunan antarumat beragama.
Ketua PHDI Kabupaten Banyuwangi, Sardiyanto, menyampaikan dukungan penuh terhadap kegiatan keagamaan umat Hindu. Ia mengapresiasi semangat dan dedikasi umat di Pura Sandya Dharma yang mampu menjaga kualitas pelaksanaan upacara. Pura tersebut diharapkan dapat terus berkembang sebagai pusat pembinaan umat dan penguatan peran generasi muda dalam kehidupan keagamaan.
.jpeg)
Dalam Dharma Wacana, Penyelenggara Hindu Oksan Wibowo memberikan penguatan spiritual kepada umat. Ia menegaskan bahwa pelaksanaan yadnya merupakan implementasi ajaran Hindu yang berlandaskan pada Tri Kerangka Dasar, yakni tattwa, susila, dan upacara. Menurutnya, pengorbanan yang tulus, baik secara material maupun nonmaterial, menjadi inti dari setiap pelaksanaan yadnya.
Ia juga menekankan pentingnya semangat kebersamaan sebagai kekuatan utama umat dalam menyelenggarakan kegiatan keagamaan. Komitmen untuk terus menjaga sraddha dan bhakti perlu dipelihara, tidak hanya saat upacara berlangsung, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Pura dipandang sebagai pusat spiritual sekaligus simbol persatuan, kekeluargaan, dan moderasi beragama yang memberikan kontribusi positif bagi lingkungan.
Rangkaian kegiatan semakin semarak dengan penampilan kesenian Mustika Raung yang menghadirkan nuansa budaya lokal dalam balutan religiusitas, sehingga suasana tetap hidup tanpa meninggalkan kekhidmatan.
Lebih dari sekadar perayaan keagamaan, Pujawali dan Tumpek Landep di Banyuwangi menjadi ruang penerapan nilai-nilai luhur yang menguatkan kehidupan spiritual dan sosial umat. Ketulusan, pengorbanan, dan kebersamaan yang terbangun dalam setiap rangkaian kegiatan mencerminkan praktik nyata ajaran Dharma dalam kehidupan sehari-hari. Dari proses yang dijalani dengan penuh kesungguhan tersebut, tergambar bahwa harmoni tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari komitmen untuk saling menghormati, menjaga, dan memperkuat persatuan dalam keberagaman.