Purnama Karo di Prambanan Tunjukkan Tradisi Hindu yang Tetap Hidup di Tengah Arus Wisata

Umat Hindu melaksanakan persembahyangan Hari Suci Purnama Karo di Candi Prambanan, disaksikan wisatawan yang mengunjungi kawasan cagar budaya sebagai wujud tradisi Hindu yang tetap hidup.

Prambanan (Bimas Hindu) Di tengah ramainya wisatawan yang menikmati kemegahan Candi Prambanan, suasana berbeda hadir pada peringatan Hari Suci Purnama Karo, Rabu (29/7/2026). Di kawasan cagar budaya tersebut, umat Hindu melaksanakan persembahyangan dengan khidmat, menghadirkan pengalaman yang memperlihatkan bahwa tradisi Hindu bukan sekadar bagian dari sejarah, melainkan praktik keagamaan yang terus hidup dan dijalankan hingga kini.

Persembahyangan Purnama Karo menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berada di kompleks candi. Mereka tidak hanya menikmati keindahan arsitektur warisan budaya dunia, tetapi juga menyaksikan secara langsung pelaksanaan ritual keagamaan yang berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Momen ini menjadi ruang edukasi budaya yang memperkenalkan kehidupan spiritual umat Hindu secara nyata kepada masyarakat luas.

Pada pelaksanaan Purnama Karo kali ini, PHDI Kabupaten Boyolali mendapat kepercayaan sebagai pelaksana persembahyangan sesuai jadwal pelayanan umat Hindu di Candi Prambanan. Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Boyolali turut mendampingi pelaksanaan ibadah sebagai bagian dari komitmen Kementerian Agama dalam memberikan pembinaan dan pelayanan keagamaan kepada umat Hindu.

Pelaksanaan persembahyangan Hari Suci Purnama dan Tilem di Candi Prambanan dilaksanakan secara bergiliran oleh PHDI Provinsi Jawa Tengah, STHAN Jawa Dwipa Klaten, serta PHDI kabupaten dan kota di wilayah Solo Raya dan sekitarnya. Pola tersebut mencerminkan semangat kebersamaan umat Hindu dalam menjaga kesinambungan tradisi keagamaan sekaligus merawat fungsi spiritual kawasan Candi Prambanan.

Dalam Dharma Wacana, Ketua PHDI Kabupaten Boyolali, Triyatmono, mengapresiasi partisipasi umat Hindu Boyolali yang bersama-sama menyukseskan pelaksanaan Purnama Karo. Triyatmono mengajak umat menjadikan Purnama sebagai momentum untuk membersihkan hati dan pikiran serta meningkatkan kualitas kehidupan spiritual.

"Terima kasih kami sampaikan kepada seluruh umat Hindu, terkhusus umat Hindu Boyolali yang kali ini hadir untuk bersama-sama nyengkuyung pelaksanaan persembahyangan Hari Suci Purnama. Mari jadikan Purnama ini menjadi momentum kita dalam membersihkan hati dan pikiran," ujar Triyatmono.

Pesan tersebut menegaskan bahwa makna Purnama tidak berhenti pada pelaksanaan ritual keagamaan, tetapi juga menjadi saat yang tepat untuk melakukan introspeksi, memperbaiki diri, dan memperkuat nilai-nilai dharma dalam kehidupan sehari-hari.

Di tengah aktivitas wisata yang terus berlangsung, persembahyangan tetap berjalan dengan tertib dan penuh khidmat. Kehadiran wisatawan yang menyaksikan prosesi ibadah menunjukkan bahwa Candi Prambanan tidak hanya berfungsi sebagai destinasi wisata dan peninggalan sejarah, tetapi juga menjadi ruang hidup bagi tradisi Hindu yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Interaksi tersebut menghadirkan pengalaman edukatif yang memperkenalkan wajah Hindu Indonesia secara autentik kepada masyarakat dan pengunjung dari berbagai daerah.

Melalui peringatan Hari Suci Purnama Karo, umat Hindu kembali menunjukkan bahwa pelestarian warisan budaya tidak hanya diwujudkan dengan menjaga bangunan bersejarah, tetapi juga dengan merawat nilai-nilai spiritual yang menjadi ruh dari warisan tersebut. Di Prambanan, sejarah, budaya, dan kehidupan beragama berpadu menjadi satu kesatuan yang terus hidup di tengah arus wisata.


Berita Daerah LAINNYA