Pangkalpinang (Bimas Hindu) – Keterbatasan jumlah peserta tidak menjadi penghalang bagi Penyuluh Agama Hindu Kanwil Kemenag Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk memberikan pembinaan keagamaan. Gusti Ayu Komang Triana Pratiwi, S.Pd., kembali melaksanakan pembinaan bagi siswa Hindu di SMK Negeri 3 Pangkalpinang, Selasa (11/8/2026).
Pembinaan yang diikuti satu siswa Hindu tersebut mengangkat tema “Memahami Weda sebagai Tuntunan Hidup”. Kegiatan menjadi bagian dari pendampingan keagamaan bagi peserta didik Hindu di sekolah yang belum memiliki guru mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti.
Dalam pembinaan, Gusti Ayu Komang Triana Pratiwi mengajak siswa memahami Weda tidak sebatas sebagai kitab suci yang dipelajari secara teoritis, tetapi sebagai sumber ajaran yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai Dharma, menurutnya, perlu hadir dalam cara berpikir, berbicara, mengambil keputusan, dan bertindak.
“Memahami Weda bukan hanya tentang mengetahui isi ajarannya, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat menjadi tuntunan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai generasi muda Hindu, kita perlu menjadikan ajaran Weda sebagai pedoman untuk membentuk karakter yang baik, mampu membedakan perbuatan yang patut dan tidak patut, serta senantiasa memilih jalan Dharma dalam setiap tindakan,” ujar Gusti Ayu Komang Komang Triana Pratiwi.
Materi pembinaan diperkuat dengan ajaran Bhagavad Gītā XVI.24 yang menempatkan śāstra sebagai pedoman dalam menentukan perbuatan yang patut dilakukan maupun yang harus dihindari. Ajaran tersebut dikaitkan dengan kehidupan pelajar, antara lain melalui sikap disiplin, kejujuran, tanggung jawab, menghormati orang tua dan guru, menjaga pergaulan, serta menggunakan pengetahuan untuk hal-hal yang positif.
Pendekatan tersebut membuat pembahasan tidak berhenti pada pemahaman teks keagamaan. Siswa diajak melihat hubungan antara ajaran yang dipelajari dengan persoalan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah, keluarga maupun pergaulan.
Penyuluh juga menekankan bahwa pembentukan karakter menjadi bagian penting dari proses belajar agama. Kemampuan memahami ajaran perlu berjalan bersama dengan pengamalannya dalam kehidupan nyata.
“Anak-anak Hindu perlu memahami bahwa menjadi generasi muda yang beragama bukan hanya ditunjukkan melalui kemampuan menghafal sloka atau mengetahui berbagai ajaran agama, tetapi juga melalui perilaku nyata,” katanya.
Pembinaan berlangsung secara interaktif melalui penyampaian materi dan dialog. Meskipun hanya diikuti seorang siswa, kegiatan tetap dilaksanakan sebagai bagian dari pelayanan keagamaan yang berkelanjutan bagi peserta didik Hindu.
Kondisi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa layanan pembinaan keagamaan tetap diberikan berdasarkan kebutuhan peserta didik. Jumlah siswa yang terbatas tidak mengurangi ruang bagi mereka untuk memperoleh pendampingan dalam memahami dan mengamalkan ajaran agama Hindu.
Melalui pembinaan tersebut, pemahaman Weda diarahkan menjadi bagian dari proses pembentukan karakter siswa. Nilai Dharma diharapkan tidak hanya dipahami sebagai pengetahuan keagamaan, tetapi tercermin dalam sikap dan perilaku sehari-hari sebagai bekal menjalani kehidupan di tengah keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Kontributor : I Made Juni Saputra