Mataram (BIMAS HINDU) — Langit Lombok pagi itu tak hanya biru, tapi juga penuh doa. Ratusan burung terbang bebas dari tangan umat Hindu, ikan-ikan meluncur ke aliran sungai yang jernih, dan bibit pohon ditanam di tanah yang subur. Semua menjadi satu rangkaian ritual suci yang sarat makna dalam tajuk aksi: “Kembali ke Alam” (11/05).
Aksi nyata yang diinisiasi oleh jajaran Bimbingan Masyarakat (Bimas) Hindu Kanwil Kemenag Provinsi NTB ini mengusung semangat pembinaan mental dan spiritual. Kegiatan diawali dengan persembahyangan bersama yang dirangkaikan langsung dengan aksi pelestarian lingkungan sebagai bentuk penguatan moderasi beragama dan implementasi program Bimas Asrofas Pemilu yang menekankan keharmonisan.
“Ini bukan sekadar seremonial. Ini adalah pesan bahwa agama Hindu mengajarkan Tri Hita Karana: hubungan harmonis dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta,” ujar Kabid Urusan Agama Hindu Kanwil Kemenag NTB di sela-sela kegiatan.
Aksi “Kembali ke Alam” ini menitikberatkan pada tiga simbolisme utama yang mendalam:
1. Pelepasan Burung: Simbol Udara, Pesan untuk Tetap Membumi; Burung dilepasliarkan sebagai lambang unsur udara. Filosofinya mengajarkan bahwa setinggi apa pun burung terbang menjangkau angkasa, ia tak pernah lupa pada daratan tempatnya berpijak dan kembali. “Ini pengingat, setinggi apa pun jabatan dan keberhasilan hidup, jangan lupa pada akar dan asal usul. Tetaplah membumi,” tutur salah satu pemangku pemimpin doa.
2. Pelepasan Ikan: Penghormatan pada Tirta, Sumber Kehidupan; Puluhan ikan lokal dilepas ke sungai sebagai bentuk bakti pada elemen air (tirta). Dalam ajaran Hindu, tirta adalah penyuci lahir batin. Melepas ikan berarti menjaga siklus kehidupan dan memastikan kelestarian sumber air bagi generasi mendatang.
3. Penanaman Pohon: Investasi Oksigen untuk Masa Depan; Penanaman bibit pohon produktif menjadi upaya nyata mendukung "paru-paru dunia". Pohon yang ditanam dimaknai sebagai doa agar anak cucu kelak masih bisa menghirup udara segar dan hidup dari alam yang lestari.
Semangat ramah lingkungan ini juga diwujudkan secara konkret melalui penyajian hidangan tanpa plastik, melainkan menggunakan daun pisang dan anyaman bambu. Hal ini selaras dengan edukasi kepada umat bahwa inti dari yadnya (pengorbanan suci) bukanlah kemegahan fisik atau mewahnya banten, melainkan ketulusan hati dan keikhlasan.
“Inti dari aksi ini adalah mengajak kita bersatu dengan alam. Tidak hanya mencintai sesama manusia tanpa memandang suku dan agama, tetapi juga mencintai hewan, tumbuhan, dan seluruh semesta. Inilah wujud nyata moderasi beragama,” tambah perwakilan Bimas Hindu.
Konsep Vasudhaiva Kutumbakam - Seluruh Dunia/Bumi adalah Satu Keluarga, benar-benar dihidupkan dalam kegiatan ini. Selain agenda lingkungan, momen ini juga diisi dengan pemberian penghargaan kepada pegawai purna bakti atas dedikasi dan dharma mereka selama bertugas.
Kegiatan ditutup dengan persembahyangan bersama dan pesan kuat untuk terus bahu-membahu membangun bangsa dalam bingkai kasih sayang. Melalui aksi ini, Bimas Hindu NTB memberikan teladan bahwa menjaga alam adalah bagian dari bakti, dan mencintai sesama makhluk adalah jalan menuju keharmonisan sejati.
Tri Hita Karana, Jagadhita. Dari NTB untuk Indonesia yang harmonis dan lestari.