Dari Besakih untuk Semesta: Makna Pengorbanan Suci dalam Tawur Agung Kesanga

Karangasem (BIMAS HINDU) — Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama RI menghadiri pelaksanaan upacara Tawur Agung Kesanga yang dirangkaikan dalam rangkaian Tawur Tabuh Gentuh lan Karya Ida Bhatara Turun Kabeh di Pura Agung Besakih, Rabu (18/03/2026).

Kehadiran Dirjen Bimas Hindu diwakili oleh Sekretaris Ditjen Bimas Hindu, Dr. Ida Made Pidada Manuaba, S.Ag., M.Si., yang turut muspayang bersama para pemangku kepentingan dan umat Hindu yang memadati Bencingah Agung.

Upacara sakral ini juga dihadiri oleh Gubernur Bali, Sekretaris Daerah Provinsi Bali, Bupati dan Wakil Bupati Karangasem, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Karangasem, serta jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Bali.

Dalam kesempatan tersebut, Sekretaris Ditjen Bimas Hindu menyampaikan bahwa pelaksanaan Tawur Agung Kesanga merupakan bagian penting dalam menjaga keseimbangan alam semesta, sekaligus menjadi momentum spiritual menjelang Hari Suci Nyepi.

Sejak pagi hari, kawasan Pura Agung Besakih telah dipadati oleh umat yang datang dengan penuh bhakti. Prosesi upacara berlangsung dengan tertib dan sakral, diawali dengan rangkaian persembahan upakara, diiringi lantunan mantra suci oleh para sulinggih, serta tabuhan gamelan Bali yang menambah suasana religius dan penuh kekhusyukan.

Pelaksanaan Tawur Tabuh Gentuh ini sendiri merupakan salah satu tahapan penting dalam rangkaian besar Karya Ida Bhatara Turun Kabeh, sebagaimana tertuang dalam undangan panitia yang menetapkan bahwa upacara Tawur dilaksanakan pada Buda Wage Kelawu, Tilem Sasih Kesanga, sebagai bagian dari upaya penyucian jagat secara menyeluruh .

Rangkaian karya di Pura Agung Besakih ini akan berlanjut hingga puncak karya pada Purnama Sasih Kedasa, yang dijadwalkan berlangsung pada 2 April 2026, sebelum akhirnya ditutup dengan upacara penyineban pada 23 April 2026 .

Kehadiran berbagai unsur pemerintah pusat dan daerah dalam upacara ini mencerminkan sinergi yang kuat antara negara dan umat dalam menjaga, melestarikan, serta menguatkan praktik keagamaan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Hindu di Bali.

Lebih dari sekadar ritual, Tawur Agung Kesanga mengandung makna filosofis yang mendalam sebagai pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, serta manusia dengan alam lingkungannya. Nilai-nilai ini sejalan dengan ajaran Tri Hita Karana yang menjadi landasan hidup masyarakat Hindu.

Melalui pelaksanaan upacara ini, diharapkan seluruh umat dapat memasuki rangkaian Hari Suci Nyepi dengan hati yang bersih, pikiran yang jernih, serta tekad untuk terus menjaga keharmonisan dalam kehidupan sehari-hari. Tawur Agung Kesanga pun menjadi simbol pengendalian diri dan penyucian, sebagai awal dari perenungan mendalam dalam menyambut Tahun Baru Saka.

Suasana khidmat yang menyelimuti pelaksanaan upacara di Besakih hari ini menjadi cerminan kuatnya sradha dan bhakti umat Hindu, sekaligus menegaskan bahwa warisan spiritual leluhur tetap hidup dan lestari di tengah dinamika zaman.


Berita Pusat LAINNYA