Jakarta (Bimas Hindu) - Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama RI menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Pemuliaan dan Optimalisasi Penatalaksanaan Candi Siva Prambanan dalam Perspektif Agama, Budaya, Sosial Ekonomi serta Suksesi Perayaan Mahasivaratri 2026” pada Kamis, 31 Juli 2025. Kegiatan berlangsung secara hybrid di lantai 14 Kantor Ditjen Bimas Hindu dan melalui Zoom Meeting.
FGD ini bertujuan untuk mempertajam visi pelaksanaan Festival Siva 2026, yang akan berlangsung selama satu bulan penuh dari perayaan Sivaratri hingga Mahasivaratri. Festival akan diisi 12 jenis kegiatan budaya dan spiritual, seperti pameran lukisan, lorong sejarah, serta melibatkan berbagai pihak, termasuk Kementerian Pariwisata dan Kementerian Kebudayaan.
Ketua Tim Kerja memaparkan bahwa Sivaratri sebelumnya telah melibatkan 3.000–5.000 umat. Lima poin penting disepakati dalam FGD sebagai arah pelaksanaan ke depan:
1. Festival Siva digelar sebulan penuh mulai dari Sivalatri hingga Maha Sivalatri yang akan memberikan dampak ekonomi dan memerlukan kerjasama antar lintas agama.
2. Ritual akan mengakomodasi local genius (Jawa, Bali, Banten) serta melibatkan perwakilan India.
3. Penentuan status sakral Candi Siva untuk pemanfaatan keagamaan.
4. Kajian dampak ekonomi kegiatan, untuk memastikan dapat memberikan manfaat yang konkret.
5. Optimalisasi Sivagraha untuk manfaat spiritual dan sosial-ekonomi masyarakat.
Perwakilan dari Ketua Umum PHDI Pusat menyatakan dukungan penuh terhadap kegiatan ini sebagai bentuk pemuliaan nilai spiritual Hindu. Dirjen Bimas Hindu yang diwakili Sekretaris Ditjen, Ida Made Pidada Manuaba, menegaskan bahwa kegiatan ini akan didukung penuh dan Prambanan akan menjadi pusat spiritual Hindu di Jawa, seperti halnya Pura Besakih di Bali.
Diskusi diwarnai berbagai pandangan konstruktif, antara lain:
Putu Sedana (IDM) menyampaikan data pengunjung Candi Prambanan dan pentingnya kegiatan keagamaan yang inklusif dan berdampak ekonomi.
Sugi Lanus menekankan pentingnya narasi holistik Candi Prambanan yang menyentuh aspek epigrafi, filologi, ikonografi, dan sastra.
Ida Pandita Agung Putra Nata Siliwangi menyoroti pentingnya keterhubungan spiritual dalam setiap ritual yang dilaksanakan.
Ida Resi Putra Manuana
Menyampaikan bahwa tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk mengenalkan Siva Graha Prambanan secara lebih luas, agar nilai-nilai Hindu Nusantara dapat tersampaikan dengan baik kepada masyarakat.
KMHDI dan PERADAH mendorong keterlibatan aktif generasi muda Hindu dalam pelaksanaan festival.
Perwakilan Kementerian Pariwisata menyarankan strategi promosi melalui media sosial, storytelling budaya Jawa, dan pendekatan pasar India.
Perwakilan Kementerian Kebudayaan menyatakan komitmen dalam fasilitasi perizinan, mengingat Prambanan adalah warisan budaya nasional dan UNESCO.
Direktur Urusan Agama Hindu Ditjen Bimas Hindu, I Gusti Made Sunartha, menekankan perlunya kontekstualisasi nilai-nilai Hindu Nusantara dan tidak serta-merta meniru estetika luar, serta menyarankan penyucian kembali Candi Prambanan sebagai tempat ibadah yang sah.
Dalam sesi penutupan, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu, Prof. Dr. Drs. I Nengah Duija, M.Si, memberikan arahan penting. Beliau menyampaikan:
“Candi Prambanan harus difungsikan kembali sebagai tempat ibadah umat Hindu, bukan sekadar objek wisata. Ini bukan hanya tentang pelestarian, tapi tentang penghidupan nilai-nilai suci yang terkandung di dalamnya,” ujarnya.
Prof. Duija juga menyampaikan pesan dari Menteri Agama, yang mengapresiasi kontribusi organisasi Hindu seperti PHDI dan Prajaniti karena selama ini berjalan dengan damai dan tidak menimbulkan polemik. Beliau menekankan bahwa: Pengelolaan candi harus mengedepankan pendekatan persuasif dan non-struktural dalam urusan ibadah.
FGD juga menyoroti pentingnya sinergi antarinstansi dan ormas Hindu, serta menyepakati perlunya tata laksana dan SOP pelaksanaan Mahasivaratri pertama kali di Prambanan. Hingga Juli 2025, tercatat 30.000 umat telah melakukan persembahyangan di Candi tersebut.
Sebagai tindak lanjut, forum menghasilkan Draf Deklarasi Candi Prambanan yang akan menjadi dasar penyelenggaraan Festival Siva dan pengembangan Candi Prambanan sebagai pusat spiritualitas Hindu Nusantara.