Menag Nasaruddin Umar Resmikan MQK Internasional 2025 di Wajo Sulsel, Santri Indonesia Berkompetisi dengan Delegasi 10 Negara

Menag Nasaruddin Umar Resmikan MQK Internasional 2025 di Wajo Sulsel, Santri Indonesia Berkompetisi dengan Delegasi 10 Negara

Wajo, Sulawesi Selatan (BIMAS HINDU) – Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, secara resmi membuka Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) Internasional 2025 yang berlangsung di Pesantren As’adiyah Sengkang, Kelurahan Macanang, Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, Rabu (01/10/2025).

Acara ini menjadi momen bersejarah karena untuk pertama kalinya santri Indonesia berkompetisi membaca kitab kuning bersama delegasi internasional. Tercatat sebanyak 798 santri semifinalis dari seluruh Indonesia turut serta, ditambah 20 peserta dari 10 negara yakni Myanmar, Malaysia, Thailand, Filipina, Brunei Darussalam, Kamboja, Singapura, Timor Leste, Vietnam, serta tuan rumah Indonesia.

Hadir dalam acara pembukaan, antara lain Dirjen Bimas Hindu, Prof. I Nengah Duija, bersama jajaran pejabat Kemenag serta para ulama, akademisi, dan tokoh masyarakat.

Dalam sambutannya, Menag Nasaruddin Umar menegaskan bahwa MQK Internasional bukan sekadar ajang perlombaan, tetapi juga wadah silaturahmi ulama, santri, dan akademisi lintas negara. Tahun ini, kegiatan mengusung tema “Merawat Lingkungan dan Menebar Perdamaian”, yang relevan dengan kondisi global.

“Merawat lingkungan dan menjaga perdamaian adalah tema kita. Ini berkaitan dengan isu perubahan iklim serta konflik global yang masih berlangsung. Pesantren harus mengambil peran penting dalam menghadirkan solusi dan semangat perdamaian,” ujar Menag.

Ia menyoroti dampak perang Rusia-Ukraina serta konflik Israel dan negara-negara di Timur Tengah yang telah menelan korban lebih dari 67 ribu jiwa. Sementara itu, korban jiwa akibat perubahan iklim sepanjang 2025 tercatat mencapai lebih dari 4 juta orang.

“Kita bisa membandingkan betapa berbahayanya dampak perubahan iklim dibandingkan dengan akibat perang. Karena itu, MQK Internasional ini kami arahkan sebagai ajang untuk menggali nilai-nilai turats (warisan intelektual Islam klasik) yang mengajarkan pelestarian lingkungan,” tambahnya.

Menag juga menegaskan bahwa MQK Internasional adalah bentuk diplomasi budaya pesantren untuk memperkuat citra Islam Indonesia di mata dunia.

“Pesantren adalah poros perdamaian. Kita ingin menunjukkan bahwa Islam Indonesia tumbuh dengan dakwah yang ramah, penuh persaudaraan, serta menghormati budaya. MQK ini adalah bukti nyata bahwa Islam rahmatan lil-‘alamin lahir dari pesantren,” tegas Nasaruddin Umar.

Selain itu, Menag memperkenalkan konsep “ekoteologi”, yakni kerja sama antara manusia, alam, dan Tuhan, yang diharapkan bisa berkembang melalui kajian kitab kuning di MQK.

“Kini saatnya Kementerian Agama mensponsori apa yang kami sebut ekoteologi. Santri harus menjadi garda terdepan dalam menyuarakan pesan agama untuk merawat bumi dan menjaga kedamaian,” tuturnya.

MQK Internasional 2025 akan berlangsung hingga 7 Oktober 2025 dengan serangkaian kompetisi, kajian, dan forum akademik. Selain lomba qira’ah kitab kuning, peserta juga mengikuti dialog lintas negara untuk memperdalam pemahaman agama sekaligus menanamkan kesadaran lingkungan.

Bagi Indonesia, kehadiran delegasi luar negeri ini menandai babak baru pesantren sebagai pusat keilmuan yang mendunia. Bagi santri, MQK bukan sekadar kompetisi, melainkan ruang aktualisasi diri sekaligus wadah memperkenalkan wajah Islam Indonesia yang damai, moderat, dan cinta lingkungan.


Berita Pusat LAINNYA