Piodalan ke-34 Pura Agung Wira Satya Bhuana, Momentum Penyucian dan Pengendalian Diri

Piodalan ke-34 Pura Agung Wira Satya Bhuana, Momentum Penyucian dan Pengendalian Diri

Jakarta (Bimas Hindu) – Upacara Piodalan ke-34 di Pura Agung Wira Satya Bhuana, Tanah Abang, Komplek Paspampres, Jakarta Pusat, berlangsung khidmat pada Selasa (3/3/2026), bertepatan dengan Purnama Kesanga. Momentum suci ini dimaknai sebagai waktu penyucian diri dan penguatan spiritual umat Hindu.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama yang memberikan Dharma Wacana, Ketua Umum Harian Pusat Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Pembimas Hindu DKI Jakarta, serta Ketua Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) DKI Jakarta.

Dalam sambutannya, Ketua PHDI Pusat mengajak umat untuk merenungi makna bulan suci sebagai momentum meningkatkan kesadaran spiritual dan memperkuat persaudaraan. Ia menegaskan bahwa seluruh umat manusia adalah ciptaan Tuhan yang sama sehingga tidak ada ruang bagi perpecahan dan kesalahpahaman. “Kita harus sadar akan ajaran Agama Hindu, sadar akan Panca Sradha sebagai fondasi keyakinan dan pedoman hidup,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Dirjen Bimas Hindu Prof. I Nengah Duija menyampaikan Dharma Wacana dengan mengangkat kisah Raja Parikesit, putra Abimanyu dan cucu Arjuna, sebagai refleksi kehidupan. Parikesit dikenal sebagai ksatria gagah dan berkuasa. Namun dalam sebuah peristiwa saat berburu, ia kehilangan jejak kijang dan bertemu Begawan Samiti yang tengah menjalani tapa brata. Karena tidak memperoleh jawaban atas pertanyaannya, Parikesit yang diliputi emosi melakukan tindakan yang berujung pada kutukan bahwa dalam tujuh hari ia akan meninggal akibat patukan Naga Taksaka.

Berbagai upaya penyelamatan dilakukan melalui siasat dan tipu daya, namun pada akhirnya takdir tetap berjalan. Parikesit wafat setelah digigit Naga Taksaka yang menyamar.

Melalui kisah tersebut, Prof. I Nengah Duija menekankan sejumlah pelajaran moral penting bagi kehidupan umat. Pertama, agar tidak mudah salah paham dan menilai seseorang hanya dari tampilan luar. Kedua, kekuasaan dan kedudukan tidak menjamin kebijaksanaan apabila tidak dibarengi pengendalian diri. Ketiga, kematian adalah rahasia Ilahi yang tidak dapat diprediksi manusia. Keempat, kesalahpahaman yang dibiarkan dapat berujung fatal.

“Cerita ini mengajarkan kita untuk tidak tergesa-gesa dalam menilai orang lain. Jangan sampai ego dan prasangka mengalahkan kebijaksanaan. Pada akhirnya, manusia memiliki keterbatasan, sedangkan kuasa Tuhan adalah mutlak,” tegasnya.

Rangkaian Piodalan ke-34 ini ditutup dengan doa bersama, memohon kedamaian, keselamatan, dan harmoni bagi seluruh umat Hindu serta masyarakat luas. Momentum Purnama Kesanga pun diharapkan menjadi pengingat untuk terus memperkuat introspeksi diri dan meningkatkan kualitas spiritual dalam kehidupan sehari-hari.


Berita Pusat LAINNYA