Denpasar (Bimas Hindu) – Dirjen Bimas Hindu Kemenag Prof. I Nengah Duija secara resmi membuka Festival Gerbang Nusantara 2026 di Inna Bali Heritage Hotel, Denpasar, Jumat (17/7/2026). Kegiatan yang digagas Pusat Koordinasi Hindu Indonesia (Puskor Hindunesia) tersebut menjadi ruang konsolidasi berbagai elemen umat Hindu untuk memperkuat pembangunan sumber daya manusia, pemberdayaan ekonomi umat, serta pelestarian seni dan budaya sebagai bagian dari identitas dan peradaban bangsa.
Dirjen Bimas Hindu Kemenag Prof. I Nengah Duija mengatakan perjalanan Nusantara tidak dapat dilepaskan dari pertemuan berbagai peradaban yang selama berabad-abad membentuk identitas bangsa Indonesia.
"Nusantara dibentuk oleh lautan yang mempertemukan beragam peradaban. Kita tidak hanya berbicara tentang Hindu, tetapi juga Buddha, Islam, dan Kristen yang bersama-sama memberi warna bagi perjalanan sejarah bangsa. Dalam proses itu, Hindu menghadirkan kontribusi penting melalui nilai-nilai spiritual, seni, dan budaya yang terus hidup hingga kini," kata Duija.
Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup dimaknai sebagai upaya menjaga tradisi, tetapi juga menjadi bagian dari strategi memperkuat jati diri bangsa di tengah perubahan global. Ia menilai kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia merupakan modal besar yang harus terus dirawat melalui kolaborasi antara pemerintah, organisasi kemasyarakatan, dan masyarakat.
Mengutip pemikiran tokoh intelektual Hindu Bali, I Gusti Bagus Sugriwa, Prof. Duija menegaskan bahwa kehidupan masyarakat Hindu Bali menunjukkan hubungan yang tidak terpisahkan antara agama dan seni.
"Seni yang tumbuh di Bali berakar pada nilai-nilai agama. Karena itu, menjaga seni berarti menjaga peradaban sekaligus mempertahankan identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi," ujarnya.
Dirjen Bimas Hindu mengakui masih terdapat tantangan dalam memenuhi berbagai kebutuhan organisasi kemasyarakatan Hindu akibat keterbatasan anggaran pemerintah. Namun demikian, ia menegaskan bahwa kolaborasi menjadi kunci untuk memperluas manfaat program pembinaan dan pemberdayaan umat.
Ketua Umum Puskor Hindunesia, Dr. Hc. Ida Bagus Ketut Susena, mengatakan Festival Gerbang Nusantara diharapkan menjadi wadah untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, organisasi kemasyarakatan, dunia usaha, dan masyarakat dalam mendorong kemajuan umat Hindu.
"Pengembangan sumber daya manusia dan pemberdayaan ekonomi tidak bisa dikerjakan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat. Kerja nyata selalu lebih bermakna daripada sekadar wacana," ujarnya.
Sementara itu, Anggota DPD RI Dr. Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra menilai organisasi sosial keagamaan memiliki posisi strategis dalam menjaga keberlanjutan pembangunan masyarakat. Ia juga mengapresiasi berbagai langkah yang dilakukan dalam penguatan kualitas pendidikan Hindu, termasuk peningkatan kapasitas guru dan pengembangan Widyalaya.
Menurutnya, kekayaan budaya yang dimiliki setiap daerah merupakan aset yang tidak hanya memperkuat identitas bangsa, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
"Budaya adalah aset yang tidak ternilai. Jika dikelola dengan baik, budaya mampu menjadi penggerak ekonomi sekaligus memperkuat karakter bangsa di tengah arus perubahan global," katanya.
Pelaksanaan Festival Gerbang Nusantara menjadi penegas bahwa pelestarian seni dan budaya memerlukan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, organisasi kemasyarakatan, akademisi, hingga masyarakat. Sinergi tersebut dinilai menjadi modal penting agar warisan budaya tetap hidup sekaligus mampu memberikan manfaat bagi kehidupan sosial, pendidikan, dan ekonomi umat.