Piodalan Pura Prajaniti Perkuat Harmoni dan Nilai Spiritual Aparatur Ditjen Bimas Hindu

Piodalan Pura Prajaniti Perkuat Harmoni dan Nilai Spiritual Aparatur Ditjen Bimas Hindu

Jakarta (BIMAS HINDU) - Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu menyelenggarakan kegiatan Simakrama (Implementasi Harmoni Kehidupan Keagamaan Hindu) yang dirangkaikan dengan Pujawali Pura Prajaniti pada Rabu 4 Maret 2026 di Pura Prajaniti, Rumah Dinas Dirjen Bimas Hindu, Jalan Percetakan Negara Nomor 6, Paseban, Senen, Jakarta Pusat.

Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Dirjen Bimas Hindu Prof. I Nengah Duija, Sekretaris Ditjen Bimas Hindu Dr. Ida Made Pidada Manuaba, Direktur Urusan Agama Hindu Ida Bagus Ketut Drana Arimbawa, Direktur Pendidikan Hindu Prof. I Ketut Sudarsana, para pejabat eselon III dan IV, pejabat fungsional, serta seluruh pegawai di lingkungan Ditjen Bimas Hindu. Hadir pula Pembimas Hindu Provinsi DKI Jakarta beserta jajaran.

Simakrama dan Piodalan ini dilaksanakan sebagai wujud implementasi harmoni kehidupan keagamaan Hindu sekaligus momentum spiritual untuk memperkuat kebersamaan dan soliditas internal lembaga. Dalam suasana khidmat, seluruh peserta mengikuti persembahyangan bersama sebagai bentuk bhakti dan ungkapan syukur ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Dalam sambutannya, Sekretaris Ditjen Bimas Hindu Dr. Ida Made Pidada Manuaba menyampaikan bahwa piodalan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan ruang refleksi untuk menyelaraskan kembali nilai-nilai spiritual dalam pelaksanaan tugas dan pengabdian. Ia mengangkat tema tentang pentingnya “rasa” dalam kehidupan beragama dan berorganisasi.

Menurutnya, dalam ajaran Hindu, alam pikiran manusia terdiri atas tiga unsur, yakni budi (intelektual), ahamkara (ego), dan manah (keinginan). Ketiganya harus diselaraskan agar melahirkan nilai rasa yang membimbing seseorang pada kebijaksanaan.

“Rasa yang hidup terlihat ketika kita mampu memaafkan, tidak mudah menghakimi, tidak memfitnah, dan tidak menjelekkan orang lain. Ketika seseorang mampu memaafkan orang yang menyakitinya, di situlah budi, ego, dan manah menyatu,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa persembahyangan sejatinya adalah napas kehidupan. Artinya, sembahyang tidak hanya dilaksanakan saat piodalan atau upacara keagamaan, tetapi harus tercermin dalam perilaku sehari-hari, baik di lingkungan kerja maupun di tengah masyarakat.

“Tidak ada maknanya jika kita sembahyang tetapi perilaku kita masih meresahkan orang lain. Persembahyangan harus menghadirkan kesejukan, kenyamanan, empati, dan rasa tanggung jawab,” tegasnya.

Melalui momentum Piodalan Pura Prajaniti ini, seluruh jajaran Ditjen Bimas Hindu diharapkan semakin memperkuat rasa kebersamaan, soliditas, serta komitmen dalam menjalankan dharma pengabdian kepada umat.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama memohon anugerah kedamaian dan kemuliaan hidup, dengan harapan nilai spiritual yang diperoleh mampu diwujudkan dalam sikap dan pelayanan yang harmonis.


Berita Pusat LAINNYA