Pujawali Pura dan Kesadaran Ekoteologis, Menjaga Kesucian Alam sebagai Wujud Bhakti

Pujawali Pura dan Kesadaran Ekoteologis, Menjaga Kesucian Alam sebagai Wujud Bhakti

Cibinong (BIMAS HINDU) - Setiap pelaksanaan pujawali pura sejatinya bukan hanya tentang rangkaian upacara, tetapi tentang perjalanan batin umat dalam memahami makna kesucian. Penghormatan kepada seluruh pemangku bukan sekadar formalitas, melainkan pengakuan bahwa tuntunan sastra dan laku spiritual menjadi fondasi utama dalam setiap yadnya. Dari merekalah umat diajak untuk kembali pada jalan yang lurus, selaras dengan ajaran suci yang diwariskan secara turun-temurun, Minggu (21/12/2025).

Kehadiran para tokoh lintas agama, lembaga keagamaan Hindu, serta seluruh unsur umat menunjukkan bahwa Pujawali Pura bukan peristiwa eksklusif, melainkan ruang kebersamaan. Di sanalah rasa syukur menemukan bentuknya: umat berkumpul, saling menyapa, dan menguatkan komitmen bersama dalam suasana yang penuh kedamaian.

Pujawali Pura menjadi momentum penting lbahwa dasar pelaksanaannya adalah sastra. Lontar Dewa Yadnya Prakerti tidak hanya mengatur tata cara upacara, tetapi juga mengajarkan kesadaran sejarah dan penghormatan terhadap proses berdirinya pura. Pura bukan sekadar bangunan fisik, melainkan ruang spiritual yang lahir dari yadnya, pengorbanan, dan ketulusan para leluhur. Melupakan sejarah berarti memutus mata rantai pemahaman umat terhadap makna pemujaan itu sendiri.

Dalam ajaran Hindu, tempat suci tidak hanya terbatas pada pura. Alam semesta seperti gunung, laut, dan hutan, pada hakikatnya telah suci sejak awal penciptaan. Manusia tidak memiliki kuasa untuk menyucikan alam; justru manusialah yang wajib menjaga kesucian itu. Nilai ini ditegaskan dalam berbagai sastra, dari Weda hingga Bhagavad Gita, yang mengajarkan bahwa harmoni dengan alam adalah bagian tak terpisahkan dari bakti kepada Ida Sang Hyang Widhi.

Apakah pujawali pura itu sukses atau gagal sering kali dijawab secara keliru. Ukuran keberhasilan bukan terletak pada besarnya dana, ramainya umat, atau megahnya sarana. Pujawali pura pasti diterima oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Namun, makna sejatinya terletak pada hadirnya nilai-nilai luhur merupakan segilik seguluk, paras-paros, dan salunglung sabayantaka. Kebersamaan, saling menghormati, dan gotong royong adalah roh dari setiap yadnya.

Semua nilai itu hanya dapat tumbuh jika dilandasi ketulusan dan keikhlasan. Ida Sang Hyang Widhi Wasa tidak membutuhkan kemewahan atau pertunjukan semu. Yang dikehendaki adalah bakti yang jujur, tulus, dan sesuai dengan kemampuan umat. Musyawarah menjadi landasan utama dalam pelaksanaan Pujawali Pura, karena dari sanalah lahir keputusan bersama yang mengikat seluruh umat tanpa kecuali.

Ketua panitia Pujawali Pura, Serati Banten, Pemangku, dan seluruh petugas yadnya sejatinya adalah pelayan umat. Banten sebagai simbol tubuh manusia mengajarkan bahwa yadnya harus dijalankan dengan kesadaran penuh, tidak berlebihan, dan tidak dibangun di atas ketidakjujuran. Ketulusan tidak hanya tampak saat upacara berlangsung, tetapi dimulai sejak niat, proses belanja, pembuatan sarana, hingga laku keseharian para pelaksana yadnya.

Kesucian lahir dan batin menjadi syarat mutlak. Perkataan yang tidak baik, gosip, dan sikap yang menyimpang akan menggerus makna yadnya itu sendiri. Sebab yadnya bukan hanya persembahan ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, tetapi juga latihan etika dan spiritual bagi umat.

Pada akhirnya, Pujawali Pura adalah cermin kebersamaan umat. Ketika seluruh unsur bersatu, saling menghormati, saling menyayangi, dan bekerja dengan tulus, maka vibrasi kesucian akan terwujud. Dari sanalah kedamaian tidak hanya dirasakan di dalam Pura, tetapi juga mengalir ke kehidupan umat sehari-hari. Pujawali Pura pun kembali pada hakikatnya adalah jalan suci untuk memuliakan Tuhan sekaligus memanusiakan manusia.

Sumber : Ida Pandita Nabe Dharma Putra Paseban


Berita Pusat LAINNYA