Jakarta (BIMAS HINDU) — Tim Kerja Pemanfaatan Candi Prambanan melakukan audiensi dengan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama RI, Prof. I Nengah Duija, di Ruang Dirjen Bimas Hindu, Jakarta, Kamis (04/06/2026). Audiensi tersebut dihadiri oleh Direktur Urusan Agama Hindu Ida Bagus Ketut Drana Arimbawa, Ketua Umum Tim Kerja Pemanfaatan Candi Prambanan I Nyoman Ariawan beserta jajaran pengurus.
Dalam pertemuan tersebut, Ketua Umum Tim Kerja Pemanfaatan Candi Prambanan, I Nyoman Ariawan, menyampaikan laporan pelaksanaan Prambanan Shiva Festival (PSF) 2026 yang dinilai berjalan dengan lancar dan mendapatkan antusiasme tinggi dari umat Hindu, masyarakat umum, serta berbagai pemangku kepentingan. Festival yang mengangkat nilai spiritualitas, budaya, dan pelestarian warisan peradaban Hindu tersebut menjadi momentum penting dalam memperkuat fungsi Candi Prambanan sebagai pusat spiritual, budaya, dan destinasi wisata religi dunia.
Menurut Nyoman Ariawan, pelaksanaan festival berhasil melibatkan berbagai unsur pemerintah, organisasi keagamaan, serta mitra strategis. Pembukaan festival dihadiri oleh Wakil Menteri Pariwisata bersama Direktur Jenderal Bimas Hindu, Pemerintah Kabupaten Sleman, InJourney, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), serta sejumlah tamu kehormatan lainnya. Sementara itu, puncak perayaan Mahashivaratri turut dihadiri oleh Wakil Menteri Pariwisata mewakili Menteri Pariwisata, Duta Besar India untuk Indonesia, jajaran InJourney, PHDI, dan para undangan VIP.
Sebagai tindak lanjut, Tim Kerja telah melakukan evaluasi menyeluruh guna menyempurnakan pelaksanaan festival pada tahun-tahun mendatang. Beberapa langkah strategis yang direncanakan antara lain memperkuat kolaborasi dengan InJourney, Kedutaan Besar India, sponsor, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya, meningkatkan promosi dan pemasaran digital, memperkuat sistem kepanitiaan melalui dukungan Event Organizer profesional, serta memperluas program pemberdayaan umat dan masyarakat sekitar kawasan Prambanan.
Direktur Urusan Agama Hindu, Ida Bagus Ketut Drana Arimbawa, menyampaikan apresiasi atas suksesnya penyelenggaraan festival. Ia mengakui masih terdapat sejumlah catatan dan masukan dari berbagai kementerian dan lembaga yang perlu menjadi perhatian untuk pengembangan festival ke depan. Menurutnya, aspek ekonomi perlu dirancang secara lebih bijaksana dengan memperhatikan kebutuhan pasar yang berkembang, mengingat Prambanan Shiva Festival telah menjadi agenda besar yang menjangkau berbagai segmen, mulai dari kebudayaan, pariwisata, hingga pelaku UMKM. Ia juga menegaskan pentingnya kolaborasi organisasi keumatan dalam menjaga keberlanjutan kerja bersama dan memperkuat dampak kegiatan.
Sementara itu, Direktur Jenderal Bimas Hindu, Prof. I Nengah Duija, menyampaikan sejumlah arahan strategis untuk pelaksanaan agenda tahun 2027. Ia menegaskan bahwa persiapan kegiatan sudah harus mulai dirancang sejak dini, termasuk melalui penyelenggaraan berbagai kegiatan pra-acara yang dapat mendukung penguatan pendanaan dan keberlanjutan program menuju penyelenggaraan festival tahun 2027.
Dirjen juga mendorong agar komunikasi dengan manajemen PT Taman Wisata Candi (TWC) semakin diintensifkan. Menurutnya, keberadaan festival memberikan dampak positif terhadap capaian dan citra pengelola kawasan, sehingga diperlukan pola kemitraan yang lebih seimbang dan saling menguntungkan.
Lebih lanjut, Prof. Duija mengingatkan bahwa arah kebijakan Presiden menekankan agar setiap kegiatan keagamaan tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga mampu memberikan dampak nyata terhadap pemberdayaan masyarakat. Oleh karena itu, pelibatan UMKM dan masyarakat sekitar kawasan Prambanan harus terus diperkuat melalui sistem kerja sama yang saling berkontribusi dan memberikan manfaat ekonomi secara langsung.
Dalam bidang kebudayaan, Dirjen Bimas Hindu menekankan pentingnya menampilkan kekayaan Hindu Nusantara secara lebih luas. Ia mendorong keterlibatan pemerintah daerah dalam mendukung hadirnya ragam seni dan budaya Hindu dari berbagai daerah dalam parade budaya maupun rangkaian kegiatan festival.
Selain itu, ia mengusulkan adanya pemberian penghargaan kepada tokoh-tokoh yang memiliki kontribusi besar bagi agama, kebudayaan, masyarakat, bangsa, dan negara sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi mereka. Untuk kegiatan seminar, cakupan pembahasan juga diharapkan lebih luas dan berorientasi internasional, tidak hanya membahas Candi Prambanan semata, tetapi juga mengangkat konsep Siwa dalam perspektif global, termasuk perkembangan tradisi Siwa di India, Malaysia, Nepal, dan berbagai negara lainnya.
Menutup arahannya, Prof. I Nengah Duija menyampaikan apresiasi atas dedikasi dan kerja keras Tim Kerja Pemanfaatan Candi Prambanan dalam menyukseskan Prambanan Shiva Festival 2026. Ia berharap penyelenggaraan pada tahun 2027 dapat tampil lebih menarik, lebih baik, semakin berdampak bagi masyarakat, serta mampu memperkuat posisi Prambanan sebagai pusat spiritual dan kebudayaan Hindu yang mendunia.