Merawat Rahim Alam Semesta: Aktualisasi Tri Hita Karana di Tengah Krisis Ekologi

Merawat alam adalah bagian dari dharma. Wujudkan Tri Hita Karana melalui aksi nyata menjaga bumi dan kehidupan

Dharma Wacana (Bimas Hindu) - Dunia saat ini menghadapi krisis ekologi yang semakin nyata. Perubahan iklim, pencemaran akibat sampah plastik, dan berkurangnya keanekaragaman hayati menjadi persoalan serius yang mengancam keberlangsungan kehidupan. Bumi yang selama ini menjadi tempat berpijak dan sumber penghidupan manusia terus mengalami tekanan akibat eksploitasi sumber daya alam yang tidak terkendali. Dalam pandangan Hindu, bumi bukan sekadar ruang untuk memenuhi kebutuhan hidup, melainkan Ibu Pertiwi yang patut dihormati, dijaga, dan dirawat.

Di tengah kondisi tersebut, ajaran Hindu memiliki landasan filosofis yang relevan untuk membangun kesadaran ekologis, salah satunya melalui konsep Tri Hita Karana. Ajaran ini menegaskan bahwa kesejahteraan dan kebahagiaan hidup tidak dapat dipisahkan dari keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan alam. Karena itu, kepedulian terhadap lingkungan bukan hanya persoalan sosial, tetapi juga bagian dari pengamalan dharma dalam kehidupan sehari-hari.

Kesadaran untuk menghormati bumi ditegaskan dalam Atharwaweda XII.1.12 melalui sloka, “Mata bhumi putro aham prthivyah,” yang berarti, “Bumi adalah ibu dan saya adalah putra bumi.” Sloka ini mengandung pesan mendalam bahwa manusia memiliki ikatan yang tidak terpisahkan dengan bumi. Sebagaimana seorang anak menghormati dan menjaga ibunya, manusia juga berkewajiban memelihara bumi sebagai sumber kehidupan. Alam bukanlah objek yang dapat dieksploitasi tanpa batas, melainkan bagian penting dari keberlangsungan hidup seluruh makhluk.

Pesan tersebut diperkuat dalam Bhagawadgita III.14 yang menjelaskan keterkaitan antara makhluk hidup, makanan, hujan, dan yajña atau persembahan. Sloka ini menggambarkan adanya hubungan sebab-akibat yang saling berkaitan dalam siklus kehidupan. Ketersediaan pangan bergantung pada hujan, sementara keberlangsungan proses alam berkaitan dengan tindakan dan pengorbanan manusia. Dengan demikian, keseimbangan ekologi membutuhkan kesadaran, tanggung jawab, serta tindakan nyata untuk menjaga keberlanjutan alam.

Kedua landasan tersebut mengingatkan bahwa kehidupan manusia tidak berdiri sendiri. Kerusakan hutan, pencemaran sungai, dan polusi udara dapat mengganggu keseimbangan ekosistem yang menopang kehidupan. Ketika alam mengalami kerusakan, manusia turut menanggung dampaknya. Oleh sebab itu, menjaga lingkungan merupakan bentuk tanggung jawab bersama untuk melindungi

Penulis : Mujirah, S.Pd.
Penyuluh Agama Hindu Kota Yogyakarta


Dharma Wacana LAINNYA