Dharma Wacana (Bimas Hindu) - Om Swastyastu, Atas asung kertha wara nugraha Ida Sang Hyang Widhi Wasa, marilah kita senantiasa memanjatkan puji syukur karena dapat menjalani kehidupan dalam keadaan sehat dan penuh kebahagiaan.
Dalam kehidupan, pernikahan merupakan ikatan yang tidak hanya menyatukan dua insan, tetapi juga mempertemukan dua keluarga, dua kebiasaan, dua karakter, serta dua perjalanan kehidupan yang berbeda. Oleh karena itu, pernikahan tidak cukup hanya dibangun atas dasar cinta yang tumbuh pada awal perjumpaan. Cinta perlu dirawat, kesetiaan harus dijaga, dan kehidupan rumah tangga hendaknya senantiasa diarahkan pada pelaksanaan Dharma.
Dalam ajaran Hindu, salah satu konsep yang dapat direnungkan dalam kehidupan perkawinan adalah Rati. Konsep ini berkaitan dengan cinta, kasih sayang, ketertarikan, dan kedekatan antara suami dan istri. Namun, Rati dalam kehidupan perkawinan tidak semata-mata berkaitan dengan perasaan atau ketertarikan jasmani. Cinta hendaknya ditempatkan dalam bingkai Dharma agar mampu melahirkan tanggung jawab, kesetiaan, penghormatan, dan keharmonisan dalam keluarga.
Merawat Cinta dalam Kehidupan Rumah Tangga
Cinta merupakan fondasi penting dalam membangun keluarga. Namun, cinta tidak cukup hanya dirasakan, melainkan perlu diwujudkan melalui perhatian dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika masih dalam masa pendekatan, pasangan biasanya saling memberikan perhatian, mengirimkan pesan, menanyakan kabar, dan menyediakan waktu untuk bertemu. Akan tetapi, setelah memasuki kehidupan pernikahan, perhatian tersebut terkadang berkurang karena kesibukan pekerjaan, penggunaan telepon genggam, media sosial, maupun berbagai tanggung jawab lainnya.
Di sinilah pentingnya memahami bahwa cinta membutuhkan pemeliharaan. Rati mengajarkan bahwa hubungan suami dan istri perlu dirawat melalui komunikasi yang baik, kesediaan mendengarkan, penghargaan terhadap pendapat pasangan, serta keberanian untuk meminta maaf ketika melakukan kesalahan.
Kebahagiaan rumah tangga tidak selalu harus diwujudkan melalui pemberian sesuatu yang mahal. Ucapan sederhana seperti terima kasih atas kebersamaan, permintaan maaf atas kesalahan, atau ungkapan rasa bangga terhadap pasangan dapat menjadi bentuk perhatian yang mempererat hubungan. Hal-hal kecil yang dilakukan dengan tulus dapat menjaga kehangatan dan menumbuhkan kembali cinta dalam kehidupan keluarga.
Kesetiaan sebagai Wujud Cinta
Cinta yang tidak disertai kesetiaan akan mudah goyah ketika menghadapi berbagai ujian kehidupan. Kesetiaan bukan hanya tentang tidak berpaling kepada orang lain, tetapi juga tentang kesediaan untuk tetap mendampingi pasangan ketika menghadapi kesulitan.
Ketika suami mengalami kegagalan, istri hendaknya hadir memberikan dukungan. Ketika istri menghadapi persoalan, suami hendaknya menjadi tempat berbagi dan mencari jalan keluar. Demikian pula ketika kondisi ekonomi sedang sulit, keduanya perlu saling menguatkan, bukan saling menyalahkan.
Justru dalam keadaan sulit, ketulusan dan kesetiaan memperoleh maknanya yang lebih mendalam. Suami dan istri hendaknya menjadi sahabat dalam suka dan duka, teman dalam perjalanan kehidupan, serta pasangan dalam melaksanakan Dharma.
Kesetiaan mengajarkan bahwa persoalan rumah tangga bukanlah beban yang harus dipikul sendiri-sendiri. Setiap tantangan perlu dihadapi bersama melalui komunikasi, pengertian, dan kesediaan untuk mencari solusi. Dengan demikian, ikatan perkawinan tidak hanya bertahan karena adanya cinta, tetapi juga karena komitmen untuk saling mendampingi dalam berbagai keadaan.
Mengelola Perbedaan dengan Bijaksana
Keluarga bahagia bukan berarti keluarga yang tidak pernah mengalami pertengkaran atau perbedaan pendapat. Setiap pasangan memiliki karakter, pola pikir, kebiasaan, dan cara menyelesaikan masalah yang berbeda. Perbedaan juga dapat muncul dalam pengelolaan keuangan, pembagian tanggung jawab, maupun pola pengasuhan anak.
Hal terpenting bukanlah menghindari seluruh konflik, melainkan bagaimana suami dan istri mengelolanya dengan bijaksana. Persoalan kecil tidak seharusnya berkembang menjadi masalah besar hanya karena ego. Perbedaan pendapat juga tidak boleh menjadi alasan untuk mengucapkan kata-kata kasar atau merendahkan pasangan.
Ketika menghadapi konflik, suami dan istri perlu menyadari bahwa keduanya berada dalam satu tim yang memiliki tujuan bersama. Oleh karena itu, yang harus dihadapi adalah persoalannya, bukan pasangannya. Sikap saling mendengarkan, mengendalikan emosi, dan menghargai pandangan masing-masing menjadi bagian penting dalam menjaga keharmonisan rumah tangga.
Dengan mengubah cara pandang tersebut, perbedaan dapat menjadi kesempatan untuk saling memahami, memperbaiki hubungan, dan membangun kedewasaan dalam kehidupan perkawinan.
Rati dan Dharmasampatti dalam Perkawinan Hindu
Dalam kehidupan perkawinan Hindu, kebahagiaan rumah tangga tidak hanya berkaitan dengan cinta dan pemenuhan kebutuhan duniawi, tetapi juga dengan tanggung jawab bersama dalam menjalankan Dharma. Salah satu konsep yang relevan untuk direnungkan adalah Dharmasampatti, yaitu kebersamaan suami dan istri dalam menjalankan Dharma sebagai bagian dari kehidupan perkawinan.
Suami dan istri hendaknya membangun kehidupan keluarga yang tidak hanya berorientasi pada kesejahteraan material, tetapi juga memiliki landasan spiritual dan moral. Hal tersebut dapat diwujudkan melalui kebiasaan beribadah bersama, mendidik anak berdasarkan nilai-nilai agama, menanamkan kejujuran, menghormati orang tua, menjaga hubungan baik dengan keluarga besar, serta melaksanakan kewajiban sosial di lingkungan masyarakat.
Selain itu, suami dan istri perlu saling mengingatkan agar tetap berpegang pada nilai-nilai Dharma dalam mengambil keputusan dan menjalani kehidupan. Dengan demikian, cinta tidak berhenti sebagai ungkapan perasaan, tetapi diwujudkan dalam perilaku yang mencerminkan tanggung jawab, ketulusan, dan kepedulian.
Rati dan Dharmasampatti dapat menjadi landasan bagi pasangan untuk membangun hubungan yang seimbang antara kasih sayang, kesetiaan, tanggung jawab, dan kehidupan spiritual. Melalui landasan tersebut, keluarga diharapkan mampu menjadi ruang tumbuh bersama bagi setiap anggotanya.
Mewujudkan Keluarga Hindu yang Bahagia dan Harmonis
Keluarga bahagia tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya rumah, bagusnya kendaraan, atau banyaknya harta yang dimiliki. Kebahagiaan keluarga tumbuh dari adanya rasa aman, kepercayaan, sikap saling menghormati, dukungan, dan kesamaan tujuan dalam menjalani kehidupan.
Keluarga juga merupakan lingkungan pertama bagi anak untuk belajar tentang cinta, tanggung jawab, dan nilai-nilai kehidupan. Anak belajar menghormati orang lain melalui perilaku orang tuanya, belajar berbicara dengan santun melalui komunikasi dalam keluarga, serta memahami kesetiaan melalui hubungan yang dibangun oleh ayah dan ibunya.
Oleh karena itu, keharmonisan suami dan istri memiliki peran penting dalam membentuk karakter anak. Keteladanan yang ditunjukkan melalui sikap saling menghargai, menyelesaikan persoalan dengan bijaksana, dan menjalankan kewajiban dengan penuh tanggung jawab merupakan bagian dari pendidikan keluarga yang sangat berharga.
Keluarga yang dibangun dengan cinta, kesetiaan, dan pelaksanaan Dharma tidak hanya memberikan kebahagiaan bagi anggotanya, tetapi juga berkontribusi dalam membentuk masyarakat yang harmonis dan berkarakter.
Menjadikan Rati sebagai Komitmen Kehidupan
Rati hendaknya tidak hanya dimaknai sebagai perasaan cinta ketika seseorang memulai kehidupan perkawinan. Lebih dari itu, Rati perlu diwujudkan sebagai komitmen untuk terus merawat cinta ketika keadaan berjalan baik, menjaga kesetiaan ketika menghadapi ujian, saling menghormati di tengah perbedaan, serta saling menguatkan ketika menghadapi kesulitan.
Pernikahan yang bahagia bukanlah pernikahan yang terbebas dari seluruh persoalan. Kebahagiaan tumbuh ketika dua insan bersedia menghadapi persoalan bersama, memperbaiki diri, menjaga kepercayaan, dan terus berusaha menjalankan Dharma dalam kehidupan keluarga.
Ajaran tentang kebersamaan juga dapat direnungkan melalui Ṛgveda X.191.2–4, yang memuat pesan mengenai pentingnya berjalan bersama, berbicara bersama, dan menyatukan pikiran. Salah satu penggalan mantra tersebut berbunyi:
“Sam gacchadhvam sam vadadhvam
sam vo manāṃsi jānatām.”
Artinya, “Berjalanlah bersama, berbicaralah bersama, dan satukanlah pikiranmu.”
Pesan tersebut mengingatkan bahwa kebersamaan membutuhkan keselarasan dalam komunikasi, pikiran, dan tujuan. Dalam kehidupan rumah tangga, nilai ini dapat diwujudkan melalui kesediaan untuk saling mendengarkan, membangun kesepakatan, dan menghadapi perjalanan kehidupan sebagai pasangan.
Semoga setiap keluarga Hindu senantiasa memperoleh tuntunan dan anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa sehingga mampu merawat cinta, menjaga kesetiaan, melaksanakan Dharma, serta mewujudkan kehidupan rumah tangga yang harmonis dan bahagia.
Om Santih, Santih, Santih Om.
Penulis : Wayan Suryadi Desta
Pengurus RBKS Kabupaten Pesisir Barat