Bangun Karakter dari Keluarga, Pesan Sradha Bhakti Disiarkan Melalui Televisi Nasional

Pengambilan gambar untuk program yang mengangkat tema sentral "Bakti Tanpa Gengsi"

Klungkung (Bimas Hindu) — Pesan keagamaan mengenai makna bhakti dan ketulusan hati kembali disiarkan secara luas untuk menyapa umat. Kali ini, Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Klungkung menyampaikan edukasinya melalui program Mimbar Agama Hindu di stasiun Televisi Republik Indonesia (TVRI). Pengambilan gambar untuk program yang mengangkat tema sentral "Bakti Tanpa Gengsi" ini telah dilaksanakan pada Minggu (15/8/2026), dan dijadwalkan tayang mengudara pada Selasa (18/8/2026).

Tema ini secara khusus mengajak masyarakat luas untuk merenungkan kembali esensi bhakti dalam rutinitas kehidupan sehari-hari. Fokus utamanya menyoroti peran keluarga sebagai ekosistem pertama dan utama dalam menanamkan nilai-nilai keagamaan serta membentuk karakter anak yang berlandaskan ajaran Hindu.

Penyuluh Agama Hindu Kemenag Klungkung, I Nyoman Tirtayasa, yang hadir sebagai narasumber menjelaskan bahwa edukasi mengenai Sradha (keyakinan) dan Bhakti (pengabdian) selalu bermula dari lingkungan keluarga, melalui tindakan-tindakan sederhana yang dilandasi oleh ketulusan.

“Peran orang tua sangat krusial dalam mengajarkan Sradha Bhakti. Dalam ajaran suci Hindu, hal ini tertuang jelas dalam Kitab Bhagavadgita Sloka 9.26 yang berbunyi: persembahan tulus berupa daun, bunga, buah, atau air yang didasari rasa bhakti akan diterima oleh Tuhan, tanpa memandang kemewahan materi. Sloka ini menyoroti keikhlasan dan kesucian hati, yang menjadi fondasi paling dasar dari sebuah persembahan,” urai I Nyoman Tirtayasa dalam paparannya.

Melalui tayangan Mimbar Agama Hindu ini, diharapkan tumbuh kesadaran kolektif di tengah masyarakat bahwa nilai sebuah persembahan tidak semata-mata diukur dari bentuk fisik, kuantitas, atau kemewahannya.

Ketulusan batin dalam menghaturkan persembahan adalah nyawa dari pelaksanaan Yadnya yang Satwika (suci dan murni). Dengan pemahaman ini, praktik keagamaan ke depan tidak lagi dilakukan sekadar untuk mengikuti kebiasaan, pamer gengsi, atau tradisi buta, melainkan benar-benar dilandasi oleh kesadaran spiritual dan sikap Lascarya (ikhlas).

Pemanfaatan media penyiaran publik ini juga sangat sejalan dengan visi Asta Protas Kemenag RI yang digagas oleh Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar. Khususnya pada poin perwujudan "Layanan Keagamaan Berdampak" serta "Meningkatkan Kerukunan dan Cinta Kemanusiaan", di mana edukasi keagamaan dan pelayanan dituntut untuk hadir menjangkau masyarakat seluas-luasnya melalui berbagai platform dan ruang publik.

 

Kontributor: Wisnawa


Berita Daerah LAINNYA