Lampung Tengah (Bimas Hindu) — Dalam upaya memperkuat nilai moderasi beragama, toleransi lintas iman, serta kepedulian terhadap kelestarian lingkungan (Green Dharma) sejak dini, Bimas Hindu Lampung Tengah bersama IPARI menggelar Pembinaan Lintas Agama di Yayasan Xaverius Terbanggi Besar, Lampung Tengah, Rabu (30/9/2026).
Kegiatan edukatif ini diikuti oleh 372 siswa jenjang TK hingga SMP yang memiliki latar belakang majemuk dari lima agama, yakni Islam (166 siswa), Kristen (93 siswa), Katolik (82 siswa), Hindu (27 siswa), dan Buddha (4 siswa).
Pembinaan lintas agama ini dihadiri langsung oleh Tim Bimas Hindu Lampung Tengah, I Ketut Ginada, Darwiyati, dan Wayan Tini Widyawati. Kehadiran tim Bimas Hindu menjadi bagian dari komitmen menciptakan ruang dialog inklusif dan kolaboratif antar-umat beragama sejak usia dini.
I Ketut Ginada menyampaikan bahwa keberagaman agama di lingkungan sekolah merupakan laboratorium sosial yang sangat berharga bagi anak-anak untuk belajar saling menghargai dan bekerja sama.
“Keberagaman di sekolah bukan sekadar perbedaan identitas, melainkan sarana nyata bagi anak-anak untuk belajar hidup bersama secara harmonis. Melalui kegiatan ini, peserta didik diajak memahami bahwa nilai kemanusiaan, kasih sayang, dan kedamaian adalah ruang bersama bagi seluruh umat,” ujar Ketut Ginada.
Selain penguatan moderasi beragama, para siswa dari berbagai agama tersebut diajak untuk bersatu merawat bumi melalui konsep Ekoteologi. Darwiyati menjelaskan bahwa pelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab moral dan spiritual yang melintasi sekat-sekat perbedaan keyakinan.
“Melalui ekoteologi, anak-anak diajak memahami bahwa menjaga lingkungan sekolah dan alam sekitar adalah bagian dari bakti spiritual. Perbedaan agama tidak menjadi penghalang untuk melakukan kebaikan bersama dalam merawat bumi,” tegas Darwiyati.
Melalui sinergi pembinaan lintas agama dan penanaman kesadaran ekologis ini, Ditjen Bimas Hindu berkomitmen untuk terus mendorong lingkungan pendidikan di seluruh Indonesia agar menjadi benteng penguat moderasi beragama, keharmonisan sosial, serta pelestarian lingkungan secara berkelanjutan.
Kontributor: Ketut Suwarta