Basarah Ngelangkang di Desa Jaman, Bakti kepada Leluhur dan Tradisi Hindu Kaharingan Tetap Terjaga

Bakti kepada leluhur, menjaga tradisi, menguatkan kebersamaan.

Barito Utara (Bimas Hindu) – Kantor Kementerian Agama Kabupaten Barito Utara melalui Penyelenggara Hindu memberikan pelayanan dan pendampingan keagamaan kepada umat Hindu Kaharingan melalui pelaksanaan ritual Pitra Yadnya atau Basarah Ngelangkang di Desa Jaman, Selasa (18/8/2026). Ritual tersebut menjadi bagian dari penghormatan keluarga kepada anggota keluarga yang telah meninggal sekaligus ruang untuk memperkuat kebersamaan dan nilai-nilai keagamaan.

Kegiatan dilaksanakan oleh Penyelenggara Hindu Kankemenag Barito Utara, Wandi, bersama Guru Agama Hindu Anti, selaku Ketua Majelis Resort Agama Hindu Kaharingan (MR-AHK) Kecamatan Gunung Timang, serta Pisor Jeriweni. Basarah Pitra Yadnya dilaksanakan untuk mengenang dan mendoakan tiga anggota keluarga yang telah meninggal dunia, yakni Ibu Randek, Ibu Pare, dan Bapak Gandit.

Ritual Pitra Yadnya menjadi salah satu bentuk penghormatan umat Hindu Kaharingan kepada anggota keluarga atau leluhur yang telah meninggal dunia. Dalam pelaksanaannya, keluarga bersama umat mengikuti persembahyangan dan rangkaian ritual Ngelangkang sebagai bentuk penghormatan, ungkapan kasih, serta pelaksanaan kewajiban keluarga terhadap mereka yang telah berpulang.

Dalam ritual tersebut, keluarga menyiapkan sesajen yang dikenal dengan ancak kelangkang sebagai bagian dari persembahan. Persembahan tersebut memiliki makna spiritual bagi umat Hindu Kaharingan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, sekaligus doa dan pengharapan bagi mereka yang telah meninggal dunia.

Pelaksanaan Ngelangkang juga menjadi bagian dari doa keluarga agar almarhum dan almarhumah memperoleh keadaan yang baik serta terbebas dari penderitaan yang berkaitan dengan kehidupan sebelumnya. Doa dan persembahan menjadi wujud ketulusan keluarga dalam mengiringi perjalanan spiritual mereka yang telah meninggal dunia.

Selain penghormatan kepada leluhur, ritual tersebut menjadi ungkapan kasih dan bakti keluarga yang masih hidup. Hubungan antara keluarga dan leluhur memiliki nilai penting dalam kehidupan spiritual dan sosial umat Hindu Kaharingan. Karena itu, pelaksanaan ritual keagamaan menjadi salah satu sarana menjaga hubungan tersebut sekaligus melestarikan ajaran dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

Penyelenggara Hindu Kankemenag Barito Utara, Wandi, mengatakan kehadiran Kementerian Agama dalam pelaksanaan ritual keagamaan merupakan bagian dari pelayanan kepada umat sesuai dengan keyakinan dan tata cara keagamaan yang dianut.

“Pelayanan dan pendampingan kepada umat merupakan bagian dari tugas kami untuk memastikan umat Hindu Kaharingan dapat menjalankan kegiatan keagamaannya sesuai dengan keyakinan, tradisi, dan tata cara yang diwariskan,” ujar Wandi.

Menurutnya, pembinaan umat tidak hanya dilakukan melalui kegiatan keagamaan rutin, tetapi juga hadir dalam berbagai momentum penting dalam kehidupan umat. Pendampingan dalam ritual Pitra Yadnya menjadi salah satu bentuk kehadiran pelayanan keagamaan di tengah masyarakat.

Dalam pelaksanaan persembahyangan, keluarga dan umat mengikuti rangkaian Basarah dengan penuh kekhusyukan. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi momentum mengenang mereka yang telah meninggal dunia, tetapi juga menjadi ruang bagi keluarga dan umat untuk melakukan refleksi serta memperkuat keimanan.

Melalui Pitra Yadnya, keluarga juga memanjatkan doa Wara Nugraha untuk memohon keselamatan, perlindungan, kesehatan, dan keberkahan bagi keluarga yang masih hidup. Doa tersebut menjadi harapan agar keluarga diberikan kekuatan dalam menjalani kehidupan serta dijauhkan dari berbagai marabahaya.

Kegiatan di Desa Jaman juga memperlihatkan kuatnya hubungan kekeluargaan dan kebersamaan umat Hindu Kaharingan. Pelaksanaan ritual secara bersama-sama menjadi ruang bagi umat untuk saling mendukung dalam menjalankan kewajiban keagamaan.

Guru Agama Hindu sekaligus Ketua MR-AHK Kecamatan Gunung Timang, Anti, mengatakan pelaksanaan ritual Pitra Yadnya memiliki makna penting bagi keluarga dan umat karena menjadi bagian dari penghormatan terhadap leluhur sekaligus menjaga keberlangsungan tradisi keagamaan.

“Pitra Yadnya menjadi wujud kasih dan bakti keluarga kepada mereka yang telah berpulang. Melalui persembahyangan dan Ngelangkang, keluarga bersama umat memanjatkan doa sekaligus menjalankan kewajiban sesuai dengan tradisi keagamaan Hindu Kaharingan,” ungkap Anti.

Pendampingan yang dilakukan Penyelenggara Hindu bersama Guru Agama Hindu dan unsur majelis juga menjadi bagian dari pelestarian nilai-nilai keagamaan dan budaya Hindu Kaharingan. Kehadiran mereka di tengah umat memberikan ruang bagi masyarakat untuk memperoleh pelayanan sekaligus penguatan dalam menjalankan tradisi keagamaan.

Bagi Kankemenag Barito Utara, kegiatan tersebut menjadi bagian dari pelayanan keagamaan yang hadir langsung di tengah masyarakat. Pendampingan tidak hanya diarahkan pada aspek pelaksanaan ritual, tetapi juga pada keberlanjutan pembinaan dan pelestarian tradisi keagamaan umat Hindu Kaharingan.

Ritual Pitra Yadnya di Desa Jaman pada akhirnya tidak hanya menjadi momentum penghormatan kepada mereka yang telah berpulang. Kegiatan tersebut juga mempertemukan nilai bakti kepada leluhur, kebersamaan keluarga, doa bagi mereka yang masih hidup, serta keberlanjutan tradisi keagamaan.

Melalui pendampingan tersebut, nilai-nilai penghormatan kepada leluhur, kepedulian terhadap keluarga, kebersamaan, dan keteguhan menjalankan ajaran agama terus dijaga di tengah umat Hindu Kaharingan Kabupaten Barito Utara.

Kontributor : I Made Juni Saputra


Berita Daerah LAINNYA