Belajar Ikhlas dalam Hindu, Penyuluh NTT Ajak Umat Jalani Dharma Tanpa Terikat Hasil

Berusaha dengan sungguh-sungguh, berbuat dengan tulus, dan menerima hasil dengan ikhlas

Kupang (Bimas Hindu) – Keikhlasan dalam menjalani kehidupan tidak berarti berhenti berusaha, melainkan kemampuan menerima hasil setelah menjalankan kewajiban dengan sungguh-sungguh. Pesan tersebut disampaikan Penyuluh Agama Hindu Provinsi Nusa Tenggara Timur, I Gusti Ayu Sukarmiasih, dalam Renungan Mutiara Agama Hindu Pro 1 Pagi RRI Kupang, Rabu (19/8/2026).

Mengangkat tema “Belajar Ikhlas dalam Hindu”, I Gusti Ayu Sukarmiasih mengajak umat memahami keikhlasan sebagai sikap batin yang perlu dibangun dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, manusia sering kali berbuat dan bekerja dengan harapan mendapatkan hasil tertentu. Ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan, kekecewaan dapat muncul dan memengaruhi ketenangan pikiran.

Karena itu, umat diajak memahami konsep Karma Yoga, yakni menjalankan kewajiban dengan sungguh-sungguh tanpa menjadikan hasil sebagai satu-satunya ukuran dari setiap usaha.

“Dalam ajaran Hindu, kita mengenal konsep Karma Yoga, yaitu melaksanakan kewajiban dengan sungguh-sungguh tanpa terikat pada hasilnya,” jelas I Gusti Ayu Sukarmiasih.

Ia menegaskan, ikhlas tidak sama dengan menyerah terhadap keadaan. Seseorang tetap perlu bekerja, berusaha, dan memberikan kemampuan terbaik yang dimiliki. Setelah seluruh proses dijalankan, hasil yang diperoleh diterima dengan hati terbuka.

Sikap tersebut dapat diterapkan melalui berbagai tindakan sederhana. Membantu tanpa menuntut balasan, berbuat baik tanpa menunggu pujian, memberi tanpa terus mengingat pemberian, serta mampu memaafkan merupakan bagian dari latihan membangun ketulusan dalam kehidupan.

Dalam renungan tersebut, keikhlasan juga dikaitkan dengan Tat Twam Asi, yang mengajarkan adanya keterhubungan antara manusia dengan sesama. Kesadaran tersebut dapat mendorong seseorang untuk lebih peduli, menghargai orang lain, dan membangun hubungan yang dilandasi kasih serta kepedulian.

“Dengan keikhlasan, pikiran menjadi lebih tenang, hati menjadi lebih lapang, dan kehidupan menjadi lebih damai,” ungkapnya.

Menurut I Gusti Ayu Sukarmiasih, keikhlasan juga diperlukan ketika seseorang menghadapi keadaan yang tidak sesuai dengan keinginannya. Menerima kekurangan, memaafkan kesalahan, maupun menerima hasil yang berbeda dari harapan merupakan proses pembelajaran untuk mengendalikan diri dan menjaga ketenangan batin.

Ia mengingatkan umat agar tidak menjadikan hasil sebagai satu-satunya alasan untuk berbuat baik. Nilai sebuah perbuatan juga terletak pada ketulusan ketika menjalankannya. Dengan demikian, seseorang dapat tetap berbuat baik sekalipun tidak selalu mendapatkan pengakuan atau balasan dari orang lain.

Melalui renungan tersebut, umat Hindu diajak menjadikan keikhlasan sebagai bagian dari praktik Dharma dalam kehidupan sehari-hari. Usaha tetap dilakukan secara maksimal, sementara hasilnya diterima dengan penuh kesadaran dan diserahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Sikap ikhlas diharapkan dapat membentuk pribadi yang lebih sabar, rendah hati, penuh kasih, serta mampu menghadapi dinamika kehidupan dengan pikiran yang lebih tenang. Dengan menjalankan kewajiban tanpa keterikatan berlebihan terhadap hasil, kehidupan dapat dijalani dengan lebih lapang dan selaras dengan nilai-nilai Dharma.

Kontributor : I Made Juni Saputra


Berita Daerah LAINNYA