Bukti Nyata Kemenag Berdampak, IAHN Mpu Kuturan Singaraja Fasilitasi Metatah Murah Berbasis Keumatan

Kegiatan Keagamaan Metatah

Singaraja (Bimas Hindu) — Pagi itu, Kadek Ayu Amerta Sari hadir bersama ayahnya, I Made Arthawan, dan saudaranya di Halaman Kampus IAHN Mpu Kuturan Singaraja. Kehadiran mereka bersama keluarga besar adalah untuk menunaikan salah satu Manusa Yadnya penting dalam perjalanan hidup umat Hindu, yakni metatah (potong gigi).

Bagi keluarga Ayu, metatah bukan sekadar ritual pendewasaan. Ada tanggung jawab keagamaan yang wajib ditunaikan, di tengah pertimbangan biaya upacara yang sering kali tak sedikit. Namun, beban itu terangkat saat mereka mengikuti Metatah Bersama Ke-10 yang digagas oleh IMK Singaraja pada Minggu (30/8/2026).

“Kami merasa sangat terbantu karena biayanya sangat terjangkau. Kami hanya memesan banten pejati dan sesari langsung ke panitia sebesar Rp100.000 per orang. Perlengkapan yang kami bawa dari rumah pun sederhana, hanya bunga kwangen dan tirta kemulan. Ini benar-benar sangat membantu kami,” ungkap Ayu penuh rasa lega.

Kisah Kadek Ayu menjadi cerminan dari 351 peserta yang memadati Halaman Kampus IMK Singaraja. Program ini menyedot antusiasme lintas daerah, mulai dari Buleleng, Jembrana, Karangasem, Tabanan, hingga peserta dari luar Pulau Bali seperti Kediri, Blitar, dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Upacara sakral ini dipuput oleh sulinggih dengan tahapan ritual yang lengkap dan runtut. Ketua Panitia Pelaksana, Ida Bhawati Dr. Ketut Agus Nova, menjelaskan bahwa prosesi diawali dari registrasi, magekeb (penyucian diri), mabiyakala, durmanggala, hingga prayascita.

Setelah memohon anugerah kepada Dewaning Tatah, peserta mengikuti natab banten menek bajang (ngeraja swala dan ngeraja singa), mapetik (potong rambut simbolis), merajah, hingga prosesi potong gigi di balai yang disiapkan. Rangkaian diakhiri dengan mapedudusan, sembah sungkem kepada orang tua, dan pembacaan Parama Santi.

Ketua panitia menegaskan bahwa metatah adalah sarana edukasi spiritual untuk mengikis sifat-sifat buruk (Sad Ripu) dalam diri manusia saat menapaki usia dewasa.

Sementara itu, Wakil Rektor III IMK Singaraja, Dr. I Nyoman Miarta Putra, M.Ag., menegaskan bahwa kegiatan yang diinisiasi oleh UKM Upakara kampus ini merupakan implementasi nyata dari konsep Kemenag Berdampak yang digagas Kementerian Agama RI dan Ditjen Bimas Hindu.

“Melalui kolaborasi sivitas akademika dan mahasiswa, kami ingin menghadirkan pengabdian masyarakat yang memberikan dampak langsung. Pengetahuan keagamaan di kampus tidak boleh berhenti di ruang kelas, tetapi harus menjelma menjadi pelayanan publik yang inklusif dan mampu meringankan beban ekonomi umat,” tegas I Nyoman Miarta Putra.

Bagi masyarakat, manfaat itu hadir secara nyata dalam bentuk kemudahan menunaikan kewajiban yadnya. Bagi IMK Singaraja, kegiatan ini adalah penjelmaan Tridharma Perguruan Tinggi. Bagi keluarga seperti Kadek Ayu, maknanya mendalam: menunaikan tradisi suci tanpa harus terbebani materi.


Berita Daerah LAINNYA