Lampung Tengah (Bimas Hindu) — Mencegah tindakan perundungan (bullying) dan merawat toleransi di lingkungan sekolah membutuhkan kolaborasi nyata dari berbagai pihak. Langkah inklusif ini diwujudkan melalui Sinergi Pembinaan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) yang melibatkan kolaborasi Penyuluh Agama Hindu dan Penyuluh Agama Islam di SMAN 1 Seputih Mataram, Kabupaten Lampung Tengah, Selasa (1/9/2026).
Kegiatan edukasi karakter secara masif ini diikuti oleh sekitar 900 siswa-siswi kelas X, XI, dan XII. Hadirnya penyuluh lintas agama di tengah ratusan pelajar menjadi simbol pentingnya menanamkan nilai-nilai empati, saling menghormati, dan moderasi beragama di ruang pendidikan formal.
Dalam pembekalan tersebut, ditegaskan bahwa perundungan bukanlah sekadar bentuk gurauan atau perselisihan biasa, melainkan perilaku berulang yang sengaja merendahkan martabat orang lain dan membawa dampak buruk jangka panjang bagi kesehatan mental serta perkembangan karakter korban.
Para pelajar diajak untuk mengenali empat bentuk perundungan yang sering terjadi di lingkungan remaja: perundungan fisik, perundungan verbal, perundungan sosial/relasional (pengucilan), serta cyberbullying yang marak di media sosial.
"Setiap perkataan dan tindakan yang menyakiti maupun mempermalukan orang lain dapat meninggalkan luka yang serius. Bullying bukanlah bercandaan. Kita harus belajar menghargai perbedaan, menjaga tutur kata di dunia nyata maupun digital, dan berani menghentikan perundungan sejak dini," tegas Penyuluh Agama Hindu Kemenag Lampung Tengah, Darwiyati, S.Pd., S.H., saat menyampaikan materi keumatan.
Ia juga menekankan agar para siswa tidak menjadi penonton yang pasif ketika melihat tindakan perundungan, melainkan berani mengambil peran sebagai pelindung dan merangkul teman yang menjadi korban. Penggunaan media sosial secara bijak dan bertanggung jawab turut menjadi poin penting yang ditanamkan kepada generasi muda tersebut.
Kolaborasi pembinaan lintas agama ini membuktikan bahwa nilai-nilai universal ajaran keagamaan baik Hindu maupun Islam memiliki titik temu yang kuat dalam membangun budaya kasih sayang, menghargai keberagaman, dan menciptakan iklim sekolah yang aman dan nyaman.
Melalui pembinaan karakter berbasis sinergi keagamaan ini, 900 siswa SMAN 1 Seputih Mataram diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang menolak segala bentuk kekerasan, sekaligus merawat harmoni sosial di tengah masyarakat multikultural.
Kontributor: ketut suwarta