Menyelami Esensi Ketuhanan, 90 Warga Binaan Lapas Narkotika Bangli Diperkuat Landasan Bhakti

Penyuluh Agama Hindu Kemenag Kabupaten Bangli memberikan bimbingan rohani mendalam bagi 90 orang Warga Binaan

Bangli (Bimas Hindu) — Kementerian Agama terus memperkuat komitmen dalam memberikan pelayanan keagamaan yang inklusif, adil, dan berdampak bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Melalui program pembinaan spiritual, Penyuluh Agama Hindu Kemenag Kabupaten Bangli memberikan bimbingan rohani mendalam bagi 90 orang Warga Binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIA Bangli, Rabu (2/9/2026).

Mengangkat tema "Menyelami Esensi Ketuhanan dalam Pemujaan", kegiatan ini dirancang untuk membangkitkan kesadaran batin para warga binaan agar mampu meresapi makna pemujaan sebagai jalan penyucian diri dan penghubung dengan Ida Sanghyang Widhi Wasa.

Penyuluh Agama Hindu Kemenag Bangli, I Wayan Sudarma, menjelaskan bahwa pemujaan tidak sekadar ritual fisik, melainkan penyerahan diri secara total dengan rasa cinta (Bhakti).

"Melalui pemujaan, manusia menyadari keterbatasan dirinya dan membangun ikatan batin dengan realitas tertinggi. Hubungan pemuja dengan Yang Dipuja diibaratkan seperti hubungan anak dengan orang tua atau ikatan persahabatan yang tulus. Kami mengajak warga binaan hadir dalam pemujaan sebagai bentuk kecintaan dan penyesalan yang jujur," jelas I Wayan Sudarma.

Sementara itu, Ni Wayan Wiraswastini menekankan bahwa proses menyelami esensi Ketuhanan harus diimbangi dengan tekad kuat untuk mengendalikan hawa nafsu dan perilaku personal di kehidupan sehari-hari.

"Untuk menyelami esensi Ketuhanan, kita harus mampu mengendalikan diri tidak hanya menjaga asupan makanan dan minuman, tetapi juga mengendalikan indriya dari perbuatan adharma. Energi tersebut harus dialihkan pada kebaikan, kebajikan, serta kepatuhan terhadap norma etika kesantunan," tegasnya.

Melalui pendampingan keagamaan secara berkelanjutan ini, Kemenag Bangli berharap 90 warga binaan Lapas Narkotika tidak hanya memperoleh ketenangan batin selama menjalani masa pemasyarakatan, tetapi juga memiliki fondasi moral dan kesadaran spiritual yang kokoh saat kembali ke tengah masyarakat kelak.

 

Kontributor: I Wayan Sudarma


Berita Daerah LAINNYA