Deho Devalayah Proktah: Memaknai Tubuh sebagai Pura Suci dalam Proses Pemulihan Kesehatan

Bertempat di Ruang Dharmawangsa RSJ Manah Santhi Mahottama Bangli

Bangli (Bimas Hindu) — Pelayanan keagamaan dan bimbingan rohani terus diakselerasi oleh Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bangli secara inklusif. Bertempat di Ruang Dharmawangsa RSJ Manah Santhi Mahottama Bangli, dua Penyuluh Agama Hindu Kemenag Bangli, I Wayan Sudarma dan Ni Wayan Wiraswastini, memberikan bimbingan rohani mendalam bagi 26 orang rehabilitan NAPZA, Selasa (1/9/2026).

Dalam pendampingan spiritual kali ini, para rehabilitan diajak untuk memahami pentingnya merawat diri sendiri melalui pendekatan teks suci Hindu. Tubuh manusia dalam ajaran Hindu dipandang sebagai Devalaya (sthana atau rumah suci para dewa), sebagaimana termuat dalam pustaka suci Maitriya Upanisad: “Deho devalayah proktah, sa jiva kevala sivah” (Badan itu adalah rumah suci para dewa, dan jiwa itu sendiri adalah Siwa yang meresapi segalanya).

Penyuluh Agama Hindu Kemenag Bangli, I Wayan Sudarma, menekankan bahwa jika tubuh adalah sebuah Devalaya, maka seseorang wajib memperlakukannya layaknya merawat tempat suci tidak mengotorinya, tidak memasukkan zat perusak, dan tidak membiarkan lingkungannya kacau.

Namun, ia menegaskan bahwa pendekatan spiritual bagi para korban penyalahgunaan zat adiktif tidak boleh berhenti pada narasi penghukuman atau stigmatisasi.

"Pendekatan kita tidak boleh berhenti pada kalimat 'tubuhmu sudah rusak', melainkan harus membawa narasi pemulihan yang kuat: 'tubuhmu dan hidupmu masih sangat berharga, mari kita rawat kembali Devalaya ini'. Ini bukan soal rasa malu atau stigma, melainkan tentang kesadaran, penerimaan, pertolongan, disiplin, dan harapan akan kehidupan baru," tegas I Wayan Sudarma di hadapan para rehabilitan.

Sementara itu, Penyuluh Ni Wayan Wiraswastini membekali para peserta dengan rumusan konsep Sehat Holistik. Menurutnya, kesehatan dalam Hindu merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan antara fisik, pikiran, emosi, mental, relasi sosial, dan jiwa.

"Sehat itu bukan sekadar 'saya tidak sakit secara fisik'. Sehat yang utuh adalah ketika kita mampu merawat tubuh, mengelola pikiran, memahami emosi, berhubungan baik dengan sesama, serta terus mengembangkan kesadaran spiritual," ungkap Ni Wayan Wiraswastini.

Melalui bimbingan rohani berbasis edukasi filosofis ini, Kemenag Bangli berharap para rehabilitan NAPZA di RSJ Manah Santhi Mahottama dapat menemukan kembali pijakan mental yang resilien, melepaskan ketergantungan, serta siap menata masa depan dengan tubuh dan jiwa yang suci kembali.

 

Kontributor: I Wayan Sudarma


Berita Daerah LAINNYA