Semarapura (Bimas Hindu) Di balik tembok Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Klungkung, rasa syukur tidak dimaknai sebagai sikap pasrah terhadap keadaan. Bagi warga binaan, bersyukur justru dapat menjadi pijakan untuk menerima masa lalu, mengambil pelajaran, dan terus berusaha memperbaiki diri.
Pesan tersebut disampaikan Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Klungkung, Ni Made Okta Rapinanti, saat memberikan penyuluhan agama Hindu kepada warga binaan Rutan Klungkung, Selasa (11/8/2026).
Mengangkat tema “Bersyukur Tanpa Berhenti Bertumbuh dalam Hindu”, penyuluhan menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan spiritual bagi warga binaan. Okta mengajak peserta tidak melihat masa pembinaan semata sebagai masa menunggu, tetapi sebagai kesempatan untuk melakukan introspeksi dan mempersiapkan kehidupan yang lebih baik setelah kembali ke tengah masyarakat.
“Bersyukur bukan berarti berhenti berusaha. Justru dengan bersyukur kita belajar menerima apa yang telah terjadi, kemudian menjadikan setiap keadaan sebagai pijakan untuk melangkah dan bertumbuh menjadi lebih baik,” ujar Okta.
Untuk memperkuat pemahaman tersebut, Okta mengangkat ajaran Bhagawad Gita Bab II Sloka 47. Ajaran tersebut menekankan pentingnya melaksanakan kewajiban dengan sungguh-sungguh tanpa terlalu terikat pada hasil yang diperoleh.
“Sloka tersebut mengajarkan pentingnya menjalani setiap proses dengan sungguh-sungguh tanpa terlalu terikat pada hasil,” sambung Okta.
Menurut Okta, pesan tersebut relevan dengan kondisi warga binaan yang sedang menjalani proses pembinaan. Setiap orang tetap memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri selama masih diberikan waktu dan kesempatan untuk belajar.
Karena itu, masa pembinaan dapat dimanfaatkan untuk melakukan introspeksi, memperbaiki kesalahan, meningkatkan kualitas diri, sekaligus mempersiapkan kehidupan yang lebih baik ketika kembali ke tengah masyarakat.
Sepanjang kegiatan, warga binaan mengikuti penyuluhan dengan antusias. Dialog yang terbangun menunjukkan bahwa nilai-nilai spiritual dapat menjadi sumber kekuatan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Melalui layanan keagamaan tersebut, Kementerian Agama Kabupaten Klungkung menghadirkan pembinaan spiritual bagi warga binaan pemasyarakatan. Penguatan mental dan spiritual diharapkan dapat menumbuhkan harapan, optimisme, serta semangat untuk berubah.
Pesan yang dibawa sederhana: masa lalu tidak harus menjadi alasan untuk berhenti bertumbuh. Bersyukur berarti mampu menerima apa yang telah terjadi, sementara berusaha adalah bagian dari tanggung jawab untuk menjalani proses kehidupan dengan lebih baik.
Kegiatan ini sejalan dengan Asta Protas Kementerian Agama RI, khususnya Layanan Keagamaan Berdampak, melalui pembinaan dan pendampingan spiritual yang menjangkau berbagai lapisan masyarakat serta memberikan manfaat nyata dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat.
Kontributor : Wisnawa