Dari Singkong hingga Rejang Renteng, WHDI DIY Dorong Perempuan Hindu Mandiri dan Lestarikan Budaya

Pertemuan Gabungan WHDI Provinsi DIY di Pura Santi Loka, Gunungkidul, memadukan pemberdayaan ekonomi melalui pelatihan pembuatan kerupuk singkong.

Gunungkidul (Bimas Hindu) Pemberdayaan perempuan Hindu tidak hanya berbicara tentang perannya di dalam keluarga. Perempuan juga dapat menjadi penggerak ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan tradisi dan budaya Hindu.

Semangat tersebut ditunjukkan Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Daerah Istimewa Yogyakarta melalui Pertemuan Gabungan WHDI Provinsi DIY di Pura Santi Loka, Banaran, Playen, Gunungkidul, Sabtu (29/8/2026).

Pertemuan yang melibatkan jajaran WHDI kabupaten/kota se-DIY itu memadukan dua kegiatan berbeda, yakni pelatihan pembuatan kerupuk singkong dan pelatihan Tari Rejang Renteng.

Ketua WHDI Gunungkidul Yuli Widyaningsih mengatakan kegiatan tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas sekaligus kemandirian perempuan Hindu.

“Pertemuan gabungan ini tidak sekadar menjadi ajang bertukar kabar, tetapi juga momentum strategis untuk meningkatkan kapasitas diri kaum perempuan Hindu. Melalui kegiatan hari ini, kita tidak hanya mempererat ikatan persaudaraan, tetapi juga membekali diri dengan keterampilan ekonomi melalui pelatihan pembuatan kerupuk singkong serta melestarikan seni budaya adiluhung melalui pelatihan Tari Rejang Renteng,” ungkap Yuli.

Singkong dipilih sebagai salah satu contoh potensi lokal yang dapat diolah menjadi produk bernilai tambah. Keterampilan pengolahan pangan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan pelatihan, tetapi dapat dikembangkan menjadi peluang ekonomi yang mendukung kemandirian perempuan dan kesejahteraan keluarga.

Di sisi lain, pelatihan Tari Rejang Renteng menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan seni dan budaya Hindu. Tari tersebut bukan hanya memiliki dimensi seni, tetapi juga mengandung nilai spiritual sebagai bagian dari persembahan sekaligus penguatan sradha dan bhakti.

Pembimbing Masyarakat Hindu Kanwil Kementerian Agama Provinsi DIY Didik Widya Putra mengapresiasi pola pemberdayaan yang memadukan penguatan ekonomi dengan pelestarian budaya.

Menurut Didik, pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan kualitas perempuan Hindu dapat dilakukan secara menyeluruh dengan memperhatikan keseimbangan kebutuhan material dan spiritual.

“Kegiatan hari ini memadukan dua aspek penting dalam kehidupan umat Hindu, yaitu kesejahteraan material melalui kemandirian ekonomi dan kesejahteraan spiritual-kultural melalui pelestarian tradisi. Keseimbangan antara artha dan dharma menjadi bagian penting dalam membangun keluarga yang suka basuki, bahagia dan sejahtera,” jelas Didik.

Didik berharap keterampilan yang diperoleh peserta dapat dikembangkan setelah kegiatan selesai dan ditularkan kepada perempuan Hindu di wilayah masing-masing.

“Ilmu yang didapatkan hari ini hendaknya tidak berhenti di ruangan ini saja, melainkan ditularkan kepada umat di wilayah masing-masing sehingga memberikan dampak yang lebih luas bagi kemajuan masyarakat Hindu di Daerah Istimewa Yogyakarta,” pesan Didik.

Ketua WHDI Provinsi DIY I Nyoman Trisnawati menegaskan bahwa perempuan Hindu memiliki posisi strategis dalam membangun ketahanan keluarga, menjaga nilai moral, sekaligus melestarikan budaya.

“Wanita Hindu Dharma Indonesia memiliki peran yang sangat krusial sebagai tiang penyangga keluarga, pelindung moral masyarakat, sekaligus motor penggerak pelestarian budaya. Hari ini kita membuktikan bahwa peran tersebut dijalankan secara nyata,” tutur Trisnawati.

Melalui pengolahan potensi lokal seperti singkong, perempuan Hindu didorong semakin produktif dan memiliki keterampilan yang berpotensi memberikan nilai ekonomi. Pada saat yang sama, keterlibatan dalam pelestarian Tari Rejang Renteng memastikan nilai agama, seni, dan budaya tetap diwariskan.

Pertemuan Gabungan WHDI DIY tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan dapat berjalan beriringan dengan pelestarian identitas Hindu. Ketika perempuan memiliki kapasitas ekonomi yang semakin kuat dan tetap terlibat dalam menjaga tradisi, manfaatnya tidak hanya dirasakan individu, tetapi juga keluarga dan kehidupan umat Hindu secara lebih luas.

Kontributor: Heni Purwanti


Berita Daerah LAINNYA