Nganjuk (Bimas Hindu) — Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Jagadhita Bhumi dari Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) Jawa Dwipa Klaten berkolaborasi erat dengan Dewan Pimpinan Kabupaten (DPK) Peradah Kabupaten Nganjuk dalam melaksanakan aksi peduli lingkungan berupa penanaman pohon.
Kegiatan pelestarian alam ini difokuskan di sejumlah titik rawan sumber mata air yang berada di wilayah Desa Bajulan, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk, pada Senin (17/8/2026).
Beberapa jenis bibit pohon penyangga yang ditanam dalam aksi ini antara lain beringin, jambu air, randu, pinang, serta berbagai jenis tanaman lokal lainnya yang disesuaikan dengan kontur dan kondisi ekosistem sekitar.
Aksi penanaman pohon ini tidak hanya sekadar dimaknai sebagai rutinitas penghijauan biasa. Lebih dari itu, langkah ini dihayati sebagai bentuk pertanggungjawaban spiritual dan moral manusia dalam menjaga keseimbangan alam semesta.
Brata, selaku penanggung jawab kegiatan, menjelaskan bahwa inisiatif ini merupakan implementasi langsung dari pemahaman keagamaan, khususnya konsep ekoteologi Hindu.
“Dengan adanya program kerja ini, kami berharap dapat mempertahankan kelestarian sumber mata air. Penanaman pohon merupakan salah satu bentuk penerapan nyata ekoteologi, yaitu bagaimana manusia memahami bahwa alam bukan sekadar sumber daya yang bebas dieksploitasi dan dimanfaatkan, tetapi merupakan bagian integral dari kehidupan yang mutlak harus dijaga dan dihormati,” urai Brata di sela-sela kegiatan.
Mengusung tema besar "Sewaka Dharma Mahasiswa Memperkuat Ekoteologi", program pengabdian kepada masyarakat ini dirancang untuk memberikan dampak jangka panjang.
Tujuan ekologis utamanya adalah membantu menjaga stabilitas kontur tanah, meningkatkan kapasitas resapan air, memitigasi risiko erosi, serta mempertahankan kelangsungan debit sumber mata air bagi masyarakat desa. Tanaman beringin dan jenis pohon keras lainnya diproyeksikan akan tumbuh menjadi benteng penyangga ekologis bagi kawasan Bajulan.
Melalui kegiatan pengabdian lintas elemen ini, diharapkan dapat memantik kesadaran kolektif di kalangan generasi muda untuk terus berkomitmen merawat pohon yang telah ditanam. Keberlanjutan lingkungan hidup mutlak membutuhkan keterlibatan bersama, karena menjaga warisan kelestarian mata air bukanlah semata tanggung jawab pemerintah, melainkan kewajiban Dharma dari seluruh elemen masyarakat.
Kontributor: Toto Margiyono