Klungkung (Bimas Hindu) --- Bunga bukan sekadar sarana pelengkap dalam ritual persembahyangan umat Hindu, melainkan simbol filosofis dari ketulusan, kesucian hati, dan wujud bhakti. Hal tersebut dikupas tuntas oleh Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Klungkung saat hadir sebagai narasumber dalam kegiatan Dharma Tula bersama Ikatan Hindu Dharma Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP), Kamis (20/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui aplikasi Zoom Meeting dari Ruang Penyuluh Agama Hindu Kemenag Klungkung ini diikuti oleh kurang lebih 30 peserta. Mengusung tema “Makna Filosofis Bunga Menurut Sastra Agama Hindu,” kegiatan ini dirancang sebagai ruang edukasi keagamaan interaktif guna memperkuat sraddha dan bhakti umat Hindu, khususnya bagi aparatur sipil negara di lingkungan Kemendagri dan BNPP.
Penyuluh Agama Hindu Kemenag Klungkung, Dewa Ngakan Hardi Putra, dalam pemaparannya mengajak para peserta untuk membedah penggunaan bunga dari kacamata nilai-nilai tattwa dan literatur sastra agama Hindu. Ia menekankan pentingnya pemahaman etika serta kriteria bunga yang layak (patra) maupun yang wajib dihindari dalam persembahan.
"Dharma Tula ini menjadi bagian penting untuk memberikan pemahaman lebih mendalam mengenai makna dan fungsi filosofis bunga yang digunakan dalam persembahyangan, termasuk memahami bunga yang dapat digunakan maupun yang tidak," terang Dewa Ngakan Hardi Putra.
Ia menambahkan bahwa ketulusan dan kesucian niat saat mempersembahkan bunga merupakan cerminan cinta kasih serta penghambaan tulus kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Senada dengan hal tersebut, Penyuluh Agama Hindu Kemenag Klungkung, Ayu Putri Suryaningrat, menyampaikan bahwa literasi keagamaan mengenai sarana upakara sangat krusial agar pelaksanaan ritual tidak sebatas rutinitas formalitas semata.
"Melalui kegiatan ini, kami mengajak umat Hindu sedharma tidak hanya memahami makna bunga secara lebih mendalam, tetapi juga menerapkannya dalam setiap kegiatan keagamaan dan menjadi teladan di masyarakat," ungkap Ayu Putri.
Pelaksanaan Dharma Tula berbasis digital ini juga menjadi sarana pembinaan keagamaan yang adaptif dan inklusif, memungkinkan penjangkauan umat Hindu hingga ke berbagai wilayah tanpa batas geografis.
Langkah inovatif ini selaras dengan program prioritas Asta Protas Kemenag RI yang dicanangkan oleh Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, khususnya pada pilar Layanan Keagamaan Berdampak. Melalui pembinaan yang aplikatif, Bimas Hindu terus berkomitmen menghadirkan bimbingan keagamaan yang relevan, berbobot, serta dapat diterapkan langsung oleh umat dalam kehidupan sehari-hari.
Kontributor : Wisnawa