Layanan MUTIARA Hadirkan Penyuluhan Agama Hindu melalui Seni Topeng Bondres di Karangasem

Seni menjadi jembatan menyampaikan Dharma. Melalui MUTIARA, pesan kerukunan, toleransi, dan ekoteologi hadir lebih dekat dengan umat.

Karangasem (Bimas Hindu) - Kantor Kementerian Agama Kabupaten Karangasem melalui Satuan Kerja Urusan Agama Hindu menghadirkan inovasi Layanan MUTIARA (Program Penyuluhan Multi Agama Ramah dan Adaptif) melalui seni wewalen dalam rangka pelaksanaan Upacara Aci Usaba Sri di Desa Adat Bungaya, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem.

Kegiatan tersebut dipimpin oleh Kepala Seksi Urusan Agama Hindu, I Ketut Wirata, dengan menghadirkan seni Topeng Bondres sebagai media bimbingan dan penyuluhan keagamaan. Inovasi tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan pelayanan keagamaan yang lebih kontekstual dengan budaya dan kehidupan masyarakat.

Melalui Layanan MUTIARA, bimbingan dan penyuluhan agama Hindu tidak hanya disampaikan melalui metode konvensional, tetapi dikemas menggunakan seni tradisional yang telah menyatu dengan kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat. Topeng Bondres dipilih karena mampu menghadirkan pesan edukatif secara komunikatif, ringan, dan menghibur sehingga nilai-nilai keagamaan dapat diterima tanpa kesan menggurui.

Dalam pementasan tersebut diangkat tema “Membangun Kerukunan Antar dan Intern Umat Beragama serta Ekoteologi.” Pesan yang disampaikan mencakup pentingnya menjaga kerukunan, menghormati perbedaan, memperkuat toleransi, serta membangun kepedulian terhadap alam dan lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab manusia dalam menjalankan kehidupan beragama.

Pemanfaatan seni sebagai media penyuluhan menjadi kekuatan utama Layanan MUTIARA. Pesan keagamaan disampaikan melalui ruang budaya yang sudah akrab dengan masyarakat. Pendekatan ini memungkinkan penyuluhan hadir di tengah kegiatan keagamaan tanpa memisahkan nilai edukasi dari tradisi yang sedang dijalankan.

Kasi Urusan Agama Hindu, I Ketut Wirata, mengatakan seni merupakan media yang efektif untuk mendekatkan pesan keagamaan dengan kehidupan masyarakat.

Seni merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Bali. Melalui MUTIARA, kami berupaya menjadikan seni sebagai ruang penyampaian pesan Dharma agar bimbingan keagamaan lebih mudah diterima, menyenangkan, dan tetap memiliki nilai edukatif,” ujar I Ketut Wirata.»

Menurutnya, pendekatan berbasis seni juga dapat memperkuat pesan kerukunan dan kepedulian terhadap lingkungan.

Pesan tentang kerukunan, toleransi, dan ekoteologi akan lebih kuat ketika disampaikan melalui media yang dekat dengan kehidupan umat. Harapannya, pesan tersebut tidak berhenti sebagai tontonan, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” tambahnya.»

Ia menegaskan, penyuluhan keagamaan perlu terus dikembangkan agar mampu menyesuaikan diri dengan karakter masyarakat dan perkembangan kebutuhan umat.

«“Kami ingin penyuluhan keagamaan hadir di tengah masyarakat dengan cara yang ramah, adaptif, dan sesuai dengan konteks budaya setempat. Seni menjadi jembatan untuk membangun komunikasi sekaligus menyampaikan nilai-nilai Dharma secara lebih dekat dengan umat,” jelas I Ketut Wirata.»

Selain memfasilitasi bimbingan dan penyuluhan melalui seni wewalen, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Karangasem juga memfasilitasi sekaa penabuh dan penari sebagai bagian dari pelengkap prosesi upacara. Kehadiran unsur seni tersebut turut memperkuat suasana sakral sekaligus mendukung keberlangsungan seni dan budaya lokal dalam pelaksanaan kegiatan keagamaan.

Melalui Layanan MUTIARA, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Karangasem terus mengembangkan model penyuluhan yang ramah, adaptif, dan berbasis budaya. Integrasi pelayanan keagamaan, seni tradisional, dan pesan-pesan Dharma diharapkan mampu memperkuat kerukunan antar dan intern umat beragama, menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan, sekaligus menjaga keberlanjutan seni budaya sebagai bagian dari kehidupan keagamaan masyarakat.

Kontributor : I Made Juni Saputra


Berita Daerah LAINNYA