Lampung Tengah (Bimas Hindu) - Momentum Hari Suci Galungan menjadi pengingat penting bagi umat Hindu untuk tidak hanya merayakan kemenangan Dharma secara seremonial, tetapi juga mengimplementasikan nilai-nilai kebenaran dalam kehidupan sehari-hari. Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan penyuluhan keagamaan yang dilaksanakan di sela rangkaian piodalan Pura Kawitan Arya Wang Bang Sidemen, Desa Restu Baru, Kecamatan Rumbia, Kamis (11/6/2026).
Penyuluhan yang diberikan oleh Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Lampung Tengah, I Gusti Ngurah Adi Narendra Yoga, diikuti umat Hindu yang hadir dalam piodalan. Kegiatan ini menjadi bagian dari pembinaan keagamaan untuk memperdalam pemahaman umat terhadap makna Hari Suci Galungan yang dalam waktu dekat akan dirayakan oleh umat Hindu.
Dalam penyampaiannya, Ngurah Adi Narendra Yoga menjelaskan bahwa Galungan memiliki makna filosofis yang sangat mendalam, yakni kemenangan Dharma atau kebenaran melawan Adharma atau ketidakbenaran. Menurutnya, kemenangan tersebut tidak cukup dimaknai sebagai simbol keagamaan semata, tetapi harus diwujudkan melalui sikap hidup yang berlandaskan nilai-nilai dharma.
“Hari Suci Galungan merupakan momentum spiritual untuk memperkuat śraddhā dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Kemenangan Dharma harus tercermin dalam perilaku sehari-hari melalui pengendalian diri, kejujuran, kedisiplinan, serta komitmen menjalankan ajaran agama secara konsisten,” ujarnya.
Ia menambahkan, tantangan kehidupan modern yang semakin kompleks menuntut umat Hindu untuk memiliki fondasi spiritual yang kuat. Semangat Galungan, kata dia, dapat menjadi pedoman dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan tanpa meninggalkan nilai-nilai agama yang diwariskan para leluhur.
Selain membahas makna Galungan, umat juga diajak untuk memahami pentingnya menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan sebagaimana diajarkan dalam konsep Tri Hita Karana. Keharmonisan ketiga aspek tersebut dinilai menjadi kunci terciptanya kehidupan yang damai, sejahtera, dan berkelanjutan.
“Nilai-nilai Galungan akan memberikan manfaat nyata apabila diterapkan dalam kehidupan keluarga, lingkungan kerja, maupun kehidupan bermasyarakat. Dharma harus hidup dalam tindakan, bukan hanya dipahami dalam konsep atau teori,” katanya.
Antusiasme umat terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Sejumlah peserta memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berdiskusi dan memperdalam pemahaman mengenai makna Hari Suci Galungan serta relevansinya dalam kehidupan masa kini.
Pesan-pesan yang disampaikan dalam penyuluhan tersebut menjadi pengingat bahwa makna Galungan sesungguhnya terletak pada kemampuan umat menjaga kemenangan Dharma dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan. Dengan demikian, semangat Galungan tidak berhenti pada perayaan keagamaan, melainkan terus hidup dan menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
#Bimas Hindu #Makna Galungan #Hindu #Zona Integritas