Guru Hindu Banyuwangi Didorong Jadikan Pura Bersejarah sebagai Sumber Belajar

Guru Pendidikan Agama Hindu SMP Banyuwangi mengikuti kegiatan MGMP PAH untuk mengembangkan pembelajaran berbasis kekayaan lokal.

Banyuwangi (Bimas Hindu) Pura tidak hanya menjadi tempat persembahyangan, tetapi juga dapat menjadi sumber pembelajaran Pendidikan Agama Hindu. Kekayaan sejarah dan budaya yang melekat pada pura-pura di Banyuwangi didorong untuk diolah menjadi bahan ajar yang lebih dekat dengan kehidupan peserta didik.

Gagasan tersebut mengemuka dalam kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu (MGMP PAH) tingkat SMP Kabupaten Banyuwangi yang digelar di Aula SMP Negeri 2 Genteng, Sabtu (8/8/2026). Kegiatan diikuti sekitar 25 guru Pendidikan Agama Hindu tingkat SMP.

Penyelenggara Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Oksan Wibowo, mendorong MGMP PAH tidak hanya menjadi forum pertemuan rutin, tetapi berkembang menjadi ruang kolaborasi yang menghasilkan karya pembelajaran. Salah satu yang dapat dikembangkan adalah bahan ajar dan Lembar Kerja Siswa (LKS) yang mengangkat local genius Banyuwangi.

Menurut Oksan, Banyuwangi memiliki banyak potensi lokal yang dapat menjadi sumber pembelajaran Pendidikan Agama Hindu. Keberadaan pura dengan nilai historis dan karakteristik budaya tertentu menjadi salah satu potensi yang dapat digali oleh para guru.

“Syukur-syukur MGMP bisa membuat LKS sendiri dengan mengangkat local genius yang ada di Banyuwangi. Banyak pura yang memiliki nilai historis dan bisa menjadi sumber pembelajaran bagi anak-anak,” ujar Oksan.

Gagasan tersebut menempatkan MGMP bukan sekadar sebagai wadah koordinasi, tetapi sebagai ruang bagi guru untuk bersama-sama mengembangkan materi pembelajaran yang sesuai dengan lingkungan peserta didik. Pengalaman dan pengetahuan masing-masing guru dapat dihimpun untuk menghasilkan bahan pembelajaran yang lebih kontekstual.

Ketua MGMP PAH SMP Kabupaten Banyuwangi, Dedy Yoga Rinata, menegaskan bahwa semangat berbagi menjadi bagian penting dari keberadaan MGMP. Guru dapat memanfaatkan forum tersebut untuk saling membantu dalam menyiapkan berbagai kebutuhan pembelajaran Pendidikan Agama Hindu.

“Jangan pernah mengeluh ketika harus membuat soal, materi dan perangkat pembelajaran lainnya. Memang inilah fungsi MGMP, menjadi tempat kita berbagi semua hal yang berkaitan dengan pendidikan agama Hindu, khususnya untuk anak-anak kita di tingkat SMP,” kata Dedy.

Dedy menilai kebersamaan antarguru menjadi kekuatan penting dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Dengan saling berbagi pengalaman dan pengetahuan, guru dapat mengembangkan pembelajaran yang lebih baik dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Sementara itu, Kepala SMP Negeri 2 Genteng, Saiful Khoderi, menyambut baik pelaksanaan MGMP PAH di sekolahnya. Menurutnya, peningkatan kualitas guru memiliki keterkaitan langsung dengan perkembangan peserta didik.

Saiful juga mengingatkan bahwa peran guru tidak berhenti pada transfer ilmu pengetahuan. Guru perlu membangun kedekatan emosional dengan peserta didik sehingga dapat memberikan perhatian dan pendampingan selama anak berada di lingkungan sekolah.

Ia berharap keberadaan MGMP PAH dapat memberikan dampak positif, baik terhadap peningkatan kualitas guru maupun perkembangan peserta didik.

Bagi Oksan, langkah berikutnya adalah memastikan forum MGMP mampu menghasilkan sesuatu yang dapat dirasakan manfaatnya. Karena itu, selain berbagi materi dan pengalaman, guru didorong mengembangkan produk pembelajaran seperti bahan ajar, bank soal, dan LKS yang mengangkat kekayaan lokal Banyuwangi.

Kekayaan pura-pura bersejarah menjadi salah satu potensi yang dapat dikembangkan dalam produk tersebut. Dengan mengangkat sumber belajar yang berada di sekitar peserta didik, pembelajaran Pendidikan Agama Hindu diharapkan menjadi lebih kontekstual dan tidak terlepas dari lingkungan sosial serta budaya tempat mereka tumbuh.

Dengan demikian, MGMP PAH tidak hanya menjadi tempat guru bertemu, tetapi menjadi ruang untuk mengolah pengalaman dan kekayaan lokal menjadi pengetahuan yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya melalui pendidikan.

Melalui kolaborasi tersebut, Kemenag Banyuwangi berharap lahir ekosistem guru Pendidikan Agama Hindu yang semakin solid, profesional, dan produktif. Dari forum guru, diharapkan lahir gagasan dan karya pembelajaran yang berakar pada kekayaan lokal Banyuwangi sekaligus memperkuat kualitas pendidikan agama Hindu bagi generasi muda.

Kontributor : Yayan Bimantara


Berita Daerah LAINNYA