Sleman (BIMAS HINDU) Suasana penuh khidmat, kebersamaan, dan getaran spiritual terasa kental di Pura Widya Dharma, Dero, Wedomartani, Sleman. Umat Hindu bersama Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Sleman menggelar ritual doa syukuran bersama untuk memperingati Hari Jadi ke-110 Kabupaten Sleman. Kegiatan ini menjadi ruang penguatan harmoni lintas umat sekaligus sinergi pelayanan keagamaan antara pemerintah daerah dan Kementerian Agama yang membaur dalam visi kerukunan (14/5/2026).
Mengusung tema “Nggendong Mikul Murih Rahayuning Sleman”, kegiatan ini tidak sekadar menjadi ritual seremonial ungkapan rasa syukur. Lebih dari itu, momentum ini menjadi pemantik untuk memperkuat kembali nilai gotong royong, kebersamaan, serta tanggung jawab kolektif dalam menjaga keharmonisan (Manggala) dan kesejahteraan masyarakat Sleman secara lahir dan batin (Moksartham Jagadhita ca iti Dharma).
Semangat kerukunan universal tampak jelas dari kebersamaan lintas unsur yang hadir. Untaian doa yang dipanjatkan ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa menjadi wujud ketulusan harapan agar Kabupaten Sleman senantiasa dianugerahi keselamatan, kemajuan, serta kedamaian yang lestari bagi seluruh warganya.
Hadir dalam kegiatan tersebut Sekda Kabupaten Sleman Susmiyarta di dampingi Kabag Kesra Wiyato Widodo, Kasi PD Pontren Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman H. Achmad Fauzi mewakili Kepala Kantor Kemenag Sleman, Ketua PHDI Sleman, Penyuluh Agama Hindu Kankemenag Sleman, serta umat Hindu Kabupaten Sleman.
Ketua PHDI Sleman, Untung Waluyo, dalam pandangan religiusnya menekankan makna mendalam dari tema yang diangkat. Sinergi antara kearifan lokal Jawa dan nilai-nilai universal Hindu melekat kuat dalam perayaan ini.
“Nggendong mikul murih rahayuning Sleman mengandung filosofi luhur tentang kebersamaan dalam memikul tanggung jawab dan saling menopang satu sama lain. ‘Nggendong’ melambangkan welas asih, kasih sayang, dan kepedulian, sementara ‘mikul’ adalah bentuk tanggung jawab bersama. Jika nilai-nilai ini diimplementasikan secara nyata, maka keselamatan dan kesejahteraan Sleman akan terwujud seutuhnya,” jelas Untung
Apresiasi terhadap kedewasaan toleransi di Sleman juga mengemuka dalam kegiatan ini. Usia ke-110 dinilai sebagai tonggak kematangan daerah dalam membangun kehidupan masyarakat yang majemuk namun tetap harmonis. Keberagaman yang dirawat dengan baik merupakan modal spiritual dan sosial yang paling berharga untuk menghadirkan kesejahteraan bersama.
Hal senada diperkuat oleh H. Achmad Fauzi yang hadir menyampaikan rasa syukur atas bertambahnya usia Kabupaten Sleman yang dinilai semakin matang dan mapan dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis. Menurutnya, kerukunan yang kokoh adalah fondasi utama dari sebuah kemajuan.
“Bertambahnya usia Kabupaten Sleman menunjukkan kematangan dan kemapanan dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis. Berbagai ekspresi syukur dari elemen masyarakat lintas agama menjadi bukti kuat bahwa komitmen menjaga kerukunan terus tumbuh dan menguat demi terwujudnya harmoni serta kesejahteraan bersama,” ungkap H. Achmad Fauzi.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sleman, Susmiyarta, turut menguraikan bahwa spirit gotong royong merupakan kunci utama pembangunan daerah. Menurutnya, tidak ada elemen yang berjalan sendiri dalam mewujudkan kemajuan.
“Semangat nggendong dan mikul mengajarkan kepada kita semua bahwa membangun Sleman harus dilakukan secara kolektif dengan rasa memiliki (prahita) serta kepedulian yang tinggi terhadap sesama,” tutur Susmiyarta.
Melalui getaran doa syukur yang dipusatkan di Pura Widya Dharma ini, diharapkan sinergi antara umat beragama, pemerintah, dan seluruh elemen masyarakat semakin kokoh. Masa depan Sleman yang harmonis, religius, aman, dan berdaya saing diyakini dapat terwujud melalui kolaborasi tanpa sekat, demi kebahagiaan seluruh makhluk (Sarve Bhavantu Sukhinah).