Pasuruan (Bimas Hindu) Memperkuat sradha tidak hanya dilakukan melalui pemahaman kitab suci dan persembahyangan rutin. Umat Hindu juga dapat menumbuhkannya melalui Dharma Yatra, yakni perjalanan ke tempat suci yang dimaknai sebagai sarana mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, memperluas pengalaman spiritual, dan menghayati persaudaraan sedharma.
Makna tersebut dirasakan 51 umat Hindu Desa Linggoasri, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan, saat melaksanakan Dharma Yatra ke Pura Luhur Poten Gunung Bromo dan Pura Tunggal Adi Sari di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, pada 23–24 Agustus 2026.
Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Pekalongan sekaligus Ketua Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Kabupaten Pekalongan, Kusnaeni, menjelaskan bahwa Dharma Yatra merupakan salah satu bagian dari Sad Dharma. Kegiatan ini tidak berhenti pada kunjungan ke tempat suci, tetapi harus mampu menghadirkan perubahan dalam cara umat memahami dan menjalankan ajaran agama.
“Dharma Yatra merupakan salah satu bagian Sad Dharma yang penting dilaksanakan umat Hindu. Kegiatan ini dapat meningkatkan sradha dan bhakti sebagai pemeluk Hindu,” ujar Kusnaeni.
Melalui Dharma Yatra, umat memperoleh ruang untuk menenangkan pikiran, melakukan introspeksi, dan memperkuat hubungan spiritual dengan Tuhan. Kesakralan tempat suci serta kekhusyukan persembahyangan menjadi sarana untuk mengingat kembali tujuan hidup beragama dan tanggung jawab dalam mengamalkan Dharma.
Persembahyangan di Pura Luhur Poten yang dipimpin Romo Dukun Tengger dan diiringi kidung Dewa Yadnya memberikan pengalaman spiritual bagi para peserta. Namun, esensi Dharma Yatra tidak hanya terletak pada tempat yang dikunjungi. Nilai utamanya terdapat pada kesungguhan umat untuk membawa semangat kesucian, pengendalian diri, dan kebajikan ke dalam kehidupan sehari-hari.
Dharma Yatra juga membuka ruang pembelajaran melalui perjumpaan dengan umat sedharma. Kehidupan masyarakat Hindu Tengger yang tetap teguh menjaga tradisi keagamaan menjadi inspirasi bagi umat Hindu Linggoasri untuk terus merawat keyakinan di tengah kondisi sosial yang berbeda.
Salah seorang sesepuh rombongan, Mbah Waris, mengungkapkan bahwa kebersamaan dengan umat Hindu Tengger menumbuhkan semangat dan kepercayaan diri umat Hindu Linggoasri yang hidup sebagai kelompok minoritas di Kabupaten Pekalongan.
“Berada di permukiman umat Hindu Tengger dengan jumlah umat yang begitu banyak membuat kepercayaan diri kami sebagai minoritas di Kabupaten Pekalongan semakin kuat. Kami menyadari bahwa kami tidak sendiri,” ungkap Mbah Waris.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa sradha dapat tumbuh melalui perenungan, persembahyangan, keteladanan, dan perjumpaan dengan sesama umat. Dengan demikian, Dharma Yatra bukan sekadar perjalanan menuju tempat suci, melainkan perjalanan batin untuk memperkuat keyakinan dan mendorong umat agar semakin konsisten mengamalkan nilai-nilai Dharma.