Gunungkidul (Bimas Hindu) — Semangat untuk terus belajar, berkarya, dan mencintai tanah air tumbuh subur mengiringi langkah anak-anak Pasraman Satya Dharma di wilayah Kaliwaru, Kampung, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul. Di tengah gegap gempita semarak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, sebanyak 25 anak pasraman turut ambil bagian menampilkan bakat mereka dalam pentas seni kemerdekaan di lingkungan Kampung Ngawen, Senin (24/8/2026).
Pasraman Satya Dharma yang dipimpin oleh Sutikno saat ini terus berkembang menjadi salah satu ruang pembinaan strategis bagi generasi muda Hindu. Pasraman ini tidak hanya berfokus pada pendidikan keagamaan semata, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam pelestarian seni dan budaya. Kegiatan pasraman dilaksanakan secara rutin setiap minggu dengan pendampingan intensif dari dua orang tenaga guru dan empat orang pembimbing.
Dalam proses pembelajarannya, para peserta didik tidak hanya dicekoki dengan teori keagamaan. Mereka dibekali dengan berbagai keterampilan seni dan budaya yang aplikatif, mulai dari tata cara melantunkan ayat suci (membaca sloka), berlatih seni tari tradisional, memainkan seni tabuh karawitan, hingga menyanyikan berbagai kidung keagamaan Hindu. Proses pembelajaran holistik tersebut menjadi sarana yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai kedisiplinan, rasa percaya diri, semangat kebersamaan, sekaligus memperdalam kecintaan terhadap kekayaan budaya Nusantara.
Partisipasi aktif dalam pentas seni peringatan kemerdekaan tahun ini menjadi momentum yang sangat penting bagi anak-anak Pasraman Satya Dharma. Mereka hadir bukan sekadar untuk tampil menghibur masyarakat luas, melainkan juga untuk menegaskan identitas mereka sebagai generasi muda yang mampu menunjukkan bahwa nilai-nilai keagamaan dapat berjalan harmonis dan beriringan dengan semangat kebangsaan.
Kehadiran anak-anak pasraman dalam kegiatan komunal masyarakat ini sekaligus memperlihatkan wajah umat Hindu yang senantiasa inklusif, guyub, dan siap berkontribusi dalam dinamika kehidupan sosial. Seni dan budaya terbukti mampu menjadi jembatan pelebur sekat yang mempererat tali persaudaraan serta membangun kebersamaan di tengah keberagaman masyarakat desa.
Ketua Pasraman Satya Dharma, Sutikno, menyampaikan bahwa keterlibatan anak-anak didiknya dalam puncak acara pentas seni kemerdekaan ini memiliki makna filosofis yang jauh lebih luas daripada sekadar pertunjukan di atas panggung.
"Dengan mengikuti puncak acara pentas seni kemerdekaan, kami sangat berharap anak-anak semakin tumbuh rasa kebersamaannya, mampu menghargai indahnya keberagaman, serta memiliki nyala semangat patriotisme dalam mengisi kemerdekaan. Melalui wadah pasraman ini, kami ingin menanamkan rasa cinta tanah air sekaligus menjaga nyala nilai-nilai agama, seni, dan budaya," ungkap Sutikno penuh bangga.
Ke depan, Pasraman Satya Dharma berkomitmen untuk terus berupaya menjadikan pendidikan keagamaan sebagai proses pembentukan karakter yang berkesinambungan. Melalui perpaduan pembelajaran Dharma, eksplorasi seni budaya, dan pelibatan sosial, anak-anak Hindu didorong untuk tumbuh menjadi generasi yang tangguh, berkarakter mulia, kreatif, toleran, serta memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap masa depan bangsa dan negara.
Dari sudut Kaliwaru, Gunungkidul, pesan kemerdekaan itu dirawat melalui langkah yang teramat sederhana: belajar Dharma, menjaga kelestarian budaya, berkarya bersama, dan mencintai Indonesia sepenuh jiwa.
Kontributor: Heni Purwanti