Mulat Sarira Hangrasa Wani, Penyuluh Hindu Klaten Ajak Umat Mawas Diri

Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Klaten Mantre Wayan Suparta menyampaikan dharma wacana bertema “Mulat Sarira Hangrasa Wani” kepada umat Hindu di Pura Lembu Rejo, Delanggu.

Klaten (Bimas Hindu) Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Klaten, Mantre Wayan Suparta, mengajak umat Hindu untuk berani melakukan introspeksi dan memperbaiki diri sebelum menilai kekurangan orang lain. Pesan tersebut disampaikan melalui dharma wacana dalam pembinaan umat Hindu di Pura Lembu Rejo, Kecamatan Delanggu, Rabu (12/8/2026).

Kegiatan tersebut dilaksanakan bertepatan dengan persembahyangan Tilem Karo dan diikuti sekitar 30 umat Hindu. Ketua PHDI Kecamatan Delanggu turut hadir dalam kegiatan yang menjadi bagian dari upaya memperkuat pemahaman keagamaan sekaligus membangun kesadaran umat untuk menjalankan kehidupan berdasarkan nilai-nilai Dharma.

Ketua PHDI Kecamatan Delanggu, Iriyanto, menyampaikan bahwa kegiatan persembahyangan diharapkan tidak hanya menjadi ruang untuk melaksanakan kewajiban keagamaan, tetapi juga menjadi kesempatan bagi umat untuk memperoleh wawasan keagamaan melalui pembinaan dan dialog.

“Setiap acara persembahyangan, penyuluh diharapkan memberikan dharma wacana untuk menambah wawasan umat Hindu yang berada di wilayah Delanggu, baik melalui penyampaian materi keagamaan maupun dialog bersama umat,” ujar Iriyanto.

Dalam kesempatan tersebut, Mantre Wayan Suparta mengangkat tema “Mulat Sarira Hangrasa Wani”. Melalui tema ini, umat diajak untuk berani melihat kembali pikiran, perkataan, dan perbuatan yang telah dilakukan.

Menurut Mantre Wayan Suparta, keberanian melakukan introspeksi penting agar umat tidak mudah melihat dan menghakimi kesalahan orang lain. Sebelum menilai orang lain, setiap pribadi perlu terlebih dahulu berani mengoreksi diri dan memperbaiki kekurangan yang dimiliki.

Pesan tersebut sejalan dengan ajaran dalam Sarasamuccaya Sloka 298 yang mengingatkan agar seseorang tidak menyalahkan keadaan ketika menghadapi kesulitan tanpa terlebih dahulu menyadari kesalahan yang berasal dari perbuatannya sendiri.

“Mulat Sarira Hangrasa Wani mengajarkan kita untuk berani melihat ke dalam diri, menyadari kekurangan, dan memperbaiki diri sebelum menilai orang lain,” ujar Mantre Wayan Suparta.

Mantre Wayan Suparta mengajak umat untuk membiasakan diri mengevaluasi pikiran, menjaga perkataan, dan memperbaiki perbuatan agar senantiasa berada di jalan Dharma.

“Sebelum kita mencari kesalahan orang lain, mari kita periksa terlebih dahulu diri kita sendiri. Kita evaluasi pikiran kita, kita jaga perkataan kita, dan kita perbaiki perbuatan kita agar selalu berada di jalan Dharma,” kata Suparta.

Selain itu, umat diingatkan agar tidak merasa paling benar dan mudah menghakimi orang lain. Setiap kesalahan hendaknya dipandang sebagai kesempatan untuk belajar, memperbaiki diri, dan meningkatkan kualitas kehidupan spiritual.

“Kita semua memiliki kekurangan dan pernah melakukan kesalahan. Karena itu, jangan merasa paling benar dan jangan mudah menghakimi orang lain. Jadikan setiap kesalahan sebagai kesempatan untuk belajar, memperbaiki diri, dan meningkatkan kualitas kehidupan spiritual kita,” tutur Suparta.

Lebih lanjut, Mantre Wayan Suparta menegaskan bahwa mulat sarira bukan berarti merendahkan diri, melainkan keberanian untuk jujur melihat diri sendiri. Kemampuan memperbaiki diri akan membantu seseorang menjadi lebih bijaksana dalam memahami dan menyikapi kekurangan orang lain.

“Mulat sarira bukan berarti kita merendahkan diri, tetapi kita berani jujur melihat diri sendiri. Ketika kita mampu memperbaiki diri, kita akan lebih bijaksana dalam memahami dan menyikapi kekurangan orang lain,” ujar Suparta.

Melalui pembinaan tersebut, umat Hindu di Delanggu diharapkan semakin memahami pentingnya mawas diri, menjaga keharmonisan dengan sesama, serta menjadikan ajaran Dharma sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Keberanian mengakui kekurangan dan memperbaiki kesalahan diharapkan mampu membangun kehidupan umat yang lebih harmonis, damai, dan berlandaskan Dharma.

Pesan tersebut kemudian diperkuat melalui ungkapan Jawa, “Ajining diri saka lathi, Ajining raga saka busana,” yang mengingatkan pentingnya menjaga ucapan dan perilaku dalam kehidupan.


Berita Daerah LAINNYA