Padukan Seni Tradisi dan Ekoteologi, Teruna-Teruni Bali Koga Pukau Publik Lampung

Pawai Budaya dalam rangka Festival Krakatau XXXV Provinsi Lampung Tahun 2026

Lampung Selatan (Bimas Hindu) — Semarak Pawai Budaya dalam rangka Festival Krakatau XXXV Provinsi Lampung Tahun 2026 terasa semakin meriah dengan keikutsertaan kontingen umat Hindu dari Kabupaten Lampung Selatan, Minggu (30/8/2026). Sebanyak 190 umat Hindu turut ambil bagian dalam perhelatan akbar ini, menjadikannya ruang strategis untuk memperkenalkan kekayaan seni sekaligus membawa pesan moral yang mendalam kepada publik.

Rombongan tampil memukau dengan menyajikan ragam unjuk seni budaya Hindu, mulai dari parade baleganjur, atraksi ogoh-ogoh, iring-iringan canang sari, barisan tokoh adat, hingga pementasan sendratari. Dari total rombongan tersebut, 70 di antaranya merupakan anggota Teruna-Teruni Bali Koga yang terdiri dari 25 penabuh baleganjur, 25 penggotong ogoh-ogoh, 10 teruni pembawa canang sari, serta 10 tokoh pemangku dan adat.

Puncak daya tarik kontingen ini terlihat saat Sendratari Teruna-Teruni Bali Koga dari Desa Sidoharjo, Kecamatan Way Panji, membawakan lakon bertema "Akupa'rakala". Tema ekoteologi ini mengangkat kisah epik tentang jelmaan penyu raksasa yang bangkit akibat keserakahan umat manusia. Dikemas melalui gerak tari teatrikal, Akupa'rakala menjadi cerita simbolik mengenai kemurkaan alam terhadap eksploitasi lingkungan. Sosok penyu menyimbolkan entitas kehidupan yang harus dilindungi, memberikan pesan tegas bahwa ketika manusia mengutamakan keserakahan, alam akan meresponsnya dengan ketidakseimbangan yang mengancam kehidupan itu sendiri.

Kebanggaan turut dirasakan oleh umat yang berpartisipasi langsung di lapangan. Salah seorang peserta pawai, Wayan Suadi, mengungkapkan bahwa momen ini menjadi kesempatan emas untuk membuktikan bahwa budaya Hindu sangat relevan dengan isu-isu kontemporer.

"Kami merasa bangga dapat ikut ambil bagian dalam Pawai Budaya Festival Krakatau. Bukan hanya membawa kemeriahan seni tradisi, tetapi kami juga ingin menyampaikan pesan teguran bahwa manusia harus menjaga alam. Melalui karya Akupa'rakala, kami berharap masyarakat dapat melihat bahwa budaya kita memiliki pesan kehidupan yang sangat dekat dengan kondisi bumi saat ini," ungkap Wayan Suadi.

Apresiasi tinggi juga disampaikan oleh Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Lampung Selatan, I Gusti Putu Rawan. Ia menilai pementasan ini adalah wujud nyata dari pendidikan moral lintas generasi.

"Pawai budaya ini menjadi ruang bagi umat Hindu untuk menunjukkan bahwa seni memiliki nilai edukasi dan spiritual. Akupa'rakala mengingatkan kita bahwa alam bukan sekadar tempat untuk dieksploitasi, melainkan bagian dari kehidupan yang harus dihormati. Generasi muda adalah kunci keberlanjutan ini. Ketika teruna-teruni mau berpanas-panasan menabuh baleganjur dan menggotong ogoh-ogoh, sesungguhnya mereka sedang merawat identitas sekaligus mempraktikkan ajaran harmoni," tegas I Gusti Putu Rawan.

Keikutsertaan umat Hindu Lampung Selatan dalam Festival Krakatau XXXV 2026 ini diharapkan semakin mempererat kebersamaan di tengah keberagaman Provinsi Lampung. Melalui pesan Akupa'rakala, umat diajak kembali pada kesadaran spiritual untuk senantiasa hidup selaras dengan alam semesta.

 

Kontributor: I Gusti Putu Rawan


Berita Daerah LAINNYA