Prodi Filsafat Hindu UHN Gelar Widya Samhita I; Filsafat Yoga Patañjali sebagai Solusi Akademik Menghadapi Krisis Kesehatan Mental dan Kesadaran Spiritual

Forum akademik Widya Samhita bertema "Filsafat Yoga Patañjali: Jalan Menuju Kesehatan Mental dan Kesadaran Spiritual"

Denpasar (BIMAS HINDU) – Meningkatnya kasus stres, kecemasan, depresi, burnout, krisis identitas, hingga menurunnya kualitas interaksi sosial akibat perkembangan teknologi digital menjadi tantangan nyata yang dihadapi masyarakat dewasa ini, khususnya generasi muda. Berbagai persoalan tersebut menunjukkan bahwa kesehatan mental tidak lagi dapat dipahami semata-mata sebagai isu psikologis, tetapi juga berkaitan erat dengan kualitas nilai, karakter, dan kesadaran spiritual manusia.

Berangkat dari kondisi tersebut, Program Studi Filsafat Hindu, Fakultas Brahma Widya, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar bekerja sama dengan Pusat Kajian Darsana menyelenggarakan forum akademik Widya Samhita bertema "Filsafat Yoga Patañjali: Jalan Menuju Kesehatan Mental dan Kesadaran Spiritual" pada Kamis, 23 Juli 2026, di Aula Lantai III Fakultas Brahma Widya.

Kegiatan ini menghadirkan I Gusti Putu Gede Widiana, S.Fil., M.A. dan Dr. Gede Endy Kumara Gupta, S.IP., M.Ag. sebagai narasumber, serta dimoderatori oleh Putu Eka Sura Adnyana. Forum ilmiah tersebut menjadi wadah diskusi antara akademisi, mahasiswa, dan pemerhati filsafat dalam mengkaji relevansi ajaran Yoga Patañjali terhadap berbagai persoalan sosial dan kesehatan mental yang berkembang di era modern.

Membuka kegiatan tersebut, Dekan Fakultas Brahma Widya UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Wastawa, M.A., menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral dan akademik untuk menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat. Menurutnya, filsafat Hindu tidak hanya dipelajari sebagai warisan intelektual, tetapi harus mampu dikontekstualisasikan menjadi landasan dalam membangun kehidupan yang lebih berkualitas.

Dalam sambutannya, Prof. Wastawa menyampaikan bahwa meningkatnya persoalan kesehatan mental merupakan tantangan multidimensional yang memerlukan pendekatan yang komprehensif.

"Perguruan tinggi tidak hanya bertugas menghasilkan lulusan, tetapi juga menghasilkan gagasan yang mampu menjawab persoalan masyarakat. Melalui Widya Samhita, Fakultas Brahma Widya mendorong lahirnya diskursus ilmiah yang mengaktualisasikan ajaran-ajaran filsafat Hindu agar tetap kontekstual dan memberikan manfaat nyata bagi kehidupan. Filsafat Yoga Patañjali mengajarkan pentingnya pengendalian pikiran, pembentukan karakter, dan keseimbangan spiritual sebagai fondasi membangun manusia yang sehat, bijaksana, dan berintegritas" Ujarnya.

Beliau juga mengapresiasi Program Studi Filsafat Hindu melalui Pusat Kajian Darsana dalam mengembangkan ruang-ruang akademik yang mendorong lahirnya penelitian, publikasi ilmiah, serta pengabdian kepada masyarakat yang berorientasi pada penyelesaian persoalan-persoalan aktual.

Progam Diskusi melalui Widya Samhita berangkat dari kenyataan bahwa masyarakat modern menghadapi tekanan yang semakin kompleks. Selain meningkatnya stres akibat tuntutan pekerjaan dan pendidikan, perkembangan teknologi informasi juga membawa tantangan baru berupa kecanduan media sosial, banjir informasi, menurunnya kemampuan refleksi diri, polarisasi sosial, serta melemahnya kualitas hubungan antarmanusia. Kondisi tersebut tidak jarang berujung pada kecemasan, kehilangan makna hidup, rendahnya kemampuan mengendalikan emosi, hingga berbagai bentuk gangguan kesehatan mental.

Dalam paparannya, para narasumber menjelaskan bahwa Yoga Sūtra Patañjali menawarkan kerangka filosofis yang masih sangat relevan dalam menjawab tantangan tersebut. Konsep yogaś citta-vṛtti-nirodhaḥ, yaitu pengendalian gejolak pikiran, dipandang sebagai fondasi utama dalam membangun kesehatan mental. Menurut perspektif Yoga, sumber penderitaan manusia tidak hanya berasal dari kondisi eksternal, tetapi juga dari pikiran yang tidak terkendali, keterikatan, egoisme, serta ketidakmampuan memahami hakikat diri.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa sistem Aṣṭāṅga Yoga yang terdiri atas Yama, Niyama, Āsana, Prāṇāyāma, Pratyāhāra, Dhāraṇā, Dhyāna, dan Samādhi merupakan suatu proses pembinaan manusia secara utuh. Delapan tahapan tersebut tidak hanya berkaitan dengan praktik yoga secara fisik, tetapi juga mencakup pembentukan etika, disiplin diri, pengelolaan emosi, konsentrasi, hingga pencapaian kesadaran spiritual. Dalam konteks masyarakat modern, nilai-nilai tersebut dinilai mampu memperkuat resiliensi individu dalam menghadapi tekanan kehidupan sekaligus membangun hubungan sosial yang lebih harmonis.

Sebagai Ketua Pusat Kajian Darsana, Dr. Gede Endy Kumara Gupta menegaskan bahwa pendekatan filsafat Hindu memiliki kontribusi penting dalam memperkaya upaya penguatan kesehatan mental di Indonesia.

"Kesehatan mental tidak cukup dipahami hanya sebagai persoalan medis atau psikologis. Manusia membutuhkan keseimbangan antara dimensi intelektual, emosional, moral, dan spiritual. Yoga Patañjali menawarkan paradigma yang utuh mengenai bagaimana manusia mengelola pikirannya, membangun karakter, serta mencapai kehidupan yang lebih bermakna. Inilah kontribusi filsafat Hindu yang tetap relevan untuk menjawab tantangan masyarakat kontemporer." ungkap Endy Kumara

Sementara itu, I Gusti Putu Gede Widiana menekankan bahwa pembelajaran filsafat Hindu di perguruan tinggi harus mampu menghasilkan solusi yang aplikatif bagi masyarakat.

"Filsafat bukan sekadar kajian konseptual di ruang kelas. Nilai-nilai Yoga Patañjali dapat menjadi dasar pengembangan pendidikan karakter, literasi kesehatan mental, dan budaya reflektif yang sangat dibutuhkan di tengah perubahan sosial yang begitu cepat. Ketika masyarakat mampu mengelola pikiran dan membangun kesadaran diri, kualitas kehidupan individu maupun sosial akan meningkat." Ungkap Gede Widiana

Melalui penyelenggaraan Widya Samhita I, Program Studi Filsafat Hindu melalui Pusat Kajian Darsana menegaskan komitmennya untuk menjadikan filsafat Hindu sebagai sumber solusi akademik terhadap berbagai persoalan masyarakat. Forum ini diharapkan tidak berhenti sebagai ruang diskusi, tetapi menjadi titik awal pengembangan penelitian interdisipliner, publikasi ilmiah, serta program pengabdian kepada masyarakat yang mengintegrasikan filsafat, kesehatan mental, dan penguatan spiritualitas.

Sebagai bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, Widya Samhita diharapkan mampu memperkuat budaya akademik yang responsif terhadap isu-isu strategis masyarakat. Melalui pengembangan pemikiran Yoga Patañjali secara ilmiah dan kontekstual, perguruan tinggi diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam membangun masyarakat Indonesia yang lebih sehat secara mental, berkarakter, memiliki ketahanan spiritual, serta mampu menghadapi dinamika kehidupan modern dengan kebijaksanaan dan keseimbangan


Berita Daerah LAINNYA