Upakara Bukan Tujuan Utama Yadnya, Pasraman Widya Dharma Ajarkan Makna di Balik Praktik

Siswa Pasraman Widya Dharma praktik membuat Upakara

Mesuji, Lampung (Bimas Hindu)  Pembelajaran Upakara di Pasraman Widya Dharma, Desa Gedung Ram, Kabupaten Mesuji, diarahkan tidak sekadar membuat peserta didik terampil menyiapkan sarana upacara. Anak-anak juga diajak memahami bahwa Upakara bukan tujuan utama Yadnya, melainkan sarana untuk menumbuhkan ketulusan, kesadaran, dan bhakti dalam melakukan persembahan.

Pendekatan tersebut diterapkan dalam pembelajaran pada Minggu (6/9/2026) bersama Ni Putu Murniasih. Peserta didik belajar melalui praktik agar ajaran agama tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi dapat dialami dan dimaknai secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pembelajaran, siswa dikenalkan pada perbedaan antara Yadnya dan Upakara. Yadnya dipahami sebagai persembahan suci yang dilandasi ketulusan, kesadaran, dan rasa bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Sementara Upakara merupakan sarana material yang mendukung pelaksanaan Yadnya.

Karena itu, kemampuan membuat Upakara tidak cukup hanya diukur dari bentuk dan keindahannya. Peserta didik juga perlu memahami makna spiritual yang terkandung di balik sarana tersebut.

“Anak-anak perlu memahami bahwa Upakara bukan hanya tentang bentuk dan keindahan. Yang lebih utama adalah memahami untuk apa sarana itu dibuat dan nilai Yadnya apa yang terkandung di dalamnya. Ketika mereka membuat Upakara dengan penuh ketelitian dan ketulusan, sesungguhnya mereka sedang belajar mempraktikkan nilai Yadnya,” ujar Ni Putu Murniasih.

Praktik tersebut sekaligus menjadi media pendidikan karakter. Dalam proses membuat sarana Upakara, siswa belajar bekerja secara teratur, mengikuti tahapan, menjaga kebersihan, melatih kesabaran, bekerja sama, serta menghargai bahan yang digunakan. Nilai-nilai tersebut juga dikaitkan dengan Tri Kaya Parisudha, yakni menjaga kesucian pikiran, perkataan, dan perbuatan.

Pembelajaran kemudian diperluas pada pemahaman Panca Yadnya, yakni Dewa Yadnya, Rsi Yadnya, Pitra Yadnya, Manusa Yadnya, dan Bhuta Yadnya. Melalui pemahaman tersebut, siswa diajak melihat bahwa semangat Yadnya tidak hanya diwujudkan melalui upacara keagamaan, tetapi juga dalam tindakan sederhana sehari-hari.

“Yadnya seharusnya tidak berhenti ketika upacara selesai. Semangat Yadnya harus dibawa ke dalam kehidupan. Anak-anak dapat memulainya dari hal sederhana, seperti membantu orang tua, menghormati guru, menjaga kebersihan, dan belajar dengan sungguh-sungguh,” jelas Ni Putu.

Dengan pendekatan tersebut, pendidikan Upakara tidak hanya berorientasi pada pewarisan keterampilan tradisional, tetapi juga membantu generasi muda memahami filosofi dan nilai keagamaan yang menyertainya.

“Kita ingin anak-anak tidak hanya bisa membuat Upakara, tetapi juga memahami nilai yang ada di baliknya. Keterampilan tangan harus berjalan bersama dengan pemahaman spiritual. Dengan demikian, mereka tumbuh bukan hanya menjadi generasi yang terampil, tetapi juga memiliki Sradha, Bhakti, dan karakter yang baik,” ungkap Ni Putu.

Melalui pembelajaran berbasis praktik, Pasraman Widya Dharma menempatkan pasraman bukan sekadar sebagai ruang memperoleh pengetahuan agama, tetapi juga tempat membangun karakter, memperkuat Sradha dan Bhakti, serta memastikan tradisi keagamaan diwariskan bersama pemahaman maknanya, bukan hanya bentuknya.


Berita Daerah LAINNYA