Karanganyar (Bimas Hindu) — Upacara Manusa Yadnya berupa Metatah (potong gigi) massal yang diselenggarakan oleh Panitia Karya lan Piodalan Pura Parhyangan Sapta Pandita lan Petilasan Kyayi Ageng Pemacekan berlangsung dengan sangat khidmat. Bertempat di wantilan pura yang berlokasi di Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, kegiatan sakral ini diikuti oleh 38 peserta dari berbagai daerah di wilayah Jawa Tengah, pada Sabtu (29/8/2026).
Kegiatan penyucian diri ini merupakan bagian integral dari rangkaian upacara besar Karya Memungkah, Ngeteg Linggih, lan Pedudusan. Prosesi upacara dipuput langsung oleh Sulinggih Ida Mpu Jaya Ananda Yoga. Sejak pukul 06.00 WIB, para peserta telah berkumpul dan mengikuti seluruh tahapan kegiatan dengan penuh ketulusan dalam balutan suasana religius yang kental.
Secara tata laksana, pelaksanaan metatah diawali dengan prosesi Menek Teruna/Bajang yang dilaksanakan secara bersama-sama sebagai penanda kedisiplinan dan simbol transisi memasuki masa kedewasaan. Setelah itu, peserta mengikuti prosesi inti pengikiran gigi yang dibagi ke dalam enam sesi untuk setiap kelompok peserta. Rangkaian ini kemudian ditutup dengan prosesi Mejaya-jaya secara komunal sebagai bentuk permohonan anugerah dan keselamatan ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Koordinator kegiatan, Jro Mangku Nyoman Arwita, menjelaskan bahwa upacara metatah memiliki makna filosofis yang sangat dalam, jauh melampaui sekadar proses pengikiran gigi secara fisik. Menurutnya, ritual tersebut merupakan manifestasi penyucian diri sekaligus pengendalian enam sifat buruk manusia yang dalam ajaran Hindu dikenal dengan istilah Sad Ripu.
"Pada prosesi metatah, yang dikikir adalah enam gigi bagian depan rahang atas. Pengikiran ini dilakukan sebagai simbol pengendalian Sad Ripu, yakni kama (hawa nafsu), lobha (keserakahan), krodha (amarah), mada (keangkuhan), moha (kebingungan pikiran), serta matsarya (iri hati). Melalui upacara ini, seseorang diharapkan mampu menekan sifat-sifat tersebut sehingga dapat memasuki tahap kedewasaan dengan sikap yang lebih bijaksana dan bertanggung jawab sesuai ajaran kebenaran atau dharma," urai Jro Mangku Nyoman Arwita menjelaskan makna di balik ritual.
Ia menambahkan, metatah merupakan salah satu fase Manusa Yadnya yang esensial karena melambangkan perjalanan spiritual manusia untuk terus memperbaiki diri, mengendalikan perilaku, serta membangun keseimbangan yang harmonis antara pikiran, perkataan, dan perbuatan.
Sebagai bentuk kepedulian sosial dan pelayanan umat, kegiatan metatah massal ini diselenggarakan secara purna dan gratis, tanpa memungut biaya apa pun dari para peserta. Program mulia ini menuai apresiasi tinggi dari masyarakat luas karena telah memfasilitasi umat Hindu, khususnya generasi muda, untuk dapat melaksanakan salah satu kewajiban upacara penting dalam kehidupannya dengan lebih terjangkau, namun tetap berpegang teguh pada tuntunan sastra agama.
Melalui terselenggaranya kegiatan ini, panitia menaruh harapan besar agar nilai-nilai spiritual yang terkandung dalam upacara metatah tidak hanya berhenti sebagai ritual formalitas, tetapi benar-benar dipahami dan diterapkan dalam etika kehidupan sehari-hari. Selain sebagai langkah pelestarian tradisi, upacara ini telah menjelma menjadi ruang pembinaan karakter generasi muda agar kelak tumbuh menjadi pribadi yang matang, tangguh, dan berlandaskan ajaran dharma.
Kontributor: NILUH DEWI AYU LESTARI, S.I.P.