Sleman (Bimas Hindu DIY) Merawat kerukunan tidak selalu harus dimulai melalui forum formal. Bagi anak-anak, nilai toleransi justru dapat tumbuh dari hal sederhana: saling mengenal, bermain bersama, bekerja sama, dan berteman tanpa menjadikan perbedaan agama sebagai sekat.
Semangat tersebut terlihat dalam Temu Remaja Lintas Iman 2026 yang digelar di Griya Krido Manunggal, Gadingan, Sleman, Sabtu (29/8/2026). Kegiatan bertema “Merajut Persaudaraan dalam Semangat Kemerdekaan” mempertemukan siswa SD dan SMP dari berbagai latar belakang agama di Daerah Istimewa Yogyakarta. Bimas Hindu turut mengikutsertakan 10 siswa SD dan SMP yang didampingi PIC Pendidikan Bimas Hindu dan Guru Agama Hindu.
Kegiatan dikemas secara interaktif melalui perkenalan lintas kelompok, sharing tentang persaudaraan dalam keberagaman, permainan kolaboratif, hingga challenge kebangsaan bernuansa peringatan kemerdekaan.Berbeda dengan perlombaan pada umumnya, permainan tidak dirancang sebagai kompetisi antaragama. Anak-anak justru ditempatkan dalam ruang bersama untuk belajar berkomunikasi, bekerja sama, menjunjung sportivitas, serta membangun kepedulian satu sama lain.
PIC Pendidikan Bimas Hindu, Riyanta, menilai pengalaman semacam ini penting untuk memperkenalkan nilai persaudaraan dan persatuan kepada generasi muda melalui praktik langsung.
“Melalui kebersamaan, permainan, dan kerja sama, para remaja belajar bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk bersahabat, bergotong royong, dan bersama-sama menjaga keutuhan bangsa,” ungkap Riyanta.
Menurut Riyanta, perjumpaan lintas iman juga dapat mempererat persahabatan sekaligus menumbuhkan penghargaan terhadap keberagaman, nasionalisme, kerja sama, dan kepedulian sosial.
“Perbedaan justru merupakan kekuatan untuk membangun kebersamaan dan persaudaraan,” tambah Riyanta.
Guru Agama Hindu, Siwi Swandari, yang turut mendampingi peserta, melihat kegiatan lintas iman memberi kesempatan kepada anak-anak untuk mengenal keberagaman agama sejak dini.
“Kegiatan ini bagus untuk generasi muda agar saling menghargai perbedaan dan anak-anak dapat mengenal berbagai agama,” tutur Siwi.
Semangat yang sama disampaikan Ketua Tim Pelayanan Pendampingan Iman Remaja Paroki Keluarga Kudus Banteng Yogyakarta, F. Nova Calista. Menurut Nova, pertemuan tersebut bukan sekadar ruang berkenalan, tetapi kesempatan membangun persahabatan dan memperkuat persaudaraan di tengah keberagaman.
“Semoga melalui kegiatan ini, hubungan antarremaja lintas iman semakin erat, tumbuh sikap saling menghormati, serta terbangun kerja sama dalam berbagai kegiatan positif demi terciptanya kerukunan dan kebersamaan,” ujar Nova.
Para peserta kemudian mengikuti Deklarasi Persaudaraan Remaja sebagai bagian dari rangkaian kegiatan.
Romo Supriyatno MSF menegaskan bahwa perbedaan iman seharusnya tidak menjadi penghalang dalam membangun kehidupan bersama.
“Perbedaan iman dan keyakinan hendaknya tidak menjadi sekat, tetapi menjadi jembatan untuk saling memahami, menghormati, dan membangun kehidupan bersama yang damai,” ungkap Romo Supriyatno.
Ketua Bidang Pewartaan dan Evangelisasi, Stefanus Martono, berharap pengalaman tersebut tidak berhenti setelah kegiatan selesai. Semangat persaudaraan diharapkan dibawa para peserta ke keluarga, sekolah, tempat ibadah, hingga lingkungan masyarakat.
Temu Remaja Lintas Iman 2026 menunjukkan bahwa pendidikan kerukunan dapat ditanamkan sejak dini melalui pengalaman yang dekat dengan kehidupan anak-anak. Dari permainan, percakapan, hingga kerja sama sederhana, anak-anak belajar bahwa berbeda keyakinan tidak menghalangi mereka untuk berteman dan berjalan bersama.
Dari ruang-ruang perjumpaan seperti inilah generasi yang menghargai kebinekaan dan mampu menjaga kerukunan Indonesia dapat mulai bertumbuh.
Kontributor : Heni Purwanti