Kupang (Bimas Hindu) – Penyuluh Agama Hindu Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), I Gusti Ayu Sukarmiasih, mengajak umat Hindu membangun kebiasaan bersyukur, menghargai diri sendiri, dan menjalani kehidupan sesuai dharma. Pesan tersebut disampaikan dalam renungan bertema “Syukuri Diri, Bahagiakan Hati” melalui siaran Mutiara Pagi Agama Hindu Pro 1 RRI Kupang, Rabu (12/08/2026).
Dalam renungan tersebut, I Gusti Ayu Sukarmiasih mengingatkan bahwa kehidupan merupakan anugerah yang patut diterima dan disyukuri. Setiap manusia memiliki kondisi, kemampuan, jalan hidup, serta tantangan yang berbeda sehingga membandingkan diri dengan orang lain justru dapat mengurangi rasa syukur.
“Tidak semua orang lahir dengan keadaan yang sama, tidak semua orang menerima jalan hidup yang sama, dan tidak semua orang melalui ujian yang sama,” ungkap I Gusti Ayu Sukarmiasih.
Menurutnya, kebahagiaan tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya harta, pencapaian, jabatan, maupun pengakuan dari orang lain. Kebahagiaan juga sangat dipengaruhi oleh cara seseorang memandang kehidupan, menghargai dirinya, dan menjalankan dharma dalam keseharian.
Pesan tersebut sejalan dengan ajaran Bhagavad Gita VI.5, yang mengajarkan pentingnya mengangkat dan membangun diri sendiri. Diri seseorang dapat menjadi sahabat maupun musuh bagi dirinya sendiri, bergantung pada bagaimana ia mengelola pikiran, sikap, dan tindakannya.
Karena itu, rasa syukur perlu dibangun sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Bersyukur tidak harus menunggu datangnya keberhasilan besar. Kesehatan, keluarga, pekerjaan, kesempatan belajar, serta peluang untuk memperbaiki diri merupakan bagian dari kehidupan yang layak dihargai.
I Gusti Ayu Sukarmiasih juga mengajak umat mengubah cara memaknai keberhasilan. Keberhasilan tidak hanya diukur berdasarkan materi dan pencapaian duniawi, tetapi juga melalui kemampuan seseorang menjalani kehidupan dengan semakin dekat pada kebenaran, kebajikan, dan keseimbangan.
Hal tersebut berkaitan dengan ajaran Bhagavad Gita II.47 mengenai kewajiban untuk melaksanakan tugas dan berusaha dengan sungguh-sungguh tanpa terikat pada hasil. Dengan demikian, seseorang dapat memusatkan perhatian pada proses, tanggung jawab, dan kualitas tindakannya.
“Jangan ukur diri dengan bayangan orang lain. Ukurlah diri dengan kemajuan kita sendiri hari demi hari,” pesannya.
Melalui renungan tersebut, umat Hindu diajak menerima dan menghargai diri, mengurangi rasa iri, serta menjadikan rasa syukur sebagai bagian dari kehidupan. Sikap tersebut diharapkan membantu setiap individu menjalani kehidupan dengan lebih tenang dan tidak mudah merasa kurang hanya karena melihat pencapaian orang lain.
Pada akhirnya, kebahagiaan tidak selalu harus dicari jauh di luar diri. Dengan menjalankan dharma, menerima proses kehidupan, dan mensyukuri setiap kesempatan yang dimiliki, seseorang dapat membangun ketenangan dan kebahagiaan dari dalam dirinya.
“Syukuri diri kita hari ini, perbaiki diri untuk hari esok, dan bahagiakan hati dengan selalu menanamkan rasa syukur,” tutup I Gusti Ayu Sukarmiasih.
Kontributor : I Made Juni Saputra