Tanamkan Dharma dari Rumah, Ibu-Ibu Pesantian Didorong Jadi Pilar Keharmonisan Keluarga

Pembinaan keagamaan bagi kelompok ibu-ibu Pesantian di Tiyuh Tirta Makmur

Tulang Bawang Barat (Bimas Hindu) — Dalam upaya memperkuat fondasi spiritual umat dari unit terkecil di masyarakat, Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Tulang Bawang Barat melaksanakan pembinaan keagamaan bagi kelompok ibu-ibu Pesantian di Tiyuh Tirta Makmur, Rabu (19/8/2026). Kegiatan pembinaan yang berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan semangat kekeluargaan ini mengangkat tema besar mengenai "Keharmonisan Keluarga dan Menanam Dharma dari Rumah".

Melalui tema tersebut, umat diajak untuk merefleksikan kembali bahwa kasih dan kehadiran Sang Pencipta sesungguhnya senantiasa dekat dengan denyut kehidupan manusia. Kasih Tuhan tersebut dapat dirasakan dan diwujudkan melalui doa yang tulus, kebersamaan, rasa syukur, ketulusan dalam melayani keluarga, serta berbagai perbuatan bajik dalam keseharian.

Dalam pemaparannya, Penyuluh Agama Hindu, Eko Sriwulan, mengajak para ibu-ibu Pesantian untuk tidak menjadikan tingginya rutinitas kesibukan dan berbagai persoalan kehidupan sebagai alasan untuk merenggangkan hubungan dalam keluarga. Menurutnya, kehidupan rumah tangga dan dinamika sosial justru merupakan ruang praktik yang paling luas untuk mengamalkan ajaran Dharma.

"Kasih Tuhan tidak pernah berjarak dengan kita. Ketika hati kita tulus berdoa, bersyukur, melayani keluarga, serta berbuat baik kepada sesama, sesungguhnya kita sedang menghadirkan langsung kasih Tuhan dalam kehidupan sehari-hari," jelas Eko Sriwulan.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa seorang ibu memegang peranan yang sangat esensial dalam membangun atmosfer spiritual di dalam rumah. Dari sosok ibulah, nilai-nilai agama, etika susila, kasih sayang, dan kebiasaan baik dapat ditanamkan kepada anak-anak sejak usia dini. Oleh karena itu, kegiatan Pesantian hendaknya tidak lagi dimaknai sebatas tempat berkumpul dan melantunkan kidung suci keagamaan, melainkan harus bertransformasi menjadi ruang belajar, wadah berbagi pengalaman, serta sarana memperkuat Sradha (keyakinan) dan Bhakti (pengabdian).

"Ibu bukan hanya menjadi fondasi penguat bangunan keluarga, tetapi juga menjadi sumber pertama pendidikan Dharma bagi anak-anak. Ketika seorang ibu membiasakan doa, berkata baik, berpikir positif, dan melakukan Subhakarma (perbuatan baik), nilai-nilai itu akan tumbuh dan menjadi teladan. Jangan menunggu menjadi sempurna untuk berbuat baik. Mulailah dari hal-hal kecil di rumah, karena Dharma yang dilakukan dengan tulus akan menjadi cahaya penerang bagi keluarga dan lingkungan sekitar," terangnya memotivasi.

Eko Sriwulan juga mengingatkan bahwa kehidupan spiritual tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk kegiatan ritual keagamaan berskala besar. Hal-hal sederhana namun konsisten, seperti mengucapkan kata-kata yang menyejukkan, menghormati pasangan, mendidik anak dengan penuh kelembutan, serta sigap membantu tetangga, adalah bentuk pengamalan Dharma yang sejati. Ketika keluarga dihadapkan pada sebuah ujian permasalahan, ia berpesan agar umat tidak lekas mengeluh, melainkan menjadikannya sebagai sarana introspeksi untuk menggali pelajaran apa yang sedang Tuhan titipkan di balik ujian tersebut.

Sepanjang kegiatan, suasana pembinaan berlangsung sangat interaktif. Ibu-ibu Pesantian diberikan ruang seluas-luasnya untuk berdiskusi, mencurahkan isi hati, dan berbagi pengalaman nyata mengenai cara menjaga keseimbangan antara kewajiban mengurus rumah tangga dan kehidupan spiritual.

Melalui sentuhan pembinaan humanis ini, Kemenag Tulang Bawang Barat berharap kelompok Pesantian Tiyuh Tirta Makmur semakin menyadari bahwa keharmonisan keluarga selalu bermula dari setiap doa dan pelayanan tulus di dalam rumah. Kehadiran penyuluh di tengah masyarakat ini menjadi wujud nyata komitmen pemerintah dalam mendampingi umat untuk mencetak generasi Hindu yang harmonis, religius, dan tangguh secara spiritual.

 

Kontributor: Eko Sriwulan


Berita Daerah LAINNYA